Rabu, 14 Desember 2011

dari warteg menuju salon kecantikan

0komentar

Semua bermula pagi ini, saat saya mencari sarapan. Yah, biasalah namanya juga mahasiswa, jadi makan secukupnya, sekenyangnya, dan semurahnya, dan yang penting enak. Kebetulan, uang di dompet sangat pas-pasan, maka sarapan pagi ini saya makan di warteg, lumayan minuman pun gratis. Hhehe

Menu sarapan yang saya pilih pagi ini adalah nasi, kerang, telor dadar, dan perkedel kentang. Hehe jangan ditiru ya, ini contoh menu yang cukup buruk, sama sekali saya gak pilih sayur. Biasanya juga langsung dijewer ibu di rumah :p

Namun memang, yang namanya inspirasi pasti Allah sisipkan dimana-mana, asalkan kita mencarinya. Kebetulan, saya ke warteg lupa membawa buku bacaan saya, sehingga saya makan sambil bengong, sambil merenung, sambil bertafakkur.

Kembali teringat bahwa apa yang saya makan adalah hewan, yang dimana tubuhnya tersusun dari protein, sebagian besarnya. Hampir semua hewan penyusun tubuhnya adalah protein, sehingga saat saya memakan hewani, itu pun akan menyumbang untuk proses pembentukan tubuh kita.

Tak bisa dipungkiri bahwa secara material, manusia dan hewan tersusun dari zat yang sama, yaitu protein. Wajah kita, tangan kita, kaki kita, semuanya tersusun sebagian besar dari protein. Organ-organ daleman kita pun semua tersusun dari protein, sehingga kualitas kesehatan kita memang sangat dipengaruhi dari apa yang kita makan.

Oh iya, saya mau sedikit koreksi pernyataan saya di atas barusan. Sebetulnya, tubuh makhluk hidup sebagian besar bukan tersusun dari protein, namun air. Hal ini jugalah yang membuat saya merenungi tentang air minum yang saya minum pagi tadi. Kualitas air minum mempengaruhi kualitas tubuh manusia. Begitu juga dengan makhluk hidup lainnya yang sangat memerlukan air untuk hidup.

Intinya, secara material, manusia dan hewan itu sama. Karena itu secara taksonomi, manusia dimasukkan ke kerajaan binatang, alias kingdom mamalia.

Apa artinya? Artinya, yang membedakan manusia dan makhluk lainnya adalah kualitas kejiwaannya. Semakin baik kualitas kejiwaannya maka semakin tinggi pula derajat manusia di mataNya.

Mungkin boleh dibilang bahwa, dalam konteks mencari dan menjemput pasangan hidup, memang akan jauh lebih baik apabila yang dipantau adalah kecantikan jiwanya. Bagaimana mengukurnya? Entahlah, saya bukan yang ahli dalam bidang ini.

Apalah arti dari kecantikan dan kegantengan luar? Memang penting, namun bilamana ini menjadi suatu faktor utama, yah kita bisa tarik kesimpulan bersama. Tak bisa dipungkiri bahwa penilaian kita akan sesuatu terbatas dari panca indera kita. Hanya dari mata yang seluas kurang lebih 5 cm, seolah kita telah mampu melihat seisi dunia. Hanya dari telinga yang ukurannya tidak sampai sejengkal, kita merasa telah mampu mendengar bermacam kenyataan. Yah, panca indera memang merupakan keterbatasan.

Kembali ke konteks protein, bahwa perempuan secantik apapun atau pria terganteng sedunia pun pada dasarnya ‘hanyalah’ onggokan protein dan air. There’s nothing special in it. Secara fisik, tiada beda antara manusia dan hewan. Dalam pandanganku, penilaian manusia yang hanya berdasar dari luar saja memang kurang menghargai manusia sebenar-benarnya. Karena yang membedakan manusia dan hewan adalah kualitas jiwanya.

Terutama dalam konteks mencari pasangan, karena memang kualitas jiwa seseorang memiliki batasan serta kekurangan tersendiri, rasanya akan jauh lebih baik ‘menseleksi’ sesuai dengan kualitas jiwanya. Kualitas jiwa pasanganku yang kelak melengkapi kualitas jiwaku, serta kualitas jiwaku yang melengkapi kualitas jiwa pasanganku kelak, dan rumahku kan menjadi salon kecantikan jiwa bagi para penghuni di dalamnya...

Kamis, 01 Desember 2011

Mengikat Makna: Hari AIDS Sedunia

0komentar

1 Desember, telah dicanangkan oleh dunia sebagai hari AIDS sedunia. Peringatan ini semata untuk senantiasa mengingatkan serta menumbuhkan kesadaran terhadap wabah AIDS yang penyebarannya sudah sangat luas menggegas secara ganas di seluruh pelosok bumi.

Dalam Koran yang kubaca pagi ini pun, penyakit AIDS ini telah meranggah kepada ibu-ibu rumah tangga, bahkan di Jawa Barat, sekitar 9.79 % IRT mengidap penyakit ini.AIDS ini penyebarannya sangat luas, bisa dari jarum suntik, transfuse darah, bahkan ibu hamil bisa menularkan AIDS pada anak yang dikandungnya, sehingga memang BELUM TENTU bahwa penderita AIDS adalah seorang yang senang untuk bermain kelamin.dan kelamin.

AIDS merupakan sebuah akronim dari Acquired Immune Deficiency Syndrome, sebuah penyakit di mana sistem imun (atau tentara dalam tubuh kita) kita jadi mandul, alias kemampuannya berkurang. Mengingat fungsi sistem imun dalam tubuh kita untuk memberikan PENJAGAAN dari serangan-serangan luar seperti bakteri atau virus. Tak hanya itu, sisem imun kita pun memberikan PENJAGAAN dari pemberontakan yang terjadi dari dalam tubuh kita sendiri, yang apabila pemberontakan itu terjadi, timbullah sebuah penyakit yang kit kenal sebagai kanker. Maka, penderita AIDS tentulah akan sangat rentan terhadap bermacam penyakit seperti infeksi atau kanker.

Apa sih yang menyebabkan penyakit AIDS ini? Tak lain dan tak bukan adalah sebuah barang yang tak terlihat saking kecilnya, yaitu virus. Virus penyebab AIDS inilah yang dinamakan HIV (Human Immunodeficiency Virus). Ukurannya sangat imuuuut sekali. Bilamana kita mampu melihat bentuk sel darah merah kita, maka virus ini sekita 60 kali lipat lebih kecil dari sel darah merah kita. Bayangkan, betapa kecilnya biang kerok dari penyakit yang membuat geger dunia ini.

Ternyata, kejahatan sekecil apapun memiliki dampak yang mampu mengglobal. Mungkin, dalam kasus seks bebas misal, timbul sebuah pikiran seperti ‘semau gue dong!! Apa urusan lo??’. Ternyata, dampaknya pun mengglobal seperti ini. Bahkan, kejahatan kecil seperti yang telah dilakukan si virus ini membuat dunia memasuki kondisi ‘waspada’. Ternyata, tindakan sekecil ini kan senantiasa beresonansi sampai ke ranah global.

Namun berarti sebaliknya pun memungkinkan, kebaikan sekecil apapun tentulah akan memiliki dampak yang menyeluruh. Maka, apabila dunia sedang geger karena virus ‘pemandul’ imunitas, maka siapkah kita untuk bersama menjadi virus ‘penggiat’ imunitas? J

Dari makhluk kecil ini pun ternyata aku belajar tentang tiada gunanya kesombongan. Betapa tidak, kita yang senantiasa ‘besar’ seperti ini ternyata takluk kepada sebuah makhluk yang bahkan lebih kecil dari nyamuk. Sekali tepuk, matilah nyamuk. Namun, kita manusia kalah dari makhluk yang hanya sekecil ini. Maka memang, sejatinya tiadalah tempat bagi kesombongan untuk senantiasa hinggap.

Siapa yang tahu kalau sekarang kita merasa sehat-sehat saja namun, saking kecilnya HIV, tubuh ini ‘dirasuki’ tanpa sadar olehnya? Siapa yang tahu bahwa mungkin sekeliling kita sedang terkepung oleh makhluk kecil ini? Ketakutan ini senantiasa mengepung diri ini, namun ternyata akan jauh lebih baik apabila kita senantiasa berserah kepada kekuatan Yang Maha Besar yang senantiasa menyelimuti diri ini. J

Selamat hari AIDS sedunia..

-Bukti cinta bukanlah malam mingguan, namun pernikahan- J

Selasa, 29 November 2011

behind the scene: 'The Miracle of Death'

0komentar

Akhir-akhir, saya memang mencetak sebuah produk training baru yang berjudul ‘The Miracle of Death’. Banyak respon memang, dimulai dari respon ‘iiiiih, sereem amaat’, ‘apaan sih maksud lo?’, ‘hmm, menarik!!’, dan masih banyak lagi respon yang bagaikan pelangi, bermacam warnanya.

Terlepas dari bermacam respon di atas, saya pun senantiasa merenung tentang banyak hal, terutama tentang sebuah kepantasan. Seringkali sebua pertanyaan terlintas di kepala saya ‘kamu memang sudah sehebat apa sampai mampu untuk membawa training ‘seberat’ ini?’

Memang, saya belajar banyak dari sekeliling saya tentang integritas, yaitu bagaimana kita senantiasa selaras tindakan, ucapan, dan pikiran. Karena itu, ‘haram’ hukumnya bila saya tidak melakukan apa yang saya sampaikan. Jujur saja, sebagai manusia biasa, saya sendiri takut akan kematian. Takut akan ‘sensasi’ kematian yang sepertinya pedih tak terperi.

Hal ini membuat saya sempat galau selama dua minggu. Selama dua minggu, saya senantiasa menangis ria di kosan, saat saya mengingat mati. Bayangkan saja, saya takut akan mati. Hanya saja, saat saya belajar tentang kematian sel dalam dunia perkuliahan saya, saya semakin tercengang dan semakin tersentuh hati saya, karena ternyata tubuh kita senantiasa mati sepanjang hari.

Saya seram membayangkan bahwa usia darah merah hanya sekitar 120 hari, it means, setelah 120 hari, darah akan mati dalam pembuluh darah kita. Sehingga, kematian telah ada dalam pembuluh darah saya.

Saya ngeri membayangkan bahwa tulang kita ternyata tersusun lebih banyak berupa benda mati sehingga tulang mampu kokoh sekeras yang kita rasakan sekarang. Ternyata, tulang kokoh karena kematian…

Saya ngeri membayangkan bahwa sistem imun dalam tubuh kita senantiasa mati saat bertempur melawan serangan-serangan bakteri dari luar, dan ‘mayatnya’ pun bkan dibuang dari dalam tubuh kita..

Semakin banyak kurenungi, semakin merasa bahwa sebetulnya kematian sudah sangat dekat dengan diri ini. Bahkan, mau saya kabur kemanapun, saya kan senantiasa membawa tubuh yang dimana banyak sekali terdapat kematian yang tersimpan di dalamnya.

Lantas saya berpikir, selama ini saya senantiasa menempatkan ‘kematian’ sebagai ‘pelaku kejahatan’. Apakah iya bahwa kematian sama sekali tidak memiliki kebaikan sama sekali di dalamnya?

Saya tercengang dengan sebuah fakta bahwa tubuh kita senantiasa beregenerasi setiap waktu. Misalkan kulit. Herannya, kenapa kulit kita tidak senantiasa setebal kulit badak? Jawabnya satu, karena adanya penyeimbang regenerasi sel, yaitu KEMATIAN.

Tanpa adanya kematian, ternyata terjadilah sebuah penyakit yang dinamakan kanker, yang bisa sahabat simak kembali simaknya di sini. Semakin menangislah diriku bahwa ternyata betapa bodohnya diri ini, betapa piciknya melihat kematian sebagai ‘kejahatan’. Ternyata, kematian merupakan sahabat yang dirindukan.

Dengan mengingat kematian pun, saya merasakan bahwa tidak boleh terjadi waktu yang terbuang sia-sia. Dengan ingat mati, saya harus senantiasa mempersembahkan karya terbaik pada-Nya setiap waktu, dan harus senantiasa bergegas, tanpa pertimbangan panjang lagi untuk senantiasa berbuat baik. Intinya, di sini saya belajar bagaimana caranya menjadi distributor kebaikan.

Betapa piciknya diri ini memandang kematian. Betapa zalimnya pikiranku akan kematian. Ternyata, mengingat kematian kan senantiasa melejitkan kehidupan. Karena itu, aku semakin tersentuh saat melihat sebuah hadis berikut ini…

‘Aku tinggalkan kamu di atas jalan yang terang, dan aku tinggalkan untukmu dua juru nasihat, yang berbicara dan yang diam.

Penasihat berbicara ialah Al-Quran dan yang diam ialah Maut.

Apabila kamu menghadapi persoalan-persoalan yang musykil, maka kembalilah kepada Al-Quran dan Sunnah

Dan apabila hatimu kesat-kusut, maka tuntunlah dia dengan mengambil iktibar tentang peristiwa-peristiwa kematian’

Entahlah, karena hal ini, diri ini senantiasa mendapatkan panggilan untuk senantiasa menyebar tentang kematian. Semoga akan banyak pribadi-pribadi yang akan melejit karena mengingat kematian ini. Banyak pribadi-pribadi yang memberikan manfaat lebih terhadap sekitar.Banyak yang kan senantiasa berbuat yang terbaik di dunia ini, karena siapa tahu saya kan meninggal sedetik, sejam, atau se-siapa yang tahu. Semoga, kematian senantiasa berada dalam khusnul khatimah, mati dalam keadaan berbuat baik, mati dalam kondisi ibadah semurni-murninya karena-Nya. Aamiin

Bagi sahabat yang senantiasa ingin mengadakan training ini, sahabat bisa kontak sahabat perjuangan saya:

Nama FB: Regiasa Gardhika

Twitter: @regiasagardhika

no hp: 083821659590




Be A Lucky Person

0komentar

Menjadi orang yang beruntung. Siapa sih yang gak mau jadi orang yang beruntung?

Bahkan adik mentoring-ku pun pernah berujar bahwa ‘beruntung itu segalanya. Bahkan kepintaran setinggi gimana pun, tetap tak mampu mengalahkan keberuntungan. Saya pengen banget kang jadi orang yang senantiasa beruntung’.

Tentu rasanya nikmat apabila kita menjadi orang yang senantiasa beruntung setiap waktu. Mungkin gak ya menjadi orang yang senantiasa beruntung? Apakah ada langkah untuk menjadi orang yang senantiasa beruntung?

Ternyata, menjadi orang yang beruntung itu mudah karena kberuntungan itu memiliki rumusan tersendiri, yang dimana apabila kita senantiasa aplikasikan rumus ini, maka insya Allah kita senantiasa menjadi orang yang beruntung.

Keberuntungan adalah ketika dimana persiapan bertemu dengan kesempatan

Ya, untuk menjadi orang yang beruntung, kita senantiasa memerlukan persiapan. Untuk beruntung dalam hal akademis, tentulah persiapan belajar serta persiapan nyali pun perlu dimatangkan. Bagaimana mungkin mampu menjadi pribadi yang beruntung dalam bisnis apabila sama sekali tidak menyiapkan mental BERANI? Bagaimana mungkin membentuk keluarga yang beruntung bila persiapan untuk menikah saja masih MENANTI? Bagaimana mungkin akan ada lucky chance untuk berduet bersama penulis terkenal apabila persiapan untuk menulis pun belum disiapkan?

Maka, jadilah orang beruntung, persiapkan diri dari sekarang, dan pekalah terhadap bermacam kesempatan yang lalu lalang dalam kehidupan sehari-hari.

QS Al-Baqarah: 5

y7Í´¯»s9'ré& 4n?tã Wèd `ÏiB öNÎgÎn/§ ( y7Í´¯»s9'ré&ur ãNèd šcqßsÎ=øÿßJø9$# ÇÎÈ

mereka Itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung.

Jumat, 28 Oktober 2011

Si Unik

4komentar

Sudah merupakan hal yang lumrah bahwa mahasiswa FK tentunya ingin menjadi dokter, yang konon sebuah profesi yang masa depannya sudah terjamin, meskipun perlu dibayar mahal dengan biaya operasional pendidikan yang cukup tinggi serta waktu pendidikan yang tergolong lama. Atau bahkan memang semenjak kecil telah menjadi cita-cita mulianya. Hmm, betapa luar biasa ya profesi dokter ini, namun sayang, secara pribadi saya tidak berminat menjadi dokter meskipun sekarang saya adalah mahasiswa FK.

Loh, terus kamu mau jadi apa?

Kira-kira, itulah pertanyaan yang terlontar dari rekan bicaraku saat saya bilang apabila saya tidak mau menjadi dokter. Sebetulnya ada banyak alasan yang membuatku tak berminat untuk menjadi dokter, meskipun alasan utamanya adalah satu: bukan canun banget!

Dalam pandangan pribadiku, pendidikan memang merupakan salah satu bentuk standarisasi kemampuan seseorang. Dalam kasus pendidikan kedokteran, ini adalah standarisasi seseorang untuk menjadi dokter. Namun, saya agak menyayangkan apabila pendidikan membuat semua menjadi dokter ‘tok’. Justru kebalikannya, saya berpikir bahwa pendidikan seharusnya menjadi fasilitas yang memperkuat karakter seseorang. Sehingga, saya tidak mau menjadi seorang dokter, saya adalah seorang Ikhsanun Kamil Pratama, seorang Canun, sang Pencari Makna Kebaikan yang Sempurna. Ilmu-ilmu kedokteran yang telah saya pelajari selama ini justru semakin memperkuat karakter saya sebagai ‘Pencari Makna Kebaikan Yang Sempurna’. Hasil karya saya, yang bisa teman-teman nikmati dalam bentuk tulisan, buku (insya Allah), dan dalam training-training saya, sangat kental dengan nuansa hikmah dan inspirasi yang bias kita ambil dari peristiwa-peristiwa normal yang berada dalam tubuh kita. Bila anda melihat-lihat konten dari blog ini, tentulah anda bias merasakan bahwa saya memang ‘anomali’ seperti ini. Bisa dibilang, yang canun banget adalah ‘share and care’.

Alasan selanjutnya memang karena kerja dokter itu bukan canun banget. Dalam arti seperti ini. Memang, tugas kerja dokter secara teoritis ada 4, yaitu preventif alias pencegahan, promotif kesehatan alias peningkatan kesehatan, kuratif alias penyembuhan dari yang sakit, serta rehabilitative. Namun, dalam pandangan saya, kerja dokter hanya berkutat pada kuratif dan rehabilitatif. Dengan kata lain, banyak sekali kerja dokter yang saya lihat di lapangan hanya menunggu orang sakit.

Jujur secara pribadi, saya tidak mau ayah/ibu atau orang yang saya sayangi di sekitar saya sakit. Saya ingin bahwa orang sekitar saya senantiasa sehat. Maka, salah satu mimpi saya adalah membangun rumah sehat, dengan asumsi bahwa apabila rumah sakit itu banyak yang sakit kemudian ingin sembuh, maka rumah sehat adalah dimana orang-orang sehat yang tak ingin sakit. Ingin sekali saya mendirikan ini, sehingga fokus kerjaku adalah promotif dan preventif.

Apakah hal ini mungkin dilakukan? Saya melihat sebuah sosok yang luar biasa, sosok yang bahkan semasa hidupnya pun tak pernah sakit, beliau terserang sakit hanya saat mautnya telah mendekat. Selain itu, Ia senantiasa sehat wal’afiat. Tahukah engkau siapa sosok itu? Beliau adalah Muhammad SAW.

Luar biasa kan beliau mampu melakukan hidup sehat anti-sakit. Berarti hal ini memang mungkin untuk dilakukan, saya pengen banget melakukan perihal seperti ini. Bener-bener canun banget: share and care.

Berarti profesi saya apa ya? Hehe saya sendiri pun tidak tahu term-nya apa. Yang pasti, saya adalah mahasiswa FK unik yang tidak mau jadi dokter. Memang sih ‘melanggar’ mainstream. Namun apa salahnya saya ingin menjalani hidup ini berbeda dari orang kebanyakan? Bukankah, sidik jari masing-masing manusia tercipta berbeda? Bahkan, bukankah DNA anak kembar identik pun ternyata tidak sama susunannya? Masing-masing jiwa tercipta memang hanya ada satu-satunya di dunia. Untuk apa saya distandarisasi ‘tok’ menjadi hanya seorang dokter?

Maka, bila ditanya, kamu ingin menjadi apa?

Saya adalah seorang Ikhsanun Kamil Pratama yang berperan sebagai pencari makna kebaikan yang sempurna. Belajar dan berbagi mengisi peran di dunia sebagai seorang trainer kesehatan dan penulis. Dan saya ingin sekali membuat Rumah Sehat dan mencetak 1.000.000 orang preventor di Indonesia.

Lebih baik jadi diri sendiri toh? Karena, menjadi orang lain jatahnya sudah ada yang ambil J


Bagaimana dengan dirimu? J

Selasa, 11 Oktober 2011

Gelar

3komentar

Apa makna gelar bagimu?

Ikhsanun Kamil Pratama, CH, CHt, CI, C.NLP

Saat ini, inilah namaku lengkap dengan gelar yang diakui secara nasional dan internasional. Dan bahkan mungkin dalam beberapa waktu ke depan, akan bertambah dengan gelar S.Ked, karena lulus dari fakultas kedokteran Unpad. Bahkan, tambahan gelar dr pun mungkin akan kudapatkan bila diri ini lulus dari program ko-ass.

Jujur saja, aku tak ada niatan untuk menjadi seorang dokter. Meskipun memang secara teoritis, dokter bertugas di empat bidang,yaitu promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif. Namun sejauh yang saya lihat selama ini, dokter kerjanya menunggu orang sakit. Hal ini membuatku muak dengan dunia satu ini. Bahkan sempat terlintas dan sangat kuat niatanku untuk tidak mengambil ko-ass. Sehingga no wonder apabila banyak sekali yang bilang padaku untuk mengambil ko-ass dengan asumsi bahwa ‘S.Ked mah gak bisa apa-apa’.

Apa makna gelar bagimu?

Jujur, diri ini sama sekali tak tergoda oleh kemilau gelar ‘dokter’ yang diagung-agungkan kebanyakan masyarakat Indonesia sekalipun, sehingga mengambil ko-ass yang bertujuan hanya untuk mengambil gelar ‘dokter’ tuh ‘gak gue banget’.

Apa ya makna sebuah gelar?

Jujur saja, saya juga sempat takjub dan gemilau dengan gelar CH, CHt, CI yang saya dapatkan. Namun setelah mendapatkannya, seorang ‘Canun’ seolah menjadi ‘tenggelam’ karena gelar. Banyak orang yang lebih mengenaliku karena gelar yang kusandang, bukan karena namaku sendiri. Bukan karena ini adalah seorang ‘Canun’. Bilamana selama ini diri ini dikenal sebagai ‘calon dokter, hipnoterapis, penulis, trainer yang bernama Canun’, ingin sekali diri ini jauh lebih dikenal sebagai ‘Canun yang berperan sebagai hipnoterapis, penulis, trainer, dan dokter’. Intinya, diri ini tak ingin tenggelam dalam kolam gelar. Namun gelar hanyalah salahsatu fasilitas bagiku.

Namun, di sisi lain, diri ini merasa sangat bahagia dan senang saat melihat kakak kelas di kedokteran yangbegitu bahagia mendapatkan gelar S.Ked dengan lulus cum laude, berarti nilainya begitu memuaskan, sehingga membuatku berpikir dan bertekad bahwa

Saya, Ikhsanun Kamil Pratama, ingin sekali mendapatkan gelar ‘alm’ dengan lulus cum laude dalam fakultas kehidupan ini’

Ya, kelak saya pun akan mendapatkan sebuah gelar ‘alm’. Saya pun ingin bahagia seperti, atau bahkan lebih, kakak kelas saya. Bagaimana caranya saya mampu mendapatkan gelar ‘alm’ dan lulus cum laude dalam kehidupan ini? Dengan mencari makna sejati kebaikan yang sempurna, mengisi hidup ini dengan kebaikan tersebut, dan menyebarkannya seluas-luasnya selama jantungku masih berdetak.

Bagaimana denganmu?

Ikhsanun Kamil Pratama

Sang Pencari Makna Kebaikan Yang Sempurna

Minggu, 25 September 2011

kematian itu....

0komentar

Kematian, apakah suatu hal yang perlu ditakutkan?


Tak terkecuali diriku, yang sungguh sampai sekarang sangat takut akan yang namanya kematian. Entah apa yang berada di baliknya. Entah kesakitan seperti apa yang dialami orang yang mengalami kesakitan. Seolah seluruh tubuh ini ingin sekali menolak yang namanya kematian. ingin sekali hidup sampai beribu tahun lamanya. ya, memang hal yang lumrah.


Namun, ternyata ada satu peristiwa yang cukup menampar hati ini tentang kematian. Ini sebuah kisah tentang sebuah penyakit, yang sangat lumrah terjadi dalam kehidupan modern belakangan ini. Yang ternyata, hikmahnya begitu dalam dan begitu menyentuh palung hati. Penyakit yang biasa kita dengar sebagai kanker.


Ada apa gerangan dengan penyakit kanker?


Sel kanker merupakan sel yang sangat unik bin menarik untuk kita pelajari dan ambil hikmah bersama. Sel kanker merupakan sel yang sangat tamak, atau bisa dibilang sel ini merupakan sel yang ingin hidup abadi. Yang dimana ia tidak ingin mati, ia ingin mendapatkan nutrisi yang tiada berbatas. Dan tentu saja sel ini sangat ingin menghindari kematian sel yang ada dua jenisnya, yaitu nekrosis maupun apoptosis.

Kalau kita lihat orang yang telah mengidap penyakit kanker, tentunya sangat menderita sekali.Ada pertumbuhan yang sangat berlebih di tubuhnya.Ada pertumbuhan yang sangat ganas di suatu organ.Misal kanker payudara, maka sel-sel penyusun payudara tumbuh sangat berlebihan, sehingga timbullah benjolan yang sangat berbeda.

Apa yang terjadi dengan selnya?



Pada umumnya, ada beberapa kelas gen yang mengontrol pertumbuhan sel, yaitu proto-oncogen, DNA supressor gene, DNA repair gene, dan apoptotic gene. Yang dimana tentunya masing-masing dari gen ini memiliki fungsi tersendiri.

Proto-oncogen merupakan ‘gas’ dari pertumbuhan. Jadi fungsi dari gen ini untuk menggiatkan sel untuk senantiasa tumbuh. Dan apabila proto-oncogen adalah ‘gas’ pertumbuhan, maka DNA supressor gene merupakan ‘rem’ dari pertumbuhan. Yang men-stop pertumbuhan sel agar tidak berlebihan.

Sedangkan DNA Repair gene, sesuai namanya,merupakan jenis gen yang berfungsi sebagai tukang reparasi. Apabila terdapat salah satu gen yang perlu perbaikan, maka direparasilah oleh gen ini. Dan apoptotic gene merupakan gen yang menggiatkan selnya untuk senantiasa berapoptosis.

Kanker akan terjadi apabila minimal 2 dari 4 kelas ini mengalami ‘kelainan’. Misal, apabila remnya blong dan yang memperbaikinya pun tiada, maka terjadilah pertumbuhan yang tidak terkendali.

Apabila telah terjadi kanker, sel ini betul-betul menjadi sel yang serakah. Ia betul-betul ingin hidup abadi dan betul-betul menginginkan seluruh nutrisi (bisa dibilang nutrisi sebagai ‘uang’ bagi sel) hanya untuk dirinya sendiri.. Sebutlah sel payudara yang mengalami kanker, sel ini akan mulai membentuk pembuluh darah (angiogenesis) yang khusus hanya bagi dirinya sendiri, sehingga darah yang membawa nutrisi akan langsung menuju dirinya sendiri. Semacam by pass, jalur khusus yang sengaja ia ciptakan untuk membajak nutrisi.

Apa dampaknya? Mungkin anda pernah melihat orang yang mengidap kanker dalam jangka waktu yang cukup lama akan mengalami penurunan berat badan secara drastis, menjadi betul-betul kurus kering bagai tulang berbalut kulit. Kondisi inilah yang dinamakan cachexia.Semua ini dikarenakan adanya nutrisi yang dirampok sehingga nutrisi yang didapat tidak menyebar secara merata.Inilah dampak dari ketamakan.

Dan menariknya lagi, sel ini betul-betul menghindari apoptosis melalui bermacam mekanisme selulernya, ia betul-betul berusaha sebisa mungkin untuk menghindari kematian yang senantiasa mendekati dia sepanjang waktu. Sel kanker merupakan bukti nyata bahwa sel ini adalah sebuah sel yang memang betul-betul menginginkan keabadian dalam hidupnya. Tanpa menyadari bahwa kematian pastilah kan mendekatinya selama ia masih berstatus ‘hidup’.

Apakah berarti, kematian memiliki nilai tambah di matamu??

Selasa, 16 Agustus 2011

Tentang Keinginan

0komentar
Adakah hal yang sekarang sedang anda inginkan apapun itu?

Tentu saja sebagai manusia normal, kita memiliki sesuatu yang bernama KEINGINAN, apapun bentuknya. Entah hal-hal yang bersifat materi atau non-materi. Apapun itu.

'Aduuh saya ingin rumah baru'
'Waaw, laptop itu canggih. saya sangat menginginkannya!!'
'Saya hanya ingin hidup tenang'
'saya hanya ingin semakin dekat dengan Tuhan'

dan lain-lain, begitu banyak keinginan yang kita dambakan.

Saking banyaknya keinginan yang kita inginkan, bahkan cukup banyak Training dan buku-buku tentang Life Plan mengusulkan tentang 'Tulislah apa yang menjadi keinginanmu', 'buatlah Dream Book' dan apapun itu. Bahkan SERING SEKALI training motivasi memberikan cara-cara untuk AFIRMASI, cara-cara untuk memperkuat apa-apa yang kita inginkan.

Bahkan, saking fenomenalnya tentang afirmasi ini, ada sebuah 'mekanisme' yang cukup beken akhir-akhir ini, yaitu tentang Law of Attraction. Apabila kita memikirkan sesuatu, semakin kuat apa yang kita pikirkan, semakin tertarik dan semakin dekat pula ia dengan kita. Kurang lebih seperti itu konsepnya.

Memang konsep ini alangkah luar biasa ajaib bin menarik, seolah apa yang kita inginkan pasti akan sampai kepada kita. Hanya saja, ini menurut pandangan saya bahwa

hidup adalah amanah.
keinginan berarti.. meminta amanah..
pemberian berarti dipercayakan amanah.


Ya, apa-apa yang hinggap dalam hidup ini hanyalah sebuah titipan, sebuah amanah.
Ingin memiliki rumah, maka ada amanah untuk senantiasa menjaga lingkungan sekitar rumahmu...
ingin menjadi seorang penulis, maka tulislah hal-hal yang berkualitas, karena bahan kertas adalah pohon yang terbatas jumlahnya....
ingin memiliki banyak gelar dalam hidup, maka silakan pantaskan diri gelar-gelar yang diterima tersebut dengan TINDAKAN NYATA
ingin lebih dekat dengan Tuhan, maka sudah menjadi tanggung jawab bahwa sang diri pun perlu berusaha untuk mendekatkan orang sekitarnya dengan-Nya


Ya, maka keinginan tak hanya sekedar 'SAYA INGIN', namun adalah sebuah amanah. untuk apa materi/non-materi yang diinginkan..

karena

hidup adalah amanah.
keinginan berarti meminta amanah..
pemberian berarti dipercayakan amanah..
Dan jalankan amanah sebaik mungkin adalah ibadah.. :)

...ayoo buat yang senantiasa afirmasi, sebetulnya yang kita afirmasikan adalah AMANAH.
take AMANAH with RESPONSIBILITY,
n GREAT POWER comes with GREAT RESPONSIBILITY :)

Minggu, 26 Juni 2011

Rahman

0komentar

Wahai kekasih,,

Tak salah Tuhan titipkan ‘rasa’ ini dalam hatiku padamu,,

Engkau curahkan sifat rahman-mu padaku,,

Mencairkan kebencian dalam hati,,

Dan menyentuh kalbuku dengan lembutnya,,

Membuatku tersadar,,

Betapa Maha Rahman Allah, yang telah menitipkan sebagian kecil sifat rahman-Nya padamu

Sehingga ku tak sanggup membayangkan, seberapa Rahman Allah…

Ya Allah Ya Rahman

Sungguh, aku cinta kamu karena Allah

Karena kau telah mendekatkanku pada-Nya

Ya Allah, muliakanlah ia kelak di sisi-Mu selalu



(sepotong cinta dari rumah Allah)

26 Juni 2011

Rabu, 22 Juni 2011

Perfeksionis is Bullshit

0komentar

Seringkali kita menunggu kesempurnaan untuk melakukan sesuatu….

Padahal kesempurnaan kan didapat apabila kita MELAKUKAN terlebih dahulu....

Sungguh, kejadian ini yang kualami dulu, tepatnya pada awal tahun 2010. Saat saya dan teman-teman saya memutuskan untuk membentuk sebuah lembaga training.

Apa yang kami lakukan saat itu? Bingung mencari-cari konsep tentang kemana lembaga ini harus dibawa, bagaimana dengan pergi ke notaris, bagaimana dengan SWOT dari masing-masing kita, dan seterusnya. Saat itu, saya begitu dipusingkan dengan yang namanya 'kesempurnaan lembaga'.

Apa dampaknya dari kejadian itu? Ya, saya menganggur selama 1 tahun. Bayangkan kawan, 1 TAHUN!! 1 tahun saya hanya duduk termenung tidak melakukan apa-apa.

Sampai pada awal tahun 2011, pada acara Youth Empowerment Congress yang digelar oleh tim kang Harri n d'geng, saya banyak bertanya-tanya kepada kang Harri, bertemu dengan kang Surya. Dan ternyata, menjadi trainer sangat mudah. Guess what?

Ya, keberanian untuk TERJUN terlebih dahulu. Ternyata caranya sangat mudah. Pada awal tahun 2011, saya bersama teman-teman saya langsung saja beraksi untuk membuka sebuah public training.Padahal, hal-hal yang semula kupertanyakan pada awal tahun 2010 BELUM ADA SAMA SEKALI. Saya pribadi baru mengajak teman-teman saya dan berkata 'eh, tanggal X event pertama kita ya'. Belum terbentuk visi misi lembaga, belum melakukan analisa SWOT SDM. Yang pasti apa yang saya lakukan adalah TERJUN terlebih dahulu.

Layaknya saya yang dulu belajar untuk berenang. Apa yang terjadi kalau saya harus menunggu asupan teori tentang cara belajar yang renang seperti apa, tentang bagaimana cara perenang tingkat dunia berenang, lalu menunggu saya harus bisa berenang dulu baru berenang? Ternyata memang, saya harus NYEMPLUNG terlebih dahulu. Memang pada awalnya saya pasti tenggelam, namun justru bukankah dengan tenggelam kita menjadi belajar dan menjadi pribadi yang lebih baik lagi? Ya, saat belajar berenang ini, saya menjadi seorang yang PROGRESIONIS, yang senantiasa memperbaiki diri dan menjadi lebih baik lagi.

Karena itulah, menurut saya PERFEKSIONIS merupakan kualitas TERENDAH dalam kehidupan, karena ia harus menunggu semua sempurna, seperti diri saya pada awal tahun 2010. Lantas apa yang didapat? KOSONG. Dengan menjadi seorang PROGRESIONIS, saya belajar nyata dari apa yang saya alami. Saya mendapatkan hasil walaupun bernilai 1, yang dimana pada kemudian hari saya tingkatkan menjadi 2, karena sebuah evaluasi tentunya. Sebuah evaluasi secara terus-menerus yang insya Allah kan didapat nilai 100, walau saya yakin bahwa kesempurnaan hanya milik Allah SWT semata.


Jadi perfeksionis?? No Way!!

Progresionis?? It's my Way!!



'Lebih baik membersihkan toilet umum daripada berwacana setinggi langit'

-Ikhsanun Kamil Pratama, CH, CHt, CI-

Brain Booster of Primordia

Trainer special berbasis medis

specialized in human empowerment, health, and education

National Certified Hypnotist, Hypnotherapist, and Instructor

Selasa, 21 Juni 2011

Tukang Parkir

0komentar

Hei, engkau tahu? Ternyata saya sangat mengagumi sebuah profesi yang tidak asing lagi kita. Sebuah profesi yang sering kita lihat sering berada di pinggir jalan. Ya, profesi itu adalah sang tukang parkir.

Tentu pekerjaannya setiap hari adalah menjaga mobil yang menumpang di daerah ‘jajahannya’. Tergantung seberapa luas jajahannya, tentu saja mobil yang dititipkannya pun akan semakin banyak. Dan mobil yang dititipkan pun bervariasi. Ada yang biasa saja bahkan mungkin bisa sampai yang berharga milyaran, mobil yang sangat mewah.

Kemudian, setelah itu tentulah sang pengemudi akan kembali mengaqmbil mobil miliknya, dan sebagai apresiasi kepada sang tukang parkir, diberikanlah upah dari usahanya menjaga mobil.

Mungkin sekilas kita melihat bahwa kerja sang tukang parkir hanya ‘begitu’ saja. There’s nothing special. Namun ternyata, dibalik kesederhanaan kerjanya, saya menemukan sebuah kebijaksanaan yang rumit, sebuah kebaikan yang luar biasa halusnya. Profesi tukang parkir membuat saya menjadikan profesi ini sebagai cita-cita. Ya, saya ingin menjadi tukang parkir, tukang parkir kehidupan!!

Lihatlah bagaimana indahnya tukang parkir bekerja. Segala yang datang hanyalah titipan. Mobil-mobil berharga 30 juta-an sampai yang paling mewah sekali pun, ternyata itu hanyalah tumpangan bagi sang tukang parkir, yang tentu saja bisa kapan saja diambil kembali oleh sang pengemudi. Pada kasus ini, sang tukang parkir pun tak pernah mengaku-aku bahwa mobil yang menumpang di jajahannya adalah miliknya. Namun, ia sadar sepenuhnya bahwa semua mobil yang menumpang hanyalah titipan.

Saking sadarnya akan titipan, ia pun betul-betul menjaga mobil yang berada di jajahannya. Takkan ia biarkan dileceti orang lain atau dirinya sendiri. Takkan ia biarkan si mobil terdzalimi oleh pihak manapun, termasuk dirinya sendiri.

Begitu pun dengan hidup kita. Ternyata kita pun adalah seorang tukang parkir. Begitu banyak ‘mobil’ yang parkir di daerah kita. Mulai dari organ tubuh kita sampai menuju sel-selnya, orang-orang yang kita cintai, dari apa yang kita konsumsi, apa yang kita gunakan, apa yang kita beli, ternyata semuanya hanyalah ‘mobil’ yang parkir dalam kehidupan kita. Yang dimana, tentunya Sang Pengemudi bisa mengambilnya kapan pun.

Entahlah, kita takkan tahu kapan Sang Pengemudi mengambil ‘mobil’ yang ‘parkir’ di kehidupan kita. Sampai kapan kita masih mampu merasakan tangan kita bergerak, kaki kita, ginjal kita, bahkan mungkin jantung kita, kita takkan tahu sampai kapan.

Orang-orang yang berada di sekitar kita, kita pun takkan tahu kapan Sang Pengemudi akan kembali mengambilnya. Begitu pula dengan harta, makanan, dan apapun yang semua hanya parkir dalam hidup kita. Kita takkan tahu.

Lantas bagaimana dengan kita?

Apakah iya, tubuhmu adalah milikmu? Sehingga engkau dengan santai merusak dan merusak tubuhmu sendiri dengan gaya hidup yang kurang menyehatkan?

Apakah iya, orang yang kau cinta adalah milikmu? Sehingga engkau layak menjadi orang yang demikian posesif?

Apakah iya, harta yang kau dapatkan adalah milikmu? Sehingga engkau mampu menggunakannya sesukamu, memanjakan nafsumu?

Karena hal inilah, saya sangat ingin menjadi seorang tukang parkir kehidupan. Apa-apa yang dititipkan, ingin kujaga sebaiknya. Dan memang saya harus siap kapan mobil-mobil kehidupanku diambil kembali oleh Sang Pengemudi. Biarlah kelak Sang Pengemudi memberikan upah yang sepantasnya kelak, saat mobil-mobil kehidupanku mulai pergi dari area jajahanku J



Rabu, 01 Juni 2011

Integritas

0komentar
'dokter kok sakit? makannya kok begitu? tidak mencerminkan hidup sehat!!'
said my mom Yatie Holizain waktu sy makannya masih 'amburadul'

'Cara untuk menyentuh hati adalah dengan menyampaikan apa-apa yang SUDAH dilakukan', said my bro Harri Firmansyah R

ditag notes 'Antara Lidah, Perkataan, dan Perbuatan' ama kang Surya Kresnanda


hhe ternyata, integritas adalah never-ending learning buatku :)

bagaimana berintegritas sebagai seorang muslim yang senantiasa bersyahadat
bagaimana berintegritas sebagai seorang pemuda yang memiliki banyak impian
bagaimana berintegritas sebagai seorang trainer yang mengajarkan apa yang telah dilakukan
bagaimana berintegritas sebagai seorang dokter yang senantiasa mengajak untuk hidup sehat


Yang penting adalah berintegritas.

Walk the talk and Talk The Walk

Jalankan apa yang diucapkan dan ucapkan apa yang telah dijalankan :)
Bukankah ini adalah tantangan untuk mendapatkan ridha-Nya? :)

Selasa, 24 Mei 2011

I Am Legend!!

0komentar

Bagaimana dirimu memandang dirimu sendiri?

Sebetulnya hari ini saya sekedar iseng melakukan web-walking, dan ada beberapa web yang cukup menarik perhatian saya, yang ternyata jawaban dari pertanyaan di atas saya dapatkan dari beberapa web di bawah ini, seperti

http://unic77.info/10-mouse-termahal-di-dunia.html

http://terselubung.blogspot.com/2010/11/20-jam-tangan-termahal-di-dunia.html

Di mana satu hal yang menjadi ketertarikan saya adalah bahwa link-link di atas menunjukkan tentang barang-barang termahal di dunia. Bahkan secara pribadi, saya sendiri cukup ‘aneh’ dan terkadang bertanya-tanya, ‘memang ada ya yang mau beli? Saya mah ogah’. Yaah mungkin karena kesehajaan penulis, atau karena penulis dibiasakan hidup sederhanalah yang membentuk pemikiran demikian.

Namun ternyata, timbul sebuah pertanyaan dalam benak saya, yang sekiranya ingin saya bagikan kepada anda semua. Kira-kira menurut anda, apa saja yang dapat menyebabkan sesuatu menjadi termahal di dunia?

Mungkin karena bahannya? Atau mungkin karena jumlah produk pembuatannya? Atau mungkin karena proses pembuatannya? Mungkin ada beberapa hal lain yang dapat menyebabkan kemahalan harga tersebut. Yang menjadikan jam atau mouse tersebut sangat layak dihargai sedemikian.

Lantas, bagaimana anda menghargai diri anda sendiri?

Dirimu adalah satu-satunya di dunia ini. Bahkan orang yang kembar identik sekalipun memiliki pola sidik jari yang jauh berbeda, lebih jauh lagi, DNA orang yang kembar identik sekalipun polanya tidak sama. Masing-masing dari pribadi memiliki keunikan tersendiri.

Dan bahkan pengalaman yang dialami masing-masing orang tentulah berbeda. Yang menjadikan seorang A menjadi seorang A. Pengalamanlah yang menjadikan seorang B menjadi seorang B. Pengalaman pun yang menjadikan diri ini menjadi pribadi yang tak ternilai harganya.

Bagaimana dengan proses pembentukan dirimu?

Prosesnya sangat rumit. Bahkan banyak mahasiswa kedokteran yang cukup puyeng dibuatnya karena mempelajari proses pembuatan manusia, atau ilmu embriologi. Bayangkan saja, sekiranya proses yang serumit apa yang mampu mengubah pertemuan sperma dan ovum menjadi seorang manusia? Kalau anda tak mampu membayangkannya, sebetulnya itu adalah sebuah bukti keluarbiasaan prosesnya, sehingga belum mampu untuk ditiru oleh siapa pun di muka bumi ini. Karena itu, sebetulnya kita adalah sebuah mahakarya yang tiada duanya.


Maka, bagaimana engkau memandang dirimu sendiri? Dirimu yang ternyata sangat berharga dan tiada duanya?




Selasa, 17 Mei 2011

sehat dengan senyum

0komentar

Pernahkah engkau bertemu orang yang masih asing bagimu? Di mana, sebutlah orang asing tersebut sebetulnya sedang murung, dan lantas secara tidak sadar kemurungan tersebut bisa engkau rasakan. Pernahkah mengalami kejadian demikian?

Kejadian seperti ini sebetulnya sangat unik bin menarik. Mengapa peristiwa ini bisa terjadi, percaya gak percaya, karena ada satu mekanisme luar biasa yang terjadi dalam otak kita, yaitu mekanisme mirror neuron.

Mekanisme dahsyat seperti apa ini? Yang pasti, mekanisme ini merupakan bukti nyata bahwa manusia adalah makhluk sosial. Mekanisme ini merupakan mekanisme yang sangat mudah untuk dimengerti, terutama bila engkau sedikit mengetahui prinsip kerja luar biasa otak kita.

Layaknya sebuah ruang yang di dalamnya berseliweran kabel ke sana kemari. Itulah otak kita. Otak kita memiliki kabel, yang disebut neuron, yang berseliweran, yang dimana kabel itu senantiasa mengalir listrik di dalamnya. Tentu saja kabel-kabel tersebut memiliki sirkuit-sirkuit yang khusus di dalam otak. Misalkan, ada kabel yang menjulur dari daerah di balik dahi menuju kepala bagian belakang, itu adalah sirkuit otak untuk melihat. Yang menjadi konsep utamanya adalah, banyak terdapat sirkuit pada otak kita.


Layaknya sebuah ruang yang di dalamnya berseliweran kabel ke sana kemari. Itulah otak kita. Otak kita memiliki kabel, yang disebut neuron, yang berseliweran, yang dimana kabel itu senantiasa mengalir listrik di dalamnya. Tentu saja kabel-kabel tersebut memiliki sirkuit-sirkuit yang khusus di dalam otak. Misalkan, ada kabel yang menjulur dari daerah di balik dahi menuju kepala bagian belakang, itu adalah sirkuit otak untuk melihat. Yang menjadi konsep utamanya adalah, banyak terdapat sirkuit pada otak kita.

Nah, pada saat kita sedih, listrik dalam otak kita akan melewati sirkuit kesedihan dalam otak.Begitu normalnya otak kita bekerja. Kemudian, pada saat kita melihat, mendengar, atau merasakan orang yang masih asing bagi kita itu murung, secara alamiah, otak kita akan meniru sirkuit kesedihan otak orang tersebut layaknya cermin. Karena itulah mekanisme ini dinamakan mirror neuron. Dan karena itu pula, kita mampu merasakan kesedihan dari orang asing yang tak kita ketahui siapa dia. Aneh bukan?

Justru itu uniknya, secara fitrah manusia telah tercetak sebagai makhluk sosial. Ke-apatisan justru membuat sistem ini dinonaktifkan pada otak, sehingga dampaknya pun terasa pada kesehatan kita. Dan jangan heran bilamana silaturahim mampu memperpanjang umur, karena justru dengan silaturahim mampu mengoptimalkan kesehatan tubuh kita melalui optimalisasi otak.

Dan karena adanya sistem ini pula, maka sangat wajar bilamana yang namanya antusiasme itu menular, kebaikan pun menyebar. Begitu pula sebaliknya, pesimisme pun senantiasa menular. Maka alangkah indahnya bila anda sekalian tidak hanya menyehatkan diri anda sendiri, namun juga diri orang-orang di sekitar anda.

Bagaimana langkah konkretnya? Minimal yang bisa anda lakukan adalah menjadi agen penebar senyum. Karena dengan menebar senyum, anda pun membangkitkan sirkuit kebahagiaan pada otak sekitar anda. Dan tentu saja anda semua pernah mengalami sebuah kenyamanan yang mampu anda rasakan saat anda bahagia. Itu sebuah pertanda bahwa sel-sel dalam tubuh anda sendiri merasakan kenyamanan yang luar biasa. Selamat mencoba!! J



Minggu, 17 April 2011

visi hidupku

0komentar
Entah harus sedih atau senang, kedua perasaan ini bercampur aduk menjadi satu bentuk. Semua ini karena satu hal, yaitu karena akhirnya kutemukan visi hidupku.

Sedih, tentu saja. Karena seolah 20 tahun kehidupanku sebelumnya serasa bagaikan mayat hidup, berjalan tanpa arah. Walau bukan berarti hidupku hanya berjalan mengikuti arus sungai. Namun, grand design kehidupanku yang belum tersusun selama 20 tahun. Ah, andaikan bisa kembali ke masa lalu.

Senang, karena alhamdulillah. Akhirnya, kudapatkan pula visi hidupku, sebuah blue print kehidupan yang akan menjadi arahan kemana kaki kan melangkah. 20 tahun ini bukan waktu yang sia-sia, namun saya percaya bahwa ternyata grand design yang kususun memerlukan waktu 20 tahun, berarti grand design yang kubuat ini merupakan grand design yang terbaik untukku.

Semula, diriku cukup 'tenang' dengan konsep visi 'menjadi hamba Allah'. Namun entah kenapa, dalam perjalanan, hal ini sangat umum. Dalam perjalanannya, sering ku ragu dan bimbang, what must i do next. Pertanyaan itu selalu terngiang dalam benak sehingga tak jarang segala macam kegiatan pun kulakukan, dengan melupakan bermacam hal yang seharusnya menjadi prioritas. Satu masalah utamanya adalah --> Tidak spesifik

Bisa dianalogikan dengan sebuah organisasi, terutama saat pemilihan ketua senat/bem. Dengan gencarnya, para calon pemimpin mendeskripsikan visi misinya setahun ke depan. kalau organisasi yang hanya setahun ke depan saja, para calon pemimpin merancang visi yang melangit, kenapa tidak dengan hidup kita, yang sejauh ini sudah kita rasakan lebih dari satu tahun.

Alhamdulillah, sujud terakhirku di shalat Ashar hari ini membuahkan hasil yang luar biasa, yaitu sebuah visi hidup, yang insya Allah pada 'sidang akhir hidup' harus saya pertanggungjawabkan.

Dengan mengucapkan Basmallah,
saya, Ikhsanun Kamil Pratama, me-launching visi hidup saya :

Menjadi pribadi yang berkonsentrasi tertinggi dalam hidup serta senantiasa berdifusi, dari lingkungan terkecil sampai lingkungan terbesar


Jumat, 15 April 2011

Taman Bunga Anemone

0komentar

Bayangkanlah saat ini anda berada di sebuah desa yang sangat nyaman, sangat makmur, dan sangat tentram. Desa ini begitu indah karena ia diselimuti oleh sebuah selendang fauna yang sangat luar biasa indah, disertai dengan iringan aroma yang khas dari kebun bunga yang tumbuh disana. Bahkan, anda pun merasa sangat nyaman berada di dalamnya.

Desa ini ternyata sangat terkenal oleh bunga anemonnya. Bunga anemone di desa ini bisa dibilang bunga yang keindahannya world-class. Tiada yang menyaingi anemone dari desa ini. Bahkan bisa dibilang, di sinilah satu-satunya sumber anemone terbaik sedunia. Kuncupnya yang indah, aromanya yang semerbak, serta warnanya yang memanjakan hati merupakan keunggulan utama dari anemone di desa ini. Maka jangan heran kalau profesi bertanam bunga anemone menjadi primadona di desa ini.

Pak Amin adalah seorang petani anemone yang sangat sukses, karena memang tak diragukan lagi, di antara tumpukan emas itulah ia paling berkilau. Di antara anemone terindah di dunia itu, taman pak Amin yang paling indah dan menawan bunganya di antara petani anemone lainnya. Entahlah, seakan ia memiliki bibit anemone super, tiap kali ia menanam anemone baru, hasilnya selalu luar biasa indah. Tak jarang, hal ini cukup membuat rekan seprofesinya iri hati.

Salah satunya adalah Pak Budi. Memang tak bisa dipungkiri bahwa dalam hatinya terbesit sedikit rasa iri. Namun, ia dengan memberanikan diri melakukan satu hal yang belum pernah orang lain lakukan, yaitu MEMINTA bibitnya langsung ke pak Amin. Apa yang akan anda lakukan kalau anda adalah pak Amin?

Aneh bin ajaibnya, pak Amin memberikan sekarung kecil bibit bunga anemone miliknya dengan tulus ikhlas secara cuma-cuma. Tentu saja, pak Budi kegirangan setengah mati, walaupun ekspresinya bisa ia tahan. Lantas Amir, anak pak Amin, cukup terheran akan perilaku bapaknya. Mengapa semudah itu bapaknya memberikan bibit anemone kualitas tinggi?

Semenjak kejadian itu, pak Budi jadi memiliki banyak pengikut, dalam artian hampir semua tetangganya pun mulai meminta bibitnya kepada pak Amin. Mereka pun tentu tidak ingin kalah bersaing, mereka ingin pula tamannya dihiasi oleh bunga anemone yang tak kalah saing. Lantas, apa yang akan anda lakukan apabila anda adalah pak Amin?

Saking dermawannya pak Amin, satu persatu tetangga yang meminta ia berikan bibitnya. Kejadian ini jelas menimbulkan pertanyaan besar bagi Amir. Lantas, ia bertanya kepada bapaknya.

‘Pak, apa yang bapak lakukan? Bukankah kalau Bapak memberikan bibitnya, maka taman Bapak yang semula ‘luar biasa’ menjadi ‘biasa-biasa’ saja?’ tanya Amir.

‘Anakku, justru dengan membagikan keluarbiasaan kita pada orang lain, kita kan menjadi jauh lebih luar biasa’, jawab pak Amin sembari tersenyum.

‘Jawaban yang terlalu klise, Pak’

‘Kalau engkau menjadi Bapak, apa yang akan engkau lakukan, anakku?’

‘Tentu saja aku akan menyimpannya, dan menggunakannya sendiri untuk keperluanku’

‘Anakku, bagaimana sekiranya bunga anemone ini melahirkan keturunannya?’

‘Tentu saja dengan proses penyerbukan. Lantas kenapa Pak? Jangan mengalihkan pembicaraan, Pak!’ sungut Amir sembari cemberut.

‘Justru di situlah poinnya. Bunga anemone akan menyebarkan serbuk sari dan serbuk sari akan terbawa oleh angin. Sekarang bayangkan nak, apabila bunga anemone di sekitar kita tidak berkualitas baik, lantas apa yang terjadi?’ jawab pak Amin dengan bijak sambil tersenyum dan mengusap-ngusap kepala anaknya. ‘Bukankah itu berarti serbuk sari dari bunga yang kualitasnya kurang baik akan jatuh ke kepala putik dari bunga anemone kita? Lantas, kualitas keturunannya pun akan memburuk. Sangat jauh berbeda apabila….’

‘Aku mengerti, pak’ potong Amir. ‘Apabila bunga sekitar kita berkualitas sangat baik pula, tentunya akan meningkatkan kualitas keturunan dari bunga anemone yang kita miliki. Karena serbuk sari berkualitas baik akan bertemu dengan putik yang berkualitas baik, tentulah hasilnya akan menjadi jauh lebih baik’.

‘Betul nak. Pada umumnya kita sulit untuk berbagi. Namun percayalah, kita akan senantiasa kuat dengan menguatkan sekitar kita. Kita kan senantiasa maju dengan memajukan sekitar kita. Maka berbagilah selalu, nak’

Si anak pun tersenyum, sungguh bersyukur ia mendapatkan sebuah pembelajaran kehidupan yang luar biasa dari seorang ayah yang luar biasa. Ia pun mendekapkan ayahnya seerat-eratnya. Tanda bahwea sang ayah pun sukses menyebarkan serbuk sayang padanya.

Selasa, 12 April 2011

Menjemputmu Dengan Takut dan Harap

0komentar

Bismillah

Assalamu’alaikum wr wb.

Wahai calon istriku, entah mengapa aku berubah menjadi melankolis. Kuingin engkau tahu bahwa sejuta daya ledak motivasi mengalir dalam darahku untuk menjemputmu. Sejuta buai cinta mengalir dalam syarafku. Sejuta cita dan asa untuk datang ke depanmu. Sejuta, ah sudahlah, memang aku tak pandai beretorika.

Namun, sejuta tak lagi menjadi sejuta. Cita pun bernoda lara. Gembira terkosongi sebagian hampa. Karena satu rasa dalam dada, yaitu takut.

Ah, tolong jangan memalingkan muka terlebih dahulu. Dengarkanlah dulu diriku, simaklah surat ini meski pilu mewarnai hati. Satu harapku :bacalah ini sampai akhir. Bukankah, takut merupakan hal yang manusiawi?

Kuakui, sejuta motivasiku untuk menjemputmu tak beriring dengan pikir jernih. Aku cukup tertampar dengan cerita Baginda Rasulullah SAW. Engkau pernah mendengar nama Hafsah? Ya, beliau adalah salah satu istri Rasul dulu, sekaligus anak dari Umar bin Khattab, sahabat dekat Rasul. Dari sekian jumlah istri Rasul, Hafsah adalah satu-satunya istri Rasul yang pernah diceraikan karena terjadi sedikit kesalahpahaman dengan Mariyah al-Qibthiyah, salah satu istri Rasul. Bila engkau berada di posisi Hafsah, bagaimana perasaanmu diceraikan suamimu?

Memang, meskipun pada akhirnya Hafsah dirujuk kembali, namun perceraian terjadi di rumah tangga Rasulullah. Ah, siapalah aku? Tiada banding diriku dengan Rasulullah. Kemungkinan cerai pun akan jauh lebih besar. Ini adalah problema yang perlu kita hindari bersama. Bukan hanya sekedar ‘engkau jodohku, milikku selamanya, dan kita kan mengabadi’. Ini adalah perjuangan yang harus kita jalani bersama. Inilah ketakutan pertamaku.

Hei, apa engkau tahu? Otak pria sangat tajam dalam masalah visuospasial. Tubuh wanita merupakan makanan yang nikmat bagi mata pria, mataku. Mungkin engkau bertanya-tanya tentang hal ini, bahwa perihal seks pun menjadi halal.

Ah tolong maafkan aku. Aku cukup terhentak dengan berita-berita koran dan infotainment. Banyak sekali berita tentang kawin kontrak. Banyak sekali para tokoh layar kaca yang berucap ‘kalo mo ‘gigituan’ kan halal, wong udah nikah’ begitu entengnya. Engkau menangkap ketakutan keduaku?

‘Zina dalam pernikahan’. Ya, zina bertopeng nikah. Mungkin term inilah yang paling cocok menggambarkan hal ini. Bahkan, bukankah dalam Al-Quran pun memberikan himbauan untuk tidak melakukan ini, bukan? Lantas, siapa diriku? Aku hanyalah seorang pria. Sungguh, ketakutan yang amat sangat bagiku bila kelak memandangmu hanya ‘seonggok tubuh’ saja. Tak memandang dirimu secara keseluruhan. Hanya mencintai tubuhmu, bukan dirimu. Meskipun hanya sesaat. Sungguh, aku takut.

Hei, aku pun tertegun dengan sebuah cerita. Ini pun berkisah tentang sang manusia agung, Rasulullah. Betapa dia memiliki sifat entrepreneurship yang luar biasa dahsyat, kekayaannya sebetulnya sangat melimpah ruah. Namun, kekayaannya itu ia tutupi oleh baju kesederhanaan. Kekayaannya pun berdifusi, senantiasa mengalir kepada sekitarnya yang membutuhkan.

Ah, lihatlah diriku. Yang telah berumur kepala dua tetap belum mandiri. Yang baru saja menyadari pentingnya entrepreneurship. Saat ini aku hanyalah sosok yang sok kaya, namun sebetulnya miskin. Sungguh bagaikan sisi uang logam aku dengan Rasul. Kalaulah Rasul menutupi kekayaan dengan kesederhanaan, sehelai baju terindah sepanjang masa. Maka, aku menutupi kemiskinanku dengan selendang kesombongan, selendang kekayaan. Parahnya, selendang ini pun bukanlah hasil tetes keringatku, namun orangtuaku.

Dan hal yang menjadi tantangan utama adalah saat aku berusaha untuk mengikuti apa yang diperbuat oleh sang suri tauladan kita, Rasulullah, dengan istri tercintanya, Khadijah. Engkau boleh tidak setuju, namun menurutku, kisah cinta mereka merupakan kisah teromantis sepanjang masa. Bagaimana tidak, bahkan cinta mereka pun mampu kita rasakan sampai sekarang.

Apa buktinya? Tidak perlu jauh-jauh, apa yang kita rasakan tiap hari, apa yang selalu kita syukuri, itu adalah buah dari bibit cinta mereka. Itu adalah Islam. Islam yang selalu kita nikmati sampai detik ini, ternyata terlahir dari kamar sepasang kekasih.

Bayangkanlah, apa kiranya yang terjadi pada saat itu, saat dimana Rasulullah mendapatkan wahyu pertamanya, kemudian tiada Khadijah di sampingnya? Mungkin, Islam takkan tersebarkan seperti ini. Mengingat, kondisi Rasul saat penerimaan wahyu pertamanya pun betul-betul mengguncang kondisi mentalnya. Karena ada sosok istri tercinta yang senantiasa mengirimkan cinta tulus padanyalah, Rasul mampu bangkit dari kondisi yang mengguncangkan jiwa ini, saking besarnya amanah baru yang ditanggungnya. Tak semudah pengakuan orang-orang sekarang bahwa dirinya adalah nabi.

Lihatlah kejadian ini. Ternyata, cinta sang teladan kita pun bukan hanya ‘cinta aku kamu’. Bukanlah cinta yang hanya menonjolkan diriku dan dirimu, dan meniadakan makhluk lain, yang menjadikan dunia hanya milik berdua. Namun lihatlah, bahwa cintanya merupakan sebuah cinta yang rahmatan lil ‘aalaamiin, cinta yang cintanya menyebar ke seantero jagat raya.

Engkau boleh tak setuju, namun jujur, perihal inilah yang perlu kurenungkan. Bahwa, apa yang akan kita tempuh bukan semudah air yang mengalir dari hulu ke hilir. Dan kesimpulan yang mengguncang hatiku adalah bahwa seseorang tak pantas disebut kekasih apabila tidak mendekatkan diri kita sendiri kepada Allah. Ketakutan pun menjelmaku, bahwa aku belum tentu layak disebut kekasih. Namun, aku takkan berpangku tangan saja. Aku pun kan senantiasa menjelma menjadi seorang kekasih. Meskipun bagiku, cinta itu sendiri tak terjamah definisi.

Nah, siapkah engkau menjadi seorang kekasih? Karena aku pun akan senantiasa menjemputmu dengan takut dan harapku

Ada kesalahan di dalam gadget ini
 

Ikhsanun Kamil Pratama © 2010

Blogger Templates by Splashy Templates