Tampilkan postingan dengan label inspirasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label inspirasi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 21 Februari 2013

Mau Nikah? Packing Yuk...

5komentar

Persiapan pernikahan. Apa yang langsung terbayang dalam benak anda begitu mendengar kata itu?
Tentunya, di hari yang istimewa dan kejadian yang diharapkan hanya terjadi sekali seumur hidup ini, kita berharap bahwa hari pernikahan akan menjadi hari yang sangat bahagia. Karena itulah, persiapan pernikahan pun kita siapkan, dimulai dari gedungnya, bajunya yang mewah, katering yang enak, panggung dan hiburan yang meriah, dan begitu banyak persiapan yang perlu disiapkan untuk menjadi raja dan ratu pada hari yang begitu bersejarah. Hehe, boleh kan ya? Soalnya kapan lagi bisa merasakan sensasi menjadi raja dan ratu.
Memang tiada yang melarang dan sah-sah saja melakukan persiapan pernikahan yang seperti itu. Hanya saja, sahabatku, kehidupan pernikahan itu seperti naik gunung lho. Masa sih persiapan pernikahan kita kayak mau ke mall? Kira-kira menurut anda, apa yang akan terjadi jika kita mau hiking naik gunung namun persiapannya mau ke mall? Sangat mungkin untuk tumbang di tengah jalan?
Kejadian ‘tumbang saat naik gunung’ ini sudah sangat banyak terjadi di Indonesia. Beberapa di antaranya:
·         Angka perceraian di Indonesia mencapai rekor tertinggi di Asia Pasifik (BKKBN 2012)
·         Dari 2 juta orang yang menikah tiap tahunnya, ada 285.184 kasus perceraian (Dirjen Bimas Islam Kemenag RI 2010)
·         Berapa banyak dari kita melihat pernikahan yang sekedar bertahan, ‘demi anak’lah atau demi apalah, namun sesungguhnya antar pasangan sudah tidak merasakan cinta lagi. Atau bahkan parahnya, sudah ada niatan ingin bercerai…
·         Berapa banyak kehidupan pernikahan yang sudah mengalami ‘perang dingin’?
·         Berapa banyak kehidupan pernikahan yang dimana anggotanya merasa salah pilih pasangan?
·         Mau nambahin lagi? Silakan…

Kok bisa kejadian seperti ini? Boleh jadi karena selama ini kita terlalu sibuk mempersiapkan pesta pernikahan yang hanya satu hari, namun kita lalai untuk mempersiapkan kehidupan pernikahan setelahnya, yang diharapkan hanya terjadi sekali seumur hidup. Masih ingat analogi naik gunung tadi? Ya, boleh jadi yang kita siapkan justru ‘jalan-jalan ke Mall’ daripada ‘naik gunung’. Jadinya salah tempat, mau naik gunung, tapi pake high heels, dandan tebal-tebal, dan perbekalan seadanya.
Tentunya, kita tidak ingin seperti itu kan? Nah, bagi anda yang belum mengucap akad nikah, anda beruntung sudah baca artikel ini. Pada kesempatan ini, kami ingin share hal-hal esensial apa saja yang harusnya kita packing  untuk ‘naik gunung’, untuk menyelamatkan kehidupan pernikahan anda dari marabahaya, serta menjemput kehidupan pernikahan yang Sakinah, Mawaddah, Wa Rahmah. Mau kan?
Nah, perbekalan utama yang harus anda siapkan adalah niat yang lurus karena Allah. Mungkin terdengar sepele, dan mungkin terdengar klise, namun sebuah kenyataan di lapangan yang kami temui, ternyata tidak sedikit mereka yang mau nikah hanya karena bosan hidup sendirian. Ada juga yang nikah karena tidak betah dengan lingkungan rumahnya, menjadikan pernikahan nadalah sebuah pelarian. Bahkan ada juga yang menjadikan pernikahan sebagai ajang balapan. Maksudnya bagaimana? Ya, jadi balapan dengan temannya, siapa yang paling cepat nikah dan dialah pemenangnya. Anda bisa bayangkan kira-kira bagaimana nasib sebuah pernikahan yang niatnya tidak jelas seperti ini, ke depannya akan gimana?
Kalau berniat, luruskanlah niat betul-betul untuk beribadah karena Allah. Niat yang lurus ini pun kalau bisa perlu detil dan spesifik. Kenapa? Ya karena masih banyak yang kami temui alasan pernikahan karena ‘ibadah’, padahal ini sifatnya masih normative. Bila ditanya secara spesifik, ibadah seperti apa yang mengharuskan untuk menikah, karena tentunya jomblo pun bisa ibadah kan? Niat semakin lurus, semakin detil, semakin spesifik, insyaAllah ini sangat bagus sekali.
Bila niat telah lurus, maka apa yang harus dibekali selanjutnya adalah kedewasaan. Bagi kami, menikah itu bukan masalah menikah muda atau menikah tua, namun menikah secara dewasa. Salah satunya bisa dilihat dari sebuah self-asking ‘Kami itu sudah butuh atau masih ingin untuk menikah?’. Loh, nikah memang suatu kebutuhan? Tentu saja. Bagaimana pun, mendapatkan belahan jiwa merupakan kebutuhan kita manusia hamba-Nya.
Sahabatku, menurut anda, ‘ingin’ dan ‘butuh’ itu sama atau beda? Bagaimana membedakannya? Ingin itu ibarat anak kecil yang ingin balon, bila ia tak mendapatkannya mungkin akan ngambek, padahal sebetulnya tanpa balon pun ia masih fine-fine saja. Bagaimana dengan butuh? Yang namanya kebutuhan itu harus DITUNAIKAN. Ibarat (mohon maaf) kebelet buang air besar. Mau gak mau ini HARUS ditunaikan kan? Karena bila tidak ditunaikan, justru membawa masalah pada diri sendiri. Dan kebutuhan masing-masing orang akan menikah itu tentu jelas BERBEDA. Tak bisa disamaratakan usia 25 tahun semua pria merasakan keterbutuhan akan menikah. Karena itu, pernikahan bukan masalah nikah muda atau nikah tua. Menikah segera dan menikah nanti sama hebatnya, bila dengan alasan syar'i dan pada tempatnya. Menikah segera dengan keberanian untuk menyempurnakan setengah agama dan tak mau menunda, itu sangatlah mulia. Namun, menikah nanti dengan pertimbangan kesiapan perbekalan berumah tangga sambil terus menerus melakukan perbaikan diri juga sama hebatnya. Yang salah adalah mereka yg tergesa-gesa dalam prosesny atau berleha-leha dalam persiapannya.
Perbekalan selanjutnya, anda pun harus menyiapkan ilmu dan skill yang mumpuni untuk  menjalani kehidupan pernikahan. Loh, skill pernikahan? Mungkin terdengar aneh bin asing di telinga anda, namun pengetahuan dan skill untuk menjalani kehidupan pernikahan itu mutlak perlu. Tantangan kehidupan pernikahan zaman dulu dan saat ini berbeda luar biasa. Perselingkuhan pun bisa saja terjadi di ujung jempol pasangan bila anda lalai. Hal ini bisa dicegah dengan memiliki ilmu dan skill pernikahan.
Skill apa saja yang harus dimiliki? Yang paling fundamental adalah skill komunikasi. Kenapa hal ini penting? Karena banyak permasalahan pernikahan dimulai dari mampetnya komunikasi. Bila komunikasi tidak terjalin, maka ini layaknya menunggu bom waktu untuk meledak. Jangan salah, bom waktu ini bisa terjadi semenjak malam pertama bila anda tidak memiliki ilmu dan skill komunikasi yang mumpuni. Kami beri satu contoh kasus ya.
Kehidupan pernikahan kami pada awal pernikahan ternyata begitu banyak potensi konflik. Seperti contoh kecil, sarapan. Canun, sang suami semenjak kecil terbiasa untuk sarapan jam setengah 6 pagi. Fu, sang istri semenjak kecil terbiasa sarapan jam 8 pagi. Maka, bagi Canun, Fu melakukan kesalahan karena beliau mulai memasak jam 7. Sedang bagi Fu, yang beliau lakukan jelas bukan kesalahan karena memang pola hidupnya berbeda. Nah, bila Canun marah-marah, apakah menyelesaikan masalah? Atau bila Canun diam saja, itu juga menyelesaikan masalah? Atau bila Canun memberi tahu ‘Masaknya setengah 6 dong’, itu cukup hanya dengan sekali menyampaikan, Fu akan berubah secara otomatis? BELUM TENTU. Karena mengubah kebiasaan yang sudah dilakukan bertahun-tahun itu sulitnya bukan main. Bayangkan, di sini saja anda butuh kemampuan komunikasi yang mumpuni + skill manage ego anda.
Belum lagi finansial. Mungkin banyak orang yang senang menikah dengan orang yang memiliki materi yang banyak. Namun bagaimana bila anda nikah dengan orang kaya yang berpenghasilan 10 miliar/bulan, kemudian dua minggu setelah pernikahan, bisnisnya bangkrut dan ia merugi 12 miliar? Mudah bagi Allah mengkayakan atau memiskinkan seseorang. Kami mendapatkan hikmah bahwa yang terpenting bukan masalah banyak rezeki atau tidak, namun terkait skill menjemput rezeki, yang tentunya dengan cara halal. Sudahkah anda bekali diri anda dengan ilmu dan skill di bidang ini?
Belum lagi bila terpaksa harus LDM (Long Distance Marriage) harus ada skill tersendiri untuk memastikan pasangan tetap ‘baik-baik saja’. Skill kenali diri sendiri dan pasangan yang sangat penting untuk mengetahui kebutuhan anda dan pasangan, karena anda dan pasangan terbentuk dari pola asuh, budaya, dan lingkungan yang berbeda.
Waaw, kok terkesan ribet yah? Namun, sepengamatan kami di lapangan, hal-hal seperti ini adalah perbekalan anda untuk ‘naik gunung’. Karena bagaimanapun, kebahagiaan pernikahan itu tidak bisa anda tunggu di depan rumah seperti datangnya tukang Bakso. Kebahagiaan pernikahan itu harus diperjuangkan., layaknya naik gunung. Tentu lelah. Namun, bila anda sudah mencapai puncaknya, pemandangannya itu begitu indah luar biasa. Siapkah anda memperjuangkan kehidupan pernikahan anda? Kami siap membantu anda untuk memfasilitasi perbekalan-perbekalan ‘naik gunung’ pada workshop FULL 2 hari ‘Menikah itu Mudah’ tanggal 30 – 31 Maret 2013 dari pukul 08.00 – 17.00 di Hotel Citarum, Bandung, yang kami batasi hanya 10 seat saja. Selama 2 hari ini, yang akan anda dapatkan:
·         Integrated-Life Skill
·         Financing skill + Financial Literacy Skill
·         Personality Skill, mengenal karakter seseorang dalam waktu 5 detik
·         Communication skill
·         Emotional Skill
·         Relationship skill
Dengan bekal yang anda dapatkan di workshop ini yang insyaAllah manfaatnya bisa anda aplikasikan di kehidupan pernikahan anda untuk membangun pernikahan yang harmonis, anda cukup berinvestasi Rp 2.500.000, dengan fasilitas
·         Coffee break 4x
·         Menginap satu malam di hotel (Khusus bagi peserta luar kota)
·         Makan siang 2x
·         Workshop kit
·         Sertifikat
·         Konsultasi marriage life 3bulan setelah pernikahan
·         Software Cashflow Keuangan Keluarga senilai Rp 500.000
·         Asuhan prekonsepsi (persiapan kehamilan) oleh Bidan Fu

InsyaAllah, banyak manfaat yang bisa didapatkan. Berikut apa kata alumni workshop kami sebelumnya…

Doakan kami ya, bulan depan kami memutuskan untuk MENIKAH. InsyaAllah keputusan itu ada setelah kami membaca buku ‘Menikah itu Mudah’ serta sekarang ikut acaranya. Alhamdulillah”
Fanny Qurrata Ayuni (24) – Perawat Gigi
Menikah pada 17 Juni 2012

Pendaftaran bisa anda kontak Shella 081802030035. Serta bagi anda yang serius, hanya sampai tanggal 24 Maret, anda cukup berinvestasi Rp 1.750.000 (single) atau Rp 3.000.000 (double). 

Kami tunggu kehadiran anda. Semoga perbekalan pada workshop ini adalah fasilitas yang tepat untuk menjemput pernikahan anda yang harmonis. Selamat berjumpa dengan kami di event ini. Wassalamu’alaikum Wr Wb.

Jumat, 30 Maret 2012

Burung beo pak Ustadz

0komentar

Sebutlah ada seorang ustadz yang memelihara burung beo. Ustadz ini memiliki kesenangan tersendiri saat memelihara burung beo. Begitu telatennya ia memelihara burung beo seolah anaknya sendiri, dan bahkan ia pun mengajarkan lafal syahadat kepada burung beo, ‘asyhadu an-laa ilaaha illallaah’.

Satu hari berlalu, belum mampu sama sekali sang beo untuk mengucapkan lafal syahadat tersebut. Tak terasa, seminggu pun berlalu, sudah bisa sedikit meskipun belum lancar. Dan butuh waktu kurang lebih 2 minggu untuk si beo tersebut mampu dengan lancar mengucapkan lafal syahadat. Sang ustadz pun bangga karena rasanya burung beo mana yang mampu berucap syahadat selain burung beo miliknya.

Entah mengapa, pada suatu hari, sang burung beo pun lepas dari kadang dan ia terbang bebas dari penjaranya. Paniklah sang ustadz, dan dicarinya burung kesayangannya itu kemana-mana. Walhasil, ia melihat burung beonya sedang bertengger di tanah. Sayangnya, di sana ada seekor anjing yang siap untuk menerkam sang burung.

HAAPPP…..

Diterkamlah burung itu oleh sang anjing. Sang burung hanya mengeluarkan ringkihannya bahkan saat ia menjelang kematiannya, bukan syahadat yang telah ia pelajari selama dua minggu.


Maka, adakah perbedaan spesifik antara dirimu dan burung beo tersebut? Kira-kira, bagaimana kelak akhir hidup kita? Apa ya yang kan terucap?

Minggu, 18 Maret 2012

Argo Taksi

1 komentar
24 Februari 2012

Hari itu betul-betul menguras tenagaku. Bayangkan saja, sejak sebulan sebelumnya, aku telah berencana untuk mengisi workshop hipnoterapi medik yang berada di tanah borneo sana, yaitu Samarinda. Namun, jadwal judicium yang begitu mendadak dari fakultas, membuatku dan para panitia di sana melakukan reschedule dengan cukup kilat. Walhasil, workshop pun diundur menjadi hari sabtu. Namun tetap saja, pesawat pada bandara soekarno hatta takkan berkompromi untuk menunggu kehadiranku di hadapannya. Ia menungguku pada jam 4 sore.

Maka, pada pagi di hari itu, aku pun dengan langkah seribu bergegas menuju Jatinangor, menuju kampusku untuk secara formalitas mengambil hasil nilaiku selama 3.5 tahun berkuliah di sana, kemudian bergegas menuju Primajasa di daerah Buah Batu. Judicium baru berakhir pada jam 9 pagi, sementara Primjas pun kan berangkat jam 11 menuju bandara. Pikirku, bagaimana mungkin bisa sampai 2 jam dari Jatinangor menuju primjas? Bandung kan sekarang kota yang cukup macet.

Beruntungnya, aku terhindar dari keterlambatan karena secara kebetulan, ada taksi yang baru saja mengantar seorang dosen ke Unpad. Win-win solution nih, buatku dan pak supir taksi!! Maka, berangkatlah diriku dengan taksi si burung ini.

Luar biasa, supir taksi si burung biru ini begitu ramaah luar biasa. Bahkan, bagiku yang seorang introvert sekalipun, ia gemar berkisah begitu indah, sehingga diriku pun hanyut terbawa kisahnya. Kita berkisah akan banyak hal, mulai dari pekerjaan, keluarga, pendidikan, bahkan candaan-candaan ringan.

Entah mengapa, tiba-tiba saja timbul rasa penasaran akibat rasa kaget yang amat sangat. Kuperhatikan sebuah argo taksi, yang entah mengapa kok berubahnya cepet banget waktu di jalan tol? Waswas tentunya diriku takut kalau ongkosnya kurang!!

Namun juga, unik, di daerah Buah Batu yang begitu macet, seolah argo berhenti. Hal ini yang bikin diriku penasaran, dan bertanyalah aku tentang bagaimana kerja argo taksi ini.



Ternyata ooh ternyata, argo ini memiliki dua mode utama:
1. perhitungan melalui waktu, yang hanya akan bergerak apabila taksi berhenti seperti di lampu merah, atau nungguin penumpangnya lagi ambil uang di atm, misalkan. Untuk mode berhenti ini, kalau taksi berhenti selama satu jam, bisa mencapai nilai Rp 30rb.
2. Perhitungan melalui jarak, yang akan bergerak melalui jarak tempuh.

Meskipun terkesan simpel, namun hal ini begitu menarik bagiku. Bayangkan, bila hidup kita di-argo, sepertinya sesuatu yang dinamakan 'waktu' akan sangat berharga bagi kita. Selama ini, boleh jadi kita tak menganggap 'waktu' sebagai sesuatu yang berharga karena waktu merupakan barang GRATIS. Tentunya, akan sangat berbeda orang yang menganggap waktu sebagai barang yang gratis dan mereka yang menganggap waktu sebagai alat untuk menjadikan dirinya menjadi JAUH LEBIH BAIK lagi.

Banyak sekali, orang-orang di sekitar yang berleha-leha terhadap waktu yang ia miliki. Dengan dalih 'Ah, masih muda ini', begitu banyak orang yang tidak melakukan apa-apa. Seperti diriku beberapa tahun lalu, yang begitu senangnya menghabiskan waktu hanya untuk melakukan rutinitas harian tanpa adanya perubahan ke arah yang lebih baik.

Dengan merasa waktu sebagai barang yang gratis, boleh jadi diri ini pun sering sekali melakukan sebuah penundaan. Padahal, penundaan hanyalah menanti kehancuran dalam hidup. 'Ah, nyari duit mah nanti aja kalo udah lulus', 'ah, nyari duit mah nanti aja klo udah jadi dokter', 'ah, nikah mah nanti aja klo udah jadi'. Bagaimana kalau tiada nanti? Ah, pantaslah kalau dalam Al-Quran pun Allah berfirman 'Demi waktu, sesungguhnya manusia berada dalam kerugian.'

Bila hidup di-argo dalam mode 2, mode jarak. Ternyata, jarak tempuh itu begitu dihargai. Tentunya, 'jarak tempuh' masing-masing orang berbeda-beda. Jarak tempuh kehidupan seseorang, yang biasa kita sebut sebagai sejarah kehidupan, ternyata begitu berharga.

Betapa bodohnya diriku ketika ditanya 'kehidupanmu sejauh ini gimana?', dan kujawab 'nothing special'. Wow, ternyata selama ini diriku tidak begitu menghargai 'jarak tempuh' yang telah kulakukan selama 21 tahun ini.

Kalau melihat kisah 'Negeri 5 menara' karangan Ahmad Fuadi, kok bisa sih novel ini begitu booming bahkan sampai difilmkan? Karena dalam pandanganku, beliau adalah salah satu orang yang begitu menghargai 'jarak tempuh'nya. Silakan lihat dan cari, ada berapa buku sih yang mengisahkan tentang 'jarak tempuh' seseorang? Bila nih, bila seluruh orang di dunia menghargai dan menuliskan 'jarak tempuh'nya, belum tentu 'Negeri 5 Menara' bisa menjadi booming seperti ini. Boleh jadi, kisah hidupmu yang jadi booming loh.

Namun nyatanya? Ya, karena sang penulis Negeri 5 Menara begitu menghargai 'jarak tempuhnya' yang mampu membuat karyanay booming. Ternyata, menjadi booming itu mudah ya, karena pesaingnya begitu sedikit. hehe.

jadi memang terasa banget ya bahwa memang bangsa yang besar itu adalah bangsa yang menghargai sejarahnya, menghargai 'jarak tempuh'nya. Maka, aku penasaran bagaimana hebatnya seseorang yang begitu menghargai waktu sebagai media tumbuhkembang serta sekaligus menghargai kisah hidupnya sendiri, akan menjadi orang besar seperti apa ya? Apakah engkau salah satunya?

Rabu, 11 Januari 2012

saatnya kembali malu pada sperma....

4komentar

Kembali berbicara tentang sperma, makhluk putih yang berada dalam cairan putih hina yang kau merasa jijik di dalamnya…

Jijik, memang hal yang natural. Mungkin dirimu kan muntah saat melihat cairan ini berserakan begitu saja berada di lantai rumahmu. Hal ini wajar kok, karena memang sperma ini cairan yang hina..

Sadarlah, baik engkau maupun aku, tercipta dari sebercak cairan hina ini, sebuah cairan yang meskipun hina, memiliki daya juang yang meledak-ledak. Bagaimana denganmu? Mundurkah dengan satu tantangan menghinggapi hidupmu?

Sperma takkan berhenti sampai ia bertemu ovum yang telah menantinya dalam saluran rahim. Meskipun lingkungan rahim adalah tempat pembunuhan massal bagi sperma, sperma takkan gentar akan semua itu. Buktinya? Kehadiranmu di dunia inilah buktinya…

Bayangkan, lingkungan rahim sangat asam, lingkungan yang sebetulnya itu akan membunuh sperma. Sekitar 60-100 juta sperma akan tereduksi jadi beberapa juta, bahkan mungkin tersisa beberapa ratus ribu saja.

Belum lagi status sperma sebagai barang asing bagi tubuh perempuan, membuatnya pasti diserang oleh sistem imun yang punya tubuh. Bayangkan bahwa rahim sebetulnya merupakan tempat pembantaian terbesar di dunia. Namun, sang sel ovum akan tetap senantiasa menunggu dan menanti satu sel sperma yang gigih dan berani menjemputnya, meski sang nyawa taruhannya.

Hanya sperma yang gigih serta pantang menyerahlah yang mampu menjemput sang putri ovum di saluran rahim yang bernama tuba fallopii. Sperma ini harus menembus corona radiata dan zona pelusida agar mampu bertemu sang ovum yang terjaga.



Bisa dipastikan bahwa hanya sperma yang berkualitas saja yang mampu menemui dan menjemput sang putri ovum. Memang betul bahwa ovum yang berkualitas hanya akan bertemu sperma yang berkualitas. Ovum yang berkualitas salah satunya ditentukan dari baiknya penjagaan dengan menggunakan corona radiata dan zona pellucida. Begitu pula perempuan yang baik akan terlihat dari mana ia menjaga dirinya sendiri.

Sedangkan sperma yang berkualitas salah satunya ditentukan dari kadar enzim hialuronidase pada bagian kepalanya. Penelitian menunjukkan bahwa tingkat ketebalan enzim hialuronidase ini berhubungan dengan tingginya konsentrasi DNA baik dalam kepala sperma. Maka kualitas sperma dapat dilihat dari tingginya kualitas enzim hialuronidase ini. Enzim ini memiliki fungsi untuk menjebol bagian korona radiata dan zona pellucida ini. Bagi mereka yang kualitas enzim hialuronidase ini kurang baik, maka tentu saja takkan mampu mendapatkan sang ovum yang baik.

Yah intinya memang pertemuan sperma dan ovum akan kembali kepada masalah kualitas diri. Bila memang ingin hasil yang sempurna, tinggal sempurnakan usaha dan lakukan penyempurnaan diri secara terus menerus. Layaknya sperma yang menyempurnakan usaha meski nyawa taruhannya, dan melakukan penyempurnaan diri dengan produksi enzim hialuronidase.

Tentunya, hasil yang sempurna kan didapat dengan melakukan penyempurnaan pada pribadi dan usaha yang dilakukan, serta berserah dan berdoa secara sempurna kepada-Nya J

Bila sperma yang hina saja mampu seperti ini, bagaimana denganmu?


Rabu, 14 Desember 2011

dari warteg menuju salon kecantikan

0komentar

Semua bermula pagi ini, saat saya mencari sarapan. Yah, biasalah namanya juga mahasiswa, jadi makan secukupnya, sekenyangnya, dan semurahnya, dan yang penting enak. Kebetulan, uang di dompet sangat pas-pasan, maka sarapan pagi ini saya makan di warteg, lumayan minuman pun gratis. Hhehe

Menu sarapan yang saya pilih pagi ini adalah nasi, kerang, telor dadar, dan perkedel kentang. Hehe jangan ditiru ya, ini contoh menu yang cukup buruk, sama sekali saya gak pilih sayur. Biasanya juga langsung dijewer ibu di rumah :p

Namun memang, yang namanya inspirasi pasti Allah sisipkan dimana-mana, asalkan kita mencarinya. Kebetulan, saya ke warteg lupa membawa buku bacaan saya, sehingga saya makan sambil bengong, sambil merenung, sambil bertafakkur.

Kembali teringat bahwa apa yang saya makan adalah hewan, yang dimana tubuhnya tersusun dari protein, sebagian besarnya. Hampir semua hewan penyusun tubuhnya adalah protein, sehingga saat saya memakan hewani, itu pun akan menyumbang untuk proses pembentukan tubuh kita.

Tak bisa dipungkiri bahwa secara material, manusia dan hewan tersusun dari zat yang sama, yaitu protein. Wajah kita, tangan kita, kaki kita, semuanya tersusun sebagian besar dari protein. Organ-organ daleman kita pun semua tersusun dari protein, sehingga kualitas kesehatan kita memang sangat dipengaruhi dari apa yang kita makan.

Oh iya, saya mau sedikit koreksi pernyataan saya di atas barusan. Sebetulnya, tubuh makhluk hidup sebagian besar bukan tersusun dari protein, namun air. Hal ini jugalah yang membuat saya merenungi tentang air minum yang saya minum pagi tadi. Kualitas air minum mempengaruhi kualitas tubuh manusia. Begitu juga dengan makhluk hidup lainnya yang sangat memerlukan air untuk hidup.

Intinya, secara material, manusia dan hewan itu sama. Karena itu secara taksonomi, manusia dimasukkan ke kerajaan binatang, alias kingdom mamalia.

Apa artinya? Artinya, yang membedakan manusia dan makhluk lainnya adalah kualitas kejiwaannya. Semakin baik kualitas kejiwaannya maka semakin tinggi pula derajat manusia di mataNya.

Mungkin boleh dibilang bahwa, dalam konteks mencari dan menjemput pasangan hidup, memang akan jauh lebih baik apabila yang dipantau adalah kecantikan jiwanya. Bagaimana mengukurnya? Entahlah, saya bukan yang ahli dalam bidang ini.

Apalah arti dari kecantikan dan kegantengan luar? Memang penting, namun bilamana ini menjadi suatu faktor utama, yah kita bisa tarik kesimpulan bersama. Tak bisa dipungkiri bahwa penilaian kita akan sesuatu terbatas dari panca indera kita. Hanya dari mata yang seluas kurang lebih 5 cm, seolah kita telah mampu melihat seisi dunia. Hanya dari telinga yang ukurannya tidak sampai sejengkal, kita merasa telah mampu mendengar bermacam kenyataan. Yah, panca indera memang merupakan keterbatasan.

Kembali ke konteks protein, bahwa perempuan secantik apapun atau pria terganteng sedunia pun pada dasarnya ‘hanyalah’ onggokan protein dan air. There’s nothing special in it. Secara fisik, tiada beda antara manusia dan hewan. Dalam pandanganku, penilaian manusia yang hanya berdasar dari luar saja memang kurang menghargai manusia sebenar-benarnya. Karena yang membedakan manusia dan hewan adalah kualitas jiwanya.

Terutama dalam konteks mencari pasangan, karena memang kualitas jiwa seseorang memiliki batasan serta kekurangan tersendiri, rasanya akan jauh lebih baik ‘menseleksi’ sesuai dengan kualitas jiwanya. Kualitas jiwa pasanganku yang kelak melengkapi kualitas jiwaku, serta kualitas jiwaku yang melengkapi kualitas jiwa pasanganku kelak, dan rumahku kan menjadi salon kecantikan jiwa bagi para penghuni di dalamnya...

Kamis, 01 Desember 2011

Mengikat Makna: Hari AIDS Sedunia

0komentar

1 Desember, telah dicanangkan oleh dunia sebagai hari AIDS sedunia. Peringatan ini semata untuk senantiasa mengingatkan serta menumbuhkan kesadaran terhadap wabah AIDS yang penyebarannya sudah sangat luas menggegas secara ganas di seluruh pelosok bumi.

Dalam Koran yang kubaca pagi ini pun, penyakit AIDS ini telah meranggah kepada ibu-ibu rumah tangga, bahkan di Jawa Barat, sekitar 9.79 % IRT mengidap penyakit ini.AIDS ini penyebarannya sangat luas, bisa dari jarum suntik, transfuse darah, bahkan ibu hamil bisa menularkan AIDS pada anak yang dikandungnya, sehingga memang BELUM TENTU bahwa penderita AIDS adalah seorang yang senang untuk bermain kelamin.dan kelamin.

AIDS merupakan sebuah akronim dari Acquired Immune Deficiency Syndrome, sebuah penyakit di mana sistem imun (atau tentara dalam tubuh kita) kita jadi mandul, alias kemampuannya berkurang. Mengingat fungsi sistem imun dalam tubuh kita untuk memberikan PENJAGAAN dari serangan-serangan luar seperti bakteri atau virus. Tak hanya itu, sisem imun kita pun memberikan PENJAGAAN dari pemberontakan yang terjadi dari dalam tubuh kita sendiri, yang apabila pemberontakan itu terjadi, timbullah sebuah penyakit yang kit kenal sebagai kanker. Maka, penderita AIDS tentulah akan sangat rentan terhadap bermacam penyakit seperti infeksi atau kanker.

Apa sih yang menyebabkan penyakit AIDS ini? Tak lain dan tak bukan adalah sebuah barang yang tak terlihat saking kecilnya, yaitu virus. Virus penyebab AIDS inilah yang dinamakan HIV (Human Immunodeficiency Virus). Ukurannya sangat imuuuut sekali. Bilamana kita mampu melihat bentuk sel darah merah kita, maka virus ini sekita 60 kali lipat lebih kecil dari sel darah merah kita. Bayangkan, betapa kecilnya biang kerok dari penyakit yang membuat geger dunia ini.

Ternyata, kejahatan sekecil apapun memiliki dampak yang mampu mengglobal. Mungkin, dalam kasus seks bebas misal, timbul sebuah pikiran seperti ‘semau gue dong!! Apa urusan lo??’. Ternyata, dampaknya pun mengglobal seperti ini. Bahkan, kejahatan kecil seperti yang telah dilakukan si virus ini membuat dunia memasuki kondisi ‘waspada’. Ternyata, tindakan sekecil ini kan senantiasa beresonansi sampai ke ranah global.

Namun berarti sebaliknya pun memungkinkan, kebaikan sekecil apapun tentulah akan memiliki dampak yang menyeluruh. Maka, apabila dunia sedang geger karena virus ‘pemandul’ imunitas, maka siapkah kita untuk bersama menjadi virus ‘penggiat’ imunitas? J

Dari makhluk kecil ini pun ternyata aku belajar tentang tiada gunanya kesombongan. Betapa tidak, kita yang senantiasa ‘besar’ seperti ini ternyata takluk kepada sebuah makhluk yang bahkan lebih kecil dari nyamuk. Sekali tepuk, matilah nyamuk. Namun, kita manusia kalah dari makhluk yang hanya sekecil ini. Maka memang, sejatinya tiadalah tempat bagi kesombongan untuk senantiasa hinggap.

Siapa yang tahu kalau sekarang kita merasa sehat-sehat saja namun, saking kecilnya HIV, tubuh ini ‘dirasuki’ tanpa sadar olehnya? Siapa yang tahu bahwa mungkin sekeliling kita sedang terkepung oleh makhluk kecil ini? Ketakutan ini senantiasa mengepung diri ini, namun ternyata akan jauh lebih baik apabila kita senantiasa berserah kepada kekuatan Yang Maha Besar yang senantiasa menyelimuti diri ini. J

Selamat hari AIDS sedunia..

-Bukti cinta bukanlah malam mingguan, namun pernikahan- J

Selasa, 29 November 2011

behind the scene: 'The Miracle of Death'

0komentar

Akhir-akhir, saya memang mencetak sebuah produk training baru yang berjudul ‘The Miracle of Death’. Banyak respon memang, dimulai dari respon ‘iiiiih, sereem amaat’, ‘apaan sih maksud lo?’, ‘hmm, menarik!!’, dan masih banyak lagi respon yang bagaikan pelangi, bermacam warnanya.

Terlepas dari bermacam respon di atas, saya pun senantiasa merenung tentang banyak hal, terutama tentang sebuah kepantasan. Seringkali sebua pertanyaan terlintas di kepala saya ‘kamu memang sudah sehebat apa sampai mampu untuk membawa training ‘seberat’ ini?’

Memang, saya belajar banyak dari sekeliling saya tentang integritas, yaitu bagaimana kita senantiasa selaras tindakan, ucapan, dan pikiran. Karena itu, ‘haram’ hukumnya bila saya tidak melakukan apa yang saya sampaikan. Jujur saja, sebagai manusia biasa, saya sendiri takut akan kematian. Takut akan ‘sensasi’ kematian yang sepertinya pedih tak terperi.

Hal ini membuat saya sempat galau selama dua minggu. Selama dua minggu, saya senantiasa menangis ria di kosan, saat saya mengingat mati. Bayangkan saja, saya takut akan mati. Hanya saja, saat saya belajar tentang kematian sel dalam dunia perkuliahan saya, saya semakin tercengang dan semakin tersentuh hati saya, karena ternyata tubuh kita senantiasa mati sepanjang hari.

Saya seram membayangkan bahwa usia darah merah hanya sekitar 120 hari, it means, setelah 120 hari, darah akan mati dalam pembuluh darah kita. Sehingga, kematian telah ada dalam pembuluh darah saya.

Saya ngeri membayangkan bahwa tulang kita ternyata tersusun lebih banyak berupa benda mati sehingga tulang mampu kokoh sekeras yang kita rasakan sekarang. Ternyata, tulang kokoh karena kematian…

Saya ngeri membayangkan bahwa sistem imun dalam tubuh kita senantiasa mati saat bertempur melawan serangan-serangan bakteri dari luar, dan ‘mayatnya’ pun bkan dibuang dari dalam tubuh kita..

Semakin banyak kurenungi, semakin merasa bahwa sebetulnya kematian sudah sangat dekat dengan diri ini. Bahkan, mau saya kabur kemanapun, saya kan senantiasa membawa tubuh yang dimana banyak sekali terdapat kematian yang tersimpan di dalamnya.

Lantas saya berpikir, selama ini saya senantiasa menempatkan ‘kematian’ sebagai ‘pelaku kejahatan’. Apakah iya bahwa kematian sama sekali tidak memiliki kebaikan sama sekali di dalamnya?

Saya tercengang dengan sebuah fakta bahwa tubuh kita senantiasa beregenerasi setiap waktu. Misalkan kulit. Herannya, kenapa kulit kita tidak senantiasa setebal kulit badak? Jawabnya satu, karena adanya penyeimbang regenerasi sel, yaitu KEMATIAN.

Tanpa adanya kematian, ternyata terjadilah sebuah penyakit yang dinamakan kanker, yang bisa sahabat simak kembali simaknya di sini. Semakin menangislah diriku bahwa ternyata betapa bodohnya diri ini, betapa piciknya melihat kematian sebagai ‘kejahatan’. Ternyata, kematian merupakan sahabat yang dirindukan.

Dengan mengingat kematian pun, saya merasakan bahwa tidak boleh terjadi waktu yang terbuang sia-sia. Dengan ingat mati, saya harus senantiasa mempersembahkan karya terbaik pada-Nya setiap waktu, dan harus senantiasa bergegas, tanpa pertimbangan panjang lagi untuk senantiasa berbuat baik. Intinya, di sini saya belajar bagaimana caranya menjadi distributor kebaikan.

Betapa piciknya diri ini memandang kematian. Betapa zalimnya pikiranku akan kematian. Ternyata, mengingat kematian kan senantiasa melejitkan kehidupan. Karena itu, aku semakin tersentuh saat melihat sebuah hadis berikut ini…

‘Aku tinggalkan kamu di atas jalan yang terang, dan aku tinggalkan untukmu dua juru nasihat, yang berbicara dan yang diam.

Penasihat berbicara ialah Al-Quran dan yang diam ialah Maut.

Apabila kamu menghadapi persoalan-persoalan yang musykil, maka kembalilah kepada Al-Quran dan Sunnah

Dan apabila hatimu kesat-kusut, maka tuntunlah dia dengan mengambil iktibar tentang peristiwa-peristiwa kematian’

Entahlah, karena hal ini, diri ini senantiasa mendapatkan panggilan untuk senantiasa menyebar tentang kematian. Semoga akan banyak pribadi-pribadi yang akan melejit karena mengingat kematian ini. Banyak pribadi-pribadi yang memberikan manfaat lebih terhadap sekitar.Banyak yang kan senantiasa berbuat yang terbaik di dunia ini, karena siapa tahu saya kan meninggal sedetik, sejam, atau se-siapa yang tahu. Semoga, kematian senantiasa berada dalam khusnul khatimah, mati dalam keadaan berbuat baik, mati dalam kondisi ibadah semurni-murninya karena-Nya. Aamiin

Bagi sahabat yang senantiasa ingin mengadakan training ini, sahabat bisa kontak sahabat perjuangan saya:

Nama FB: Regiasa Gardhika

Twitter: @regiasagardhika

no hp: 083821659590




Be A Lucky Person

0komentar

Menjadi orang yang beruntung. Siapa sih yang gak mau jadi orang yang beruntung?

Bahkan adik mentoring-ku pun pernah berujar bahwa ‘beruntung itu segalanya. Bahkan kepintaran setinggi gimana pun, tetap tak mampu mengalahkan keberuntungan. Saya pengen banget kang jadi orang yang senantiasa beruntung’.

Tentu rasanya nikmat apabila kita menjadi orang yang senantiasa beruntung setiap waktu. Mungkin gak ya menjadi orang yang senantiasa beruntung? Apakah ada langkah untuk menjadi orang yang senantiasa beruntung?

Ternyata, menjadi orang yang beruntung itu mudah karena kberuntungan itu memiliki rumusan tersendiri, yang dimana apabila kita senantiasa aplikasikan rumus ini, maka insya Allah kita senantiasa menjadi orang yang beruntung.

Keberuntungan adalah ketika dimana persiapan bertemu dengan kesempatan

Ya, untuk menjadi orang yang beruntung, kita senantiasa memerlukan persiapan. Untuk beruntung dalam hal akademis, tentulah persiapan belajar serta persiapan nyali pun perlu dimatangkan. Bagaimana mungkin mampu menjadi pribadi yang beruntung dalam bisnis apabila sama sekali tidak menyiapkan mental BERANI? Bagaimana mungkin membentuk keluarga yang beruntung bila persiapan untuk menikah saja masih MENANTI? Bagaimana mungkin akan ada lucky chance untuk berduet bersama penulis terkenal apabila persiapan untuk menulis pun belum disiapkan?

Maka, jadilah orang beruntung, persiapkan diri dari sekarang, dan pekalah terhadap bermacam kesempatan yang lalu lalang dalam kehidupan sehari-hari.

QS Al-Baqarah: 5

y7Í´¯»s9'ré& 4n?tã Wèd `ÏiB öNÎgÎn/§ ( y7Í´¯»s9'ré&ur ãNèd šcqßsÎ=øÿßJø9$# ÇÎÈ

mereka Itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung.

Jumat, 28 Oktober 2011

Si Unik

4komentar

Sudah merupakan hal yang lumrah bahwa mahasiswa FK tentunya ingin menjadi dokter, yang konon sebuah profesi yang masa depannya sudah terjamin, meskipun perlu dibayar mahal dengan biaya operasional pendidikan yang cukup tinggi serta waktu pendidikan yang tergolong lama. Atau bahkan memang semenjak kecil telah menjadi cita-cita mulianya. Hmm, betapa luar biasa ya profesi dokter ini, namun sayang, secara pribadi saya tidak berminat menjadi dokter meskipun sekarang saya adalah mahasiswa FK.

Loh, terus kamu mau jadi apa?

Kira-kira, itulah pertanyaan yang terlontar dari rekan bicaraku saat saya bilang apabila saya tidak mau menjadi dokter. Sebetulnya ada banyak alasan yang membuatku tak berminat untuk menjadi dokter, meskipun alasan utamanya adalah satu: bukan canun banget!

Dalam pandangan pribadiku, pendidikan memang merupakan salah satu bentuk standarisasi kemampuan seseorang. Dalam kasus pendidikan kedokteran, ini adalah standarisasi seseorang untuk menjadi dokter. Namun, saya agak menyayangkan apabila pendidikan membuat semua menjadi dokter ‘tok’. Justru kebalikannya, saya berpikir bahwa pendidikan seharusnya menjadi fasilitas yang memperkuat karakter seseorang. Sehingga, saya tidak mau menjadi seorang dokter, saya adalah seorang Ikhsanun Kamil Pratama, seorang Canun, sang Pencari Makna Kebaikan yang Sempurna. Ilmu-ilmu kedokteran yang telah saya pelajari selama ini justru semakin memperkuat karakter saya sebagai ‘Pencari Makna Kebaikan Yang Sempurna’. Hasil karya saya, yang bisa teman-teman nikmati dalam bentuk tulisan, buku (insya Allah), dan dalam training-training saya, sangat kental dengan nuansa hikmah dan inspirasi yang bias kita ambil dari peristiwa-peristiwa normal yang berada dalam tubuh kita. Bila anda melihat-lihat konten dari blog ini, tentulah anda bias merasakan bahwa saya memang ‘anomali’ seperti ini. Bisa dibilang, yang canun banget adalah ‘share and care’.

Alasan selanjutnya memang karena kerja dokter itu bukan canun banget. Dalam arti seperti ini. Memang, tugas kerja dokter secara teoritis ada 4, yaitu preventif alias pencegahan, promotif kesehatan alias peningkatan kesehatan, kuratif alias penyembuhan dari yang sakit, serta rehabilitative. Namun, dalam pandangan saya, kerja dokter hanya berkutat pada kuratif dan rehabilitatif. Dengan kata lain, banyak sekali kerja dokter yang saya lihat di lapangan hanya menunggu orang sakit.

Jujur secara pribadi, saya tidak mau ayah/ibu atau orang yang saya sayangi di sekitar saya sakit. Saya ingin bahwa orang sekitar saya senantiasa sehat. Maka, salah satu mimpi saya adalah membangun rumah sehat, dengan asumsi bahwa apabila rumah sakit itu banyak yang sakit kemudian ingin sembuh, maka rumah sehat adalah dimana orang-orang sehat yang tak ingin sakit. Ingin sekali saya mendirikan ini, sehingga fokus kerjaku adalah promotif dan preventif.

Apakah hal ini mungkin dilakukan? Saya melihat sebuah sosok yang luar biasa, sosok yang bahkan semasa hidupnya pun tak pernah sakit, beliau terserang sakit hanya saat mautnya telah mendekat. Selain itu, Ia senantiasa sehat wal’afiat. Tahukah engkau siapa sosok itu? Beliau adalah Muhammad SAW.

Luar biasa kan beliau mampu melakukan hidup sehat anti-sakit. Berarti hal ini memang mungkin untuk dilakukan, saya pengen banget melakukan perihal seperti ini. Bener-bener canun banget: share and care.

Berarti profesi saya apa ya? Hehe saya sendiri pun tidak tahu term-nya apa. Yang pasti, saya adalah mahasiswa FK unik yang tidak mau jadi dokter. Memang sih ‘melanggar’ mainstream. Namun apa salahnya saya ingin menjalani hidup ini berbeda dari orang kebanyakan? Bukankah, sidik jari masing-masing manusia tercipta berbeda? Bahkan, bukankah DNA anak kembar identik pun ternyata tidak sama susunannya? Masing-masing jiwa tercipta memang hanya ada satu-satunya di dunia. Untuk apa saya distandarisasi ‘tok’ menjadi hanya seorang dokter?

Maka, bila ditanya, kamu ingin menjadi apa?

Saya adalah seorang Ikhsanun Kamil Pratama yang berperan sebagai pencari makna kebaikan yang sempurna. Belajar dan berbagi mengisi peran di dunia sebagai seorang trainer kesehatan dan penulis. Dan saya ingin sekali membuat Rumah Sehat dan mencetak 1.000.000 orang preventor di Indonesia.

Lebih baik jadi diri sendiri toh? Karena, menjadi orang lain jatahnya sudah ada yang ambil J


Bagaimana dengan dirimu? J

Selasa, 11 Oktober 2011

Gelar

3komentar

Apa makna gelar bagimu?

Ikhsanun Kamil Pratama, CH, CHt, CI, C.NLP

Saat ini, inilah namaku lengkap dengan gelar yang diakui secara nasional dan internasional. Dan bahkan mungkin dalam beberapa waktu ke depan, akan bertambah dengan gelar S.Ked, karena lulus dari fakultas kedokteran Unpad. Bahkan, tambahan gelar dr pun mungkin akan kudapatkan bila diri ini lulus dari program ko-ass.

Jujur saja, aku tak ada niatan untuk menjadi seorang dokter. Meskipun memang secara teoritis, dokter bertugas di empat bidang,yaitu promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif. Namun sejauh yang saya lihat selama ini, dokter kerjanya menunggu orang sakit. Hal ini membuatku muak dengan dunia satu ini. Bahkan sempat terlintas dan sangat kuat niatanku untuk tidak mengambil ko-ass. Sehingga no wonder apabila banyak sekali yang bilang padaku untuk mengambil ko-ass dengan asumsi bahwa ‘S.Ked mah gak bisa apa-apa’.

Apa makna gelar bagimu?

Jujur, diri ini sama sekali tak tergoda oleh kemilau gelar ‘dokter’ yang diagung-agungkan kebanyakan masyarakat Indonesia sekalipun, sehingga mengambil ko-ass yang bertujuan hanya untuk mengambil gelar ‘dokter’ tuh ‘gak gue banget’.

Apa ya makna sebuah gelar?

Jujur saja, saya juga sempat takjub dan gemilau dengan gelar CH, CHt, CI yang saya dapatkan. Namun setelah mendapatkannya, seorang ‘Canun’ seolah menjadi ‘tenggelam’ karena gelar. Banyak orang yang lebih mengenaliku karena gelar yang kusandang, bukan karena namaku sendiri. Bukan karena ini adalah seorang ‘Canun’. Bilamana selama ini diri ini dikenal sebagai ‘calon dokter, hipnoterapis, penulis, trainer yang bernama Canun’, ingin sekali diri ini jauh lebih dikenal sebagai ‘Canun yang berperan sebagai hipnoterapis, penulis, trainer, dan dokter’. Intinya, diri ini tak ingin tenggelam dalam kolam gelar. Namun gelar hanyalah salahsatu fasilitas bagiku.

Namun, di sisi lain, diri ini merasa sangat bahagia dan senang saat melihat kakak kelas di kedokteran yangbegitu bahagia mendapatkan gelar S.Ked dengan lulus cum laude, berarti nilainya begitu memuaskan, sehingga membuatku berpikir dan bertekad bahwa

Saya, Ikhsanun Kamil Pratama, ingin sekali mendapatkan gelar ‘alm’ dengan lulus cum laude dalam fakultas kehidupan ini’

Ya, kelak saya pun akan mendapatkan sebuah gelar ‘alm’. Saya pun ingin bahagia seperti, atau bahkan lebih, kakak kelas saya. Bagaimana caranya saya mampu mendapatkan gelar ‘alm’ dan lulus cum laude dalam kehidupan ini? Dengan mencari makna sejati kebaikan yang sempurna, mengisi hidup ini dengan kebaikan tersebut, dan menyebarkannya seluas-luasnya selama jantungku masih berdetak.

Bagaimana denganmu?

Ikhsanun Kamil Pratama

Sang Pencari Makna Kebaikan Yang Sempurna

Minggu, 25 September 2011

kematian itu....

0komentar

Kematian, apakah suatu hal yang perlu ditakutkan?


Tak terkecuali diriku, yang sungguh sampai sekarang sangat takut akan yang namanya kematian. Entah apa yang berada di baliknya. Entah kesakitan seperti apa yang dialami orang yang mengalami kesakitan. Seolah seluruh tubuh ini ingin sekali menolak yang namanya kematian. ingin sekali hidup sampai beribu tahun lamanya. ya, memang hal yang lumrah.


Namun, ternyata ada satu peristiwa yang cukup menampar hati ini tentang kematian. Ini sebuah kisah tentang sebuah penyakit, yang sangat lumrah terjadi dalam kehidupan modern belakangan ini. Yang ternyata, hikmahnya begitu dalam dan begitu menyentuh palung hati. Penyakit yang biasa kita dengar sebagai kanker.


Ada apa gerangan dengan penyakit kanker?


Sel kanker merupakan sel yang sangat unik bin menarik untuk kita pelajari dan ambil hikmah bersama. Sel kanker merupakan sel yang sangat tamak, atau bisa dibilang sel ini merupakan sel yang ingin hidup abadi. Yang dimana ia tidak ingin mati, ia ingin mendapatkan nutrisi yang tiada berbatas. Dan tentu saja sel ini sangat ingin menghindari kematian sel yang ada dua jenisnya, yaitu nekrosis maupun apoptosis.

Kalau kita lihat orang yang telah mengidap penyakit kanker, tentunya sangat menderita sekali.Ada pertumbuhan yang sangat berlebih di tubuhnya.Ada pertumbuhan yang sangat ganas di suatu organ.Misal kanker payudara, maka sel-sel penyusun payudara tumbuh sangat berlebihan, sehingga timbullah benjolan yang sangat berbeda.

Apa yang terjadi dengan selnya?



Pada umumnya, ada beberapa kelas gen yang mengontrol pertumbuhan sel, yaitu proto-oncogen, DNA supressor gene, DNA repair gene, dan apoptotic gene. Yang dimana tentunya masing-masing dari gen ini memiliki fungsi tersendiri.

Proto-oncogen merupakan ‘gas’ dari pertumbuhan. Jadi fungsi dari gen ini untuk menggiatkan sel untuk senantiasa tumbuh. Dan apabila proto-oncogen adalah ‘gas’ pertumbuhan, maka DNA supressor gene merupakan ‘rem’ dari pertumbuhan. Yang men-stop pertumbuhan sel agar tidak berlebihan.

Sedangkan DNA Repair gene, sesuai namanya,merupakan jenis gen yang berfungsi sebagai tukang reparasi. Apabila terdapat salah satu gen yang perlu perbaikan, maka direparasilah oleh gen ini. Dan apoptotic gene merupakan gen yang menggiatkan selnya untuk senantiasa berapoptosis.

Kanker akan terjadi apabila minimal 2 dari 4 kelas ini mengalami ‘kelainan’. Misal, apabila remnya blong dan yang memperbaikinya pun tiada, maka terjadilah pertumbuhan yang tidak terkendali.

Apabila telah terjadi kanker, sel ini betul-betul menjadi sel yang serakah. Ia betul-betul ingin hidup abadi dan betul-betul menginginkan seluruh nutrisi (bisa dibilang nutrisi sebagai ‘uang’ bagi sel) hanya untuk dirinya sendiri.. Sebutlah sel payudara yang mengalami kanker, sel ini akan mulai membentuk pembuluh darah (angiogenesis) yang khusus hanya bagi dirinya sendiri, sehingga darah yang membawa nutrisi akan langsung menuju dirinya sendiri. Semacam by pass, jalur khusus yang sengaja ia ciptakan untuk membajak nutrisi.

Apa dampaknya? Mungkin anda pernah melihat orang yang mengidap kanker dalam jangka waktu yang cukup lama akan mengalami penurunan berat badan secara drastis, menjadi betul-betul kurus kering bagai tulang berbalut kulit. Kondisi inilah yang dinamakan cachexia.Semua ini dikarenakan adanya nutrisi yang dirampok sehingga nutrisi yang didapat tidak menyebar secara merata.Inilah dampak dari ketamakan.

Dan menariknya lagi, sel ini betul-betul menghindari apoptosis melalui bermacam mekanisme selulernya, ia betul-betul berusaha sebisa mungkin untuk menghindari kematian yang senantiasa mendekati dia sepanjang waktu. Sel kanker merupakan bukti nyata bahwa sel ini adalah sebuah sel yang memang betul-betul menginginkan keabadian dalam hidupnya. Tanpa menyadari bahwa kematian pastilah kan mendekatinya selama ia masih berstatus ‘hidup’.

Apakah berarti, kematian memiliki nilai tambah di matamu??

 

Ikhsanun Kamil Pratama © 2010

Blogger Templates by Splashy Templates