Kamis, 21 Februari 2013
Mau Nikah? Packing Yuk...
Jumat, 12 Oktober 2012
Berbisnis dari Hati
Hal yang begitu banyak terpikirkan dalam benak kebanyakan orang, termasuk saya beberapa tahun sebelumnya bahwa bisnis itu jahat, bisnis itu PASTI diperbudak sama uang, alias money-oriented selalu, bahkan saking jahatnya, saya pernah men-cap sangat rendah bahwa bisnis itu gak manusiawi, karena seolah semua buta oleh uang.
Hanya saja, betulkah yang namanya pelaku bisnis hanya kejar uang?
Perjalananku beberapa tahun terakhir ini membuka mata saya bahwa bisnis bisa jadi sumber kebaikan, bisa jadi sumber kejahatan, tergantung PELAKU BISNISnya. Bila si pebisnis ini hanya mengincar profit, boleh jadi bisnisnya bisa bawa kehancuran bagi sekelilingnya. Namun, bila sang pebisnis berbisnis untuk BERIBADAH bantu orang lain, insyaAllah hal ini membawa kebaikan yang luar biasa. Semua memang kembali pada NIAT.
Loh, berbisnis bantu orang lain memang seperti apa?
Untuk meminum air kelapa segar, tentu akan lebih mudah bila air kelapa sudah tersedia pada penjualnya, daripada kita harus manjat sendiri, petik sendiri, ambil sendiri, 'kupas' sendiri. Pedagang kelapa, disadari atau tidak, sebetulnya telah membantu kita dalam proses mempersiapkan air kelapa yang begitu menyegarkan untuk dihirup. Maka, sebagai bentuk apresiasi kita kepada pedagang kelapa tersebut, kita berikan upahnya...
Begitu pun sama halnya ketika kita membeli beras di supermarket, kita sangat terbantu oleh bermacam pihak, seperti petani, jasa angkutan, dan bermacam hal lainnya. Maka dalam hal itu, wajar bila kita memberi apresiasi berupa upah harga yang harus dibayar. Justru, betapa kurang ajarnya bila kita memiliki mental GRATISAN, seenak udel minta gratis namun sama sekali tanpa memikirkan jasa begitu banyak orang yang telah berjuang membantunya. BUANG mental gratisan pada tempatnya, hanya terima gratis jika penyedia barang/jasa dengan ikhlas betul2 mau digratiskan...
Maka, dalam pandangan saya, berbisnis itu sama saja dengan tebar manfaat. Bila begitu banyak mereka yang berjualan baso tikus + borax, tentunya bila kamu buka bisnis baso yang betul-betul sehat tanpa borax, baso tikus, dan bermacam zat berbahaya lainnya, itu saja sudah membantu banyak orang untuk mendapatkan baso yang sehat, kan?
Maka, apakah yang namanya bisnis PASTI money-oriented?
Ooh tidak selalu, itu semua tergantung kembali pada orangnya. Memang sih, ada pebisnis yang betul-betul mengincar profit semata. Jualan obat secara buta ke banyak pasien demi rumah, jualan susu formula ke banyak ibu2 menyusui demi mendapat mobil, 'memaksa' operasi caesar kepada ibu melahirkan yang sebetulnya tidak membutuhkan. Hal seperti ini sudah banyak yang melakukan. PASTIKAN yang melakukannya bukan kamu...
Justru, berbisnislah dengan hati. Berbisnis dengan niat untuk bantu orang lain. Entah kamu mau jadi makelar, atau apapun, pastikan selalu barang/jasa yang kamu jual membawa kebaikan bagi sekitar. Tentunya, me-marketing-kan barang/jasa tersebut berarti sama dengan me-marketing-kan kebaikan. Penulis buku yang me-marketing-kan bukunya, bila ia yakin bahwa bukunya banyak kebaikan di dalamnya, maka marketing-kan bukunya sendiri, agar kebaikan itu banyak meresap ke banyak orang. Seorang pedagang makanan, bila ia yakin bahwa makanannya begitu bergizi tinggi untuk menyehatkan banyak orang, maka JUAL kebaikan itu.
Bersiaplah jadi orang kaya, yang berbisnis dari hati. Serta bersiap untuk jadi orang yang berani kaya dan berani bertaqwa...
Jumat, 14 September 2012
uang, kaya, dan dokter
Dokter miskin, gak dibayar jasanya langsung panas dingin. Dokter kaya? Lebih ikhlas kalo gak dibayar sama sekali jasanya, bahkan bisa bayarin obatnya bagi pasien tak mampu.
Minggu, 18 Maret 2012
Argo Taksi

Rabu, 14 Desember 2011
dari warteg menuju salon kecantikan
Semua bermula pagi ini, saat saya mencari sarapan. Yah, biasalah namanya juga mahasiswa, jadi makan secukupnya, sekenyangnya, dan semurahnya, dan yang penting enak. Kebetulan, uang di dompet sangat pas-pasan, maka sarapan pagi ini saya makan di warteg, lumayan minuman pun gratis. Hhehe
Menu sarapan yang saya pilih pagi ini adalah nasi, kerang, telor dadar, dan perkedel kentang. Hehe jangan ditiru ya, ini contoh menu yang cukup buruk, sama sekali saya gak pilih sayur. Biasanya juga langsung dijewer ibu di rumah :p
Namun memang, yang namanya inspirasi pasti Allah sisipkan dimana-mana, asalkan kita mencarinya. Kebetulan, saya ke warteg lupa membawa buku bacaan saya, sehingga saya makan sambil bengong, sambil merenung, sambil bertafakkur.
Kembali teringat bahwa apa yang saya makan adalah hewan, yang dimana tubuhnya tersusun dari protein, sebagian besarnya. Hampir semua hewan penyusun tubuhnya adalah protein, sehingga saat saya memakan hewani, itu pun akan menyumbang untuk proses pembentukan tubuh kita.
Tak bisa dipungkiri bahwa secara material, manusia dan hewan tersusun dari zat yang sama, yaitu protein. Wajah kita, tangan kita, kaki kita, semuanya tersusun sebagian besar dari protein. Organ-organ daleman kita pun semua tersusun dari protein, sehingga kualitas kesehatan kita memang sangat dipengaruhi dari apa yang kita makan.
Oh iya, saya mau sedikit koreksi pernyataan saya di atas barusan. Sebetulnya, tubuh makhluk hidup sebagian besar bukan tersusun dari protein, namun air. Hal ini jugalah yang membuat saya merenungi tentang air minum yang saya minum pagi tadi. Kualitas air minum mempengaruhi kualitas tubuh manusia. Begitu juga dengan makhluk hidup lainnya yang sangat memerlukan air untuk hidup.
Intinya, secara material, manusia dan hewan itu sama. Karena itu secara taksonomi, manusia dimasukkan ke kerajaan binatang, alias kingdom mamalia.
Apa artinya? Artinya, yang membedakan manusia dan makhluk lainnya adalah kualitas kejiwaannya. Semakin baik kualitas kejiwaannya maka semakin tinggi pula derajat manusia di mataNya.
Mungkin boleh dibilang bahwa, dalam konteks mencari dan menjemput pasangan hidup, memang akan jauh lebih baik apabila yang dipantau adalah kecantikan jiwanya. Bagaimana mengukurnya? Entahlah, saya bukan yang ahli dalam bidang ini.
Apalah arti dari kecantikan dan kegantengan luar? Memang penting, namun bilamana ini menjadi suatu faktor utama, yah kita bisa tarik kesimpulan bersama. Tak bisa dipungkiri bahwa penilaian kita akan sesuatu terbatas dari panca indera kita. Hanya dari mata yang seluas kurang lebih 5 cm, seolah kita telah mampu melihat seisi dunia. Hanya dari telinga yang ukurannya tidak sampai sejengkal, kita merasa telah mampu mendengar bermacam kenyataan. Yah, panca indera memang merupakan keterbatasan.
Kembali ke konteks protein, bahwa perempuan secantik apapun atau pria terganteng sedunia pun pada dasarnya ‘hanyalah’ onggokan protein dan air. There’s nothing special in it. Secara fisik, tiada beda antara manusia dan hewan. Dalam pandanganku, penilaian manusia yang hanya berdasar dari luar saja memang kurang menghargai manusia sebenar-benarnya. Karena yang membedakan manusia dan hewan adalah kualitas jiwanya.
Terutama dalam konteks mencari pasangan, karena memang kualitas jiwa seseorang memiliki batasan serta kekurangan tersendiri, rasanya akan jauh lebih baik ‘menseleksi’ sesuai dengan kualitas jiwanya. Kualitas jiwa pasanganku yang kelak melengkapi kualitas jiwaku, serta kualitas jiwaku yang melengkapi kualitas jiwa pasanganku kelak, dan rumahku kan menjadi salon kecantikan jiwa bagi para penghuni di dalamnya...
Jumat, 28 Oktober 2011
Si Unik
Sudah merupakan hal yang lumrah bahwa mahasiswa FK tentunya ingin menjadi dokter, yang konon sebuah profesi yang masa depannya sudah terjamin, meskipun perlu dibayar mahal dengan biaya operasional pendidikan yang cukup tinggi serta waktu pendidikan yang tergolong lama. Atau bahkan memang semenjak kecil telah menjadi cita-cita mulianya. Hmm, betapa luar biasa ya profesi dokter ini, namun sayang, secara pribadi saya tidak berminat menjadi dokter meskipun sekarang saya adalah mahasiswa FK.
‘Loh, terus kamu mau jadi apa?’
Kira-kira, itulah pertanyaan yang terlontar dari rekan bicaraku saat saya bilang apabila saya tidak mau menjadi dokter. Sebetulnya ada banyak alasan yang membuatku tak berminat untuk menjadi dokter, meskipun alasan utamanya adalah satu: bukan canun banget!
Dalam pandangan pribadiku, pendidikan memang merupakan salah satu bentuk standarisasi kemampuan seseorang. Dalam kasus pendidikan kedokteran, ini adalah standarisasi seseorang untuk menjadi dokter. Namun, saya agak menyayangkan apabila pendidikan membuat semua menjadi dokter ‘tok’. Justru kebalikannya, saya berpikir bahwa pendidikan seharusnya menjadi fasilitas yang memperkuat karakter seseorang. Sehingga, saya tidak mau menjadi seorang dokter, saya adalah seorang Ikhsanun Kamil Pratama, seorang Canun, sang Pencari Makna Kebaikan yang Sempurna. Ilmu-ilmu kedokteran yang telah saya pelajari selama ini justru semakin memperkuat karakter saya sebagai ‘Pencari Makna Kebaikan Yang Sempurna’. Hasil karya saya, yang bisa teman-teman nikmati dalam bentuk tulisan, buku (insya Allah), dan dalam training-training saya, sangat kental dengan nuansa hikmah dan inspirasi yang bias kita ambil dari peristiwa-peristiwa normal yang berada dalam tubuh kita. Bila anda melihat-lihat konten dari blog ini, tentulah anda bias merasakan bahwa saya memang ‘anomali’ seperti ini. Bisa dibilang, yang canun banget adalah ‘share and care’.
Alasan selanjutnya memang karena kerja dokter itu bukan canun banget. Dalam arti seperti ini. Memang, tugas kerja dokter secara teoritis ada 4, yaitu preventif alias pencegahan, promotif kesehatan alias peningkatan kesehatan, kuratif alias penyembuhan dari yang sakit, serta rehabilitative. Namun, dalam pandangan saya, kerja dokter hanya berkutat pada kuratif dan rehabilitatif. Dengan kata lain, banyak sekali kerja dokter yang saya lihat di lapangan hanya menunggu orang sakit.
Jujur secara pribadi, saya tidak mau ayah/ibu atau orang yang saya sayangi di sekitar saya sakit. Saya ingin bahwa orang sekitar saya senantiasa sehat. Maka, salah satu mimpi saya adalah membangun rumah sehat, dengan asumsi bahwa apabila rumah sakit itu banyak yang sakit kemudian ingin sembuh, maka rumah sehat adalah dimana orang-orang sehat yang tak ingin sakit. Ingin sekali saya mendirikan ini, sehingga fokus kerjaku adalah promotif dan preventif.
Apakah hal ini mungkin dilakukan? Saya melihat sebuah sosok yang luar biasa, sosok yang bahkan semasa hidupnya pun tak pernah sakit, beliau terserang sakit hanya saat mautnya telah mendekat. Selain itu, Ia senantiasa sehat wal’afiat. Tahukah engkau siapa sosok itu? Beliau adalah Muhammad SAW.
Luar biasa kan beliau mampu melakukan hidup sehat anti-sakit. Berarti hal ini memang mungkin untuk dilakukan, saya pengen banget melakukan perihal seperti ini. Bener-bener canun banget: share and care.
Berarti profesi saya apa ya? Hehe saya sendiri pun tidak tahu term-nya apa. Yang pasti, saya adalah mahasiswa FK unik yang tidak mau jadi dokter. Memang sih ‘melanggar’ mainstream. Namun apa salahnya saya ingin menjalani hidup ini berbeda dari orang kebanyakan? Bukankah, sidik jari masing-masing manusia tercipta berbeda? Bahkan, bukankah DNA anak kembar identik pun ternyata tidak sama susunannya? Masing-masing jiwa tercipta memang hanya ada satu-satunya di dunia. Untuk apa saya distandarisasi ‘tok’ menjadi hanya seorang dokter?
Maka, bila ditanya, kamu ingin menjadi apa?
Saya adalah seorang Ikhsanun Kamil Pratama yang berperan sebagai pencari makna kebaikan yang sempurna. Belajar dan berbagi mengisi peran di dunia sebagai seorang trainer kesehatan dan penulis. Dan saya ingin sekali membuat Rumah Sehat dan mencetak 1.000.000 orang preventor di Indonesia.
Lebih baik jadi diri sendiri toh? Karena, menjadi orang lain jatahnya sudah ada yang ambil J
Bagaimana dengan dirimu? J
Selasa, 11 Oktober 2011
Gelar
Apa makna gelar bagimu?
Ikhsanun Kamil Pratama, CH, CHt, CI, C.NLP
Saat ini, inilah namaku lengkap dengan gelar yang diakui secara nasional dan internasional. Dan bahkan mungkin dalam beberapa waktu ke depan, akan bertambah dengan gelar S.Ked, karena lulus dari fakultas kedokteran Unpad. Bahkan, tambahan gelar dr pun mungkin akan kudapatkan bila diri ini lulus dari program ko-ass.
Jujur saja, aku tak ada niatan untuk menjadi seorang dokter. Meskipun memang secara teoritis, dokter bertugas di empat bidang,yaitu promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif. Namun sejauh yang saya lihat selama ini, dokter kerjanya menunggu orang sakit. Hal ini membuatku muak dengan dunia satu ini. Bahkan sempat terlintas dan sangat kuat niatanku untuk tidak mengambil ko-ass. Sehingga no wonder apabila banyak sekali yang bilang padaku untuk mengambil ko-ass dengan asumsi bahwa ‘S.Ked mah gak bisa apa-apa’.
Apa makna gelar bagimu?
Jujur, diri ini sama sekali tak tergoda oleh kemilau gelar ‘dokter’ yang diagung-agungkan kebanyakan masyarakat Indonesia sekalipun, sehingga mengambil ko-ass yang bertujuan hanya untuk mengambil gelar ‘dokter’ tuh ‘gak gue banget’.
Apa ya makna sebuah gelar?
Jujur saja, saya juga sempat takjub dan gemilau dengan gelar CH, CHt, CI yang saya dapatkan. Namun setelah mendapatkannya, seorang ‘Canun’ seolah menjadi ‘tenggelam’ karena gelar. Banyak orang yang lebih mengenaliku karena gelar yang kusandang, bukan karena namaku sendiri. Bukan karena ini adalah seorang ‘Canun’. Bilamana selama ini diri ini dikenal sebagai ‘calon dokter, hipnoterapis, penulis, trainer yang bernama Canun’, ingin sekali diri ini jauh lebih dikenal sebagai ‘Canun yang berperan sebagai hipnoterapis, penulis, trainer, dan dokter’. Intinya, diri ini tak ingin tenggelam dalam kolam gelar. Namun gelar hanyalah salahsatu fasilitas bagiku.
Namun, di sisi lain, diri ini merasa sangat bahagia dan senang saat melihat kakak kelas di kedokteran yangbegitu bahagia mendapatkan gelar S.Ked dengan lulus cum laude, berarti nilainya begitu memuaskan, sehingga membuatku berpikir dan bertekad bahwa
‘Saya, Ikhsanun Kamil Pratama, ingin sekali mendapatkan gelar ‘alm’ dengan lulus cum laude dalam fakultas kehidupan ini’
Ya, kelak saya pun akan mendapatkan sebuah gelar ‘alm’. Saya pun ingin bahagia seperti, atau bahkan lebih, kakak kelas saya. Bagaimana caranya saya mampu mendapatkan gelar ‘alm’ dan lulus cum laude dalam kehidupan ini? Dengan mencari makna sejati kebaikan yang sempurna, mengisi hidup ini dengan kebaikan tersebut, dan menyebarkannya seluas-luasnya selama jantungku masih berdetak.
Bagaimana denganmu?
Ikhsanun Kamil Pratama
Sang Pencari Makna Kebaikan Yang Sempurna
Minggu, 26 Juni 2011
Rahman
Wahai kekasih,,
Tak salah Tuhan titipkan ‘rasa’ ini dalam hatiku padamu,,
Engkau curahkan sifat rahman-mu padaku,,
Mencairkan kebencian dalam hati,,
Dan menyentuh kalbuku dengan lembutnya,,
Membuatku tersadar,,
Betapa Maha Rahman Allah, yang telah menitipkan sebagian kecil sifat rahman-Nya padamu
Sehingga ku tak sanggup membayangkan, seberapa Rahman Allah…
Ya Allah Ya Rahman
Sungguh, aku cinta kamu karena Allah
Karena kau telah mendekatkanku pada-Nya
Ya Allah, muliakanlah ia kelak di sisi-Mu selalu
(sepotong cinta dari rumah Allah)
26 Juni 2011
Rabu, 22 Juni 2011
Perfeksionis is Bullshit
Seringkali kita menunggu kesempurnaan untuk melakukan sesuatu….
Padahal kesempurnaan kan didapat apabila kita MELAKUKAN terlebih dahulu....
Sungguh, kejadian ini yang kualami dulu, tepatnya pada awal tahun 2010. Saat saya dan teman-teman saya memutuskan untuk membentuk sebuah lembaga training.
Apa yang kami lakukan saat itu? Bingung mencari-cari konsep tentang kemana lembaga ini harus dibawa, bagaimana dengan pergi ke notaris, bagaimana dengan SWOT dari masing-masing kita, dan seterusnya. Saat itu, saya begitu dipusingkan dengan yang namanya 'kesempurnaan lembaga'.
Apa dampaknya dari kejadian itu? Ya, saya menganggur selama 1 tahun. Bayangkan kawan, 1 TAHUN!! 1 tahun saya hanya duduk termenung tidak melakukan apa-apa.
Sampai pada awal tahun 2011, pada acara Youth Empowerment Congress yang digelar oleh tim kang Harri n d'geng, saya banyak bertanya-tanya kepada kang Harri, bertemu dengan kang Surya. Dan ternyata, menjadi trainer sangat mudah. Guess what?
Ya, keberanian untuk TERJUN terlebih dahulu. Ternyata caranya sangat mudah. Pada awal tahun 2011, saya bersama teman-teman saya langsung saja beraksi untuk membuka sebuah public training.Padahal, hal-hal yang semula kupertanyakan pada awal tahun 2010 BELUM ADA SAMA SEKALI. Saya pribadi baru mengajak teman-teman saya dan berkata 'eh, tanggal X event pertama kita ya'. Belum terbentuk visi misi lembaga, belum melakukan analisa SWOT SDM. Yang pasti apa yang saya lakukan adalah TERJUN terlebih dahulu.
Layaknya saya yang dulu belajar untuk berenang. Apa yang terjadi kalau saya harus menunggu asupan teori tentang cara belajar yang renang seperti apa, tentang bagaimana cara perenang tingkat dunia berenang, lalu menunggu saya harus bisa berenang dulu baru berenang? Ternyata memang, saya harus NYEMPLUNG terlebih dahulu. Memang pada awalnya saya pasti tenggelam, namun justru bukankah dengan tenggelam kita menjadi belajar dan menjadi pribadi yang lebih baik lagi? Ya, saat belajar berenang ini, saya menjadi seorang yang PROGRESIONIS, yang senantiasa memperbaiki diri dan menjadi lebih baik lagi.
Karena itulah, menurut saya PERFEKSIONIS merupakan kualitas TERENDAH dalam kehidupan, karena ia harus menunggu semua sempurna, seperti diri saya pada awal tahun 2010. Lantas apa yang didapat? KOSONG. Dengan menjadi seorang PROGRESIONIS, saya belajar nyata dari apa yang saya alami. Saya mendapatkan hasil walaupun bernilai 1, yang dimana pada kemudian hari saya tingkatkan menjadi 2, karena sebuah evaluasi tentunya. Sebuah evaluasi secara terus-menerus yang insya Allah kan didapat nilai 100, walau saya yakin bahwa kesempurnaan hanya milik Allah SWT semata.
Jadi perfeksionis?? No Way!!
Progresionis?? It's my Way!!
'Lebih baik membersihkan toilet umum daripada berwacana setinggi langit'
-Ikhsanun Kamil Pratama, CH, CHt, CI-
Brain Booster of Primordia
Trainer special berbasis medis
specialized in human empowerment, health, and education
National Certified Hypnotist, Hypnotherapist, and Instructor
Rabu, 01 Juni 2011
Integritas
Minggu, 17 April 2011
visi hidupku
Selasa, 12 April 2011
Menjemputmu Dengan Takut dan Harap
Bismillah
Assalamu’alaikum wr wb.
Wahai calon istriku, entah mengapa aku berubah menjadi melankolis. Kuingin engkau tahu bahwa sejuta daya ledak motivasi mengalir dalam darahku untuk menjemputmu. Sejuta buai cinta mengalir dalam syarafku. Sejuta cita dan asa untuk datang ke depanmu. Sejuta, ah sudahlah, memang aku tak pandai beretorika.
Namun, sejuta tak lagi menjadi sejuta. Cita pun bernoda lara. Gembira terkosongi sebagian hampa. Karena satu rasa dalam dada, yaitu takut.
Ah, tolong jangan memalingkan muka terlebih dahulu. Dengarkanlah dulu diriku, simaklah surat ini meski pilu mewarnai hati. Satu harapku :bacalah ini sampai akhir. Bukankah, takut merupakan hal yang manusiawi?
Kuakui, sejuta motivasiku untuk menjemputmu tak beriring dengan pikir jernih. Aku cukup tertampar dengan cerita Baginda Rasulullah SAW. Engkau pernah mendengar nama Hafsah? Ya, beliau adalah salah satu istri Rasul dulu, sekaligus anak dari Umar bin Khattab, sahabat dekat Rasul. Dari sekian jumlah istri Rasul, Hafsah adalah satu-satunya istri Rasul yang pernah diceraikan karena terjadi sedikit kesalahpahaman dengan Mariyah al-Qibthiyah, salah satu istri Rasul. Bila engkau berada di posisi Hafsah, bagaimana perasaanmu diceraikan suamimu?
Memang, meskipun pada akhirnya Hafsah dirujuk kembali, namun perceraian terjadi di rumah tangga Rasulullah. Ah, siapalah aku? Tiada banding diriku dengan Rasulullah. Kemungkinan cerai pun akan jauh lebih besar. Ini adalah problema yang perlu kita hindari bersama. Bukan hanya sekedar ‘engkau jodohku, milikku selamanya, dan kita kan mengabadi’. Ini adalah perjuangan yang harus kita jalani bersama. Inilah ketakutan pertamaku.
Hei, apa engkau tahu? Otak pria sangat tajam dalam masalah visuospasial. Tubuh wanita merupakan makanan yang nikmat bagi mata pria, mataku. Mungkin engkau bertanya-tanya tentang hal ini, bahwa perihal seks pun menjadi halal.
Ah tolong maafkan aku. Aku cukup terhentak dengan berita-berita koran dan infotainment. Banyak sekali berita tentang kawin kontrak. Banyak sekali para tokoh layar kaca yang berucap ‘kalo mo ‘gigituan’ kan halal, wong udah nikah’ begitu entengnya. Engkau menangkap ketakutan keduaku?
‘Zina dalam pernikahan’. Ya, zina bertopeng nikah. Mungkin term inilah yang paling cocok menggambarkan hal ini. Bahkan, bukankah dalam Al-Quran pun memberikan himbauan untuk tidak melakukan ini, bukan? Lantas, siapa diriku? Aku hanyalah seorang pria. Sungguh, ketakutan yang amat sangat bagiku bila kelak memandangmu hanya ‘seonggok tubuh’ saja. Tak memandang dirimu secara keseluruhan. Hanya mencintai tubuhmu, bukan dirimu. Meskipun hanya sesaat. Sungguh, aku takut.
Hei, aku pun tertegun dengan sebuah cerita. Ini pun berkisah tentang sang manusia agung, Rasulullah. Betapa dia memiliki sifat entrepreneurship yang luar biasa dahsyat, kekayaannya sebetulnya sangat melimpah ruah. Namun, kekayaannya itu ia tutupi oleh baju kesederhanaan. Kekayaannya pun berdifusi, senantiasa mengalir kepada sekitarnya yang membutuhkan.
Ah, lihatlah diriku. Yang telah berumur kepala dua tetap belum mandiri. Yang baru saja menyadari pentingnya entrepreneurship. Saat ini aku hanyalah sosok yang sok kaya, namun sebetulnya miskin. Sungguh bagaikan sisi uang logam aku dengan Rasul. Kalaulah Rasul menutupi kekayaan dengan kesederhanaan, sehelai baju terindah sepanjang masa. Maka, aku menutupi kemiskinanku dengan selendang kesombongan, selendang kekayaan. Parahnya, selendang ini pun bukanlah hasil tetes keringatku, namun orangtuaku.
Dan hal yang menjadi tantangan utama adalah saat aku berusaha untuk mengikuti apa yang diperbuat oleh sang suri tauladan kita, Rasulullah, dengan istri tercintanya, Khadijah. Engkau boleh tidak setuju, namun menurutku, kisah cinta mereka merupakan kisah teromantis sepanjang masa. Bagaimana tidak, bahkan cinta mereka pun mampu kita rasakan sampai sekarang.
Apa buktinya? Tidak perlu jauh-jauh, apa yang kita rasakan tiap hari, apa yang selalu kita syukuri, itu adalah buah dari bibit cinta mereka. Itu adalah Islam. Islam yang selalu kita nikmati sampai detik ini, ternyata terlahir dari kamar sepasang kekasih.
Bayangkanlah, apa kiranya yang terjadi pada saat itu, saat dimana Rasulullah mendapatkan wahyu pertamanya, kemudian tiada Khadijah di sampingnya? Mungkin, Islam takkan tersebarkan seperti ini. Mengingat, kondisi Rasul saat penerimaan wahyu pertamanya pun betul-betul mengguncang kondisi mentalnya. Karena ada sosok istri tercinta yang senantiasa mengirimkan cinta tulus padanyalah, Rasul mampu bangkit dari kondisi yang mengguncangkan jiwa ini, saking besarnya amanah baru yang ditanggungnya. Tak semudah pengakuan orang-orang sekarang bahwa dirinya adalah nabi.
Lihatlah kejadian ini. Ternyata, cinta sang teladan kita pun bukan hanya ‘cinta aku kamu’. Bukanlah cinta yang hanya menonjolkan diriku dan dirimu, dan meniadakan makhluk lain, yang menjadikan dunia hanya milik berdua. Namun lihatlah, bahwa cintanya merupakan sebuah cinta yang rahmatan lil ‘aalaamiin, cinta yang cintanya menyebar ke seantero jagat raya.
Engkau boleh tak setuju, namun jujur, perihal inilah yang perlu kurenungkan. Bahwa, apa yang akan kita tempuh bukan semudah air yang mengalir dari hulu ke hilir. Dan kesimpulan yang mengguncang hatiku adalah bahwa seseorang tak pantas disebut kekasih apabila tidak mendekatkan diri kita sendiri kepada Allah. Ketakutan pun menjelmaku, bahwa aku belum tentu layak disebut kekasih. Namun, aku takkan berpangku tangan saja. Aku pun kan senantiasa menjelma menjadi seorang kekasih. Meskipun bagiku, cinta itu sendiri tak terjamah definisi.
Nah, siapkah engkau menjadi seorang kekasih? Karena aku pun akan senantiasa menjemputmu dengan takut dan harapku
Minggu, 21 November 2010
sahabat
Selasa, 05 Oktober 2010
Sebuah Nama Untukmu
Bismillahirrahmaanirrahiim
Anakku sayang,
Saat ini memang engkau belum pentas di muka bumi ini. Dan entah berapa tahun kemudian engkau hadir di dunia ini. Bila Tuhan mengijinkan, kuingin engkau berada dalam peluk timangku sambil terbata-bata mengucapkan ‘Ayah’ atau ‘Papa’. Tak lupa pula engkau kembangkan senyum manismu kepada ayahmu. Senyum manis yang dapat menghilangkan beban pikir dalam benakku.
Anakku sayang,
Ngomong-ngomong, ayah belum memiliki rancangan gelar yang akan kau sandang. sebuah gelar yang tersimpan doa dan harapan di dalamnya. Sebuah gelar yang akan menjadi semangat hidupmu. Sebuah gelar yang akan mewarnai esensi kehidupanmu ke depannya. Ya, ayah belum memiliki sebuah nama untuk diwariskan kepadamu, nak. Sungguh, ayah malu.
Apa engkau tidak penasaran dengan nama ayah, nak?? Makna nama ayah cukup berat, nak. Yaitu ‘Kebaikan Yang Sempurna’. Bagaimana mungkin seorang manusia memiliki sebuah kebaikan yang sempurna?? Sungguh mustahil bukan nak??
Berbeda jauh dengan makna gelarku, ayah malah tidak memiliki semangat ‘kebaikan’ itu. Seringkali, ayah menyusahkan ibuku, nenekmu. Bahkan semenjak ayah masih berada dalam kandungan nenek.
Bayangkan saja nak, ayahmu berada 9 bulan dalam kandungan nenekmu. Cukup merepotkan bukan?? Terutama saat-saat menjelang kelahiran ayah.
Pada tanggal 30 April 1990 pagi, nenekmu masuk rumah sakit karena sudah bukaan 3. Masa-masa di mana ayah akan ‘terjun’ ke dunia ini. Dokter kandungan telah memperkirakan bahwa kelahiran akan terjadi sore harinya. Namun kenyataan berkata lain. Nenekmu tetap dalam kondisi bukaan 3 sampai tanggal 1 Mei 1990 paginya.
Mulailah sang dokter kandungan memberikan induksi Oxytocin untuk memperkuat kontraksi rahim. Namun entah mengapa, kondisi nenekmu saat itu tetap bukaan 3!! Karena kondisi yang terlampau lama, terjadilah pendarahan yang cukup banyak, sehingga kondisi jantung nenekmu melemah. Saat itu, ayah membahayakan nyawa nenekmu, nak.
Selidik-selidik, ternyata saat itu badan ayahmu cukup besar nak, sehingga menyebabkan kondisi dystocia, yaitu kondisi di mana ayah sulit untuk dilahirkan. Maka, nenekmu dengan segera dibawa menuju ruang bedah. Bayangkan nak. Ruang bedah!! Bukan ruang persalinan. Pasukan medis pun terdiri dari dokter kandungan, dokter penyakit dalam, dokter anak, dan dua bidan.
Dengan dipantaunya jantung nenekmu oleh dokter penyakit dalam, para bidan kemudian mendorong perut nenek, sedangkan kepala ayah saat itu di-vakum. Namun sayang, usaha vakum gagal. Ayah masih nyangkut di dalam rahim. Usaha kedua pun dilakukan dengan cara yang sama. Namun lagi-lagi tidak membuahkan hasil. Para pasukan medis pun mungkin sedikit putus asa di sana. Namun yang lebih menyedihkan, nenekmu semakin lemas di ranjang bedah.
Usaha ketiga pun akhirnya dilakukan. Dengan vakum bertenaga maksimum serta dorongan maksimum dari para bidan, akhirnya ayah terlahir ke dunia ini dengan selamat. Bayangkan nak, betapa ayah sungguh merepotkan nenekmu dulu, 20 tahun silam.
Tidak sampai situ, karena kondisi ayah yang kurang baik saat itu,setelah lahir ayah langsung diinkubasi selama 3 hari. Saat itu nenekmu belum sempat sekalipun melihat muka ayah karena kehabisan darah. 4 hari setelah melahirkan, barulah nenekmu berkesempatan untuk melihat dan menggendong ayah yang masih mungil ini.
Perjuangan yang sangat berat, perjuangan yang tiap detiknya mempertaruhkan nyawa, hanya demi melahirkan seseorang seperti ayah. Siapa ayah saat itu?? Bukanlah siapa pun. Hanya seseorang yang hanya bisa menangis merengek untuk kebutuhan hidupnya. Hanya ‘demi’ makhluk lemah seperti itu, nenekmu bertaruh nyawa. Mungkin seumur hidupnya, ayahmulah orang pertama yang membuatnya sekarat.
Nama bermakna ‘Kebaikan yang Sempurna’ pun disandangkan kepadaku sebagai wujud syukur kepada Allah SWT karena telah melewati perjuangan yang luar biasa. Nama yang sangat berat bagi ayah, karena tidaklah mungkin seorang manusia mencapai kesempurnaan. Namun, di balik beban itu, tersimpan sebuah harapan dan doa. Ayah diharapkan untuk senantiasa menebar manfaat kepada sekitar, senantiasa menerapkan konsep Rahmatan lil ‘aalaamin dalam setiap alunan waktu ayah. Dan semangat untuk senantiasa kucari, kukejar, dan kugenggam makna sejati dari ‘Kebaikan yang Sempurna’.
Karena itulah nak, ayah sangat malu malam ini, saat ayah menulis surat ini. Malu karena ayah belum memiliki semangat untuk dialirkan kepadamu. Malu karena ayah merasa belum siap untuk menjadi ayah yang terbaik bagimu. Belum siap diri ini untuk mencetak manusia yang jauh lebih baik daripada ayah. Tapi ayah tetap menginginkan kehadiranmu. Mari kita sama-sama kuat dengan menguatkan, tumbuh dengan menumbuhkan, dan maju dengan memajukan, nak.
Tunggulah saatnya. Saat engkau hadir di dunia ini dengan senyum indahmu, kupastikan engkau mendapat nama terindah yang maknanya akan mengisi setiap hirup napasmu. Kan kuberikan engkau sebuah nama terindah kristalisasi hati dan jiwa ayah. Sebuah nama terindah dari hati yang tak mati.
Jatinangor, 5 Oktober 2010
Ayahmu,
Ikhsanun Kamil Pratama
Kamis, 23 September 2010
beban
Setting : Jatinangor, 21 September 2010
Sore hari ini, pukul 16.00, telah tercatat dalam agendaku tentang acara ‘Halal bi Halal’ Senat FKUP, dan seharusnya saya berada di sana tepat waktu.Entahlah, agenda ini merupakan salah satu agenda yang sangat ingin saya hadiri dengan tidak telat sedetik pun. Mungkinkah karena ingin bersilaturahim dengan sesama?? Atau mungkin sudah tidak lama berada dalam keramaian?? Entahlah, yang jelas saya ingin ke sana dan tidak ingin tersia-siakan satu detik pun.
Waktu pada jam tanganku menunjukkan pukul 13.30. Tiba-tiba saya kembali teringat akan agenda ‘dadakan’ yang mau tidak mau harus saya penuhi, yaitu ngumpul calon delegasi acara ‘antibiotic’ yang akan dilaksanakan di Padang. ‘Aaaahh, napa harus jam 4 juga????’, gumamku dalam hati. Dengan kaki , yang agak berat menuju ke sana dan berharap pertemuannya cepet beres.
Singkat cerita, pertemuan itu akhirnya beres jam 5 kurang 15. Karena gak bawa kendaraan, bersegeralah diriku ke bale 4 untuk berpartisipasi di Halal bi Halal. Dan memang sedikit kaget juga waktu sampai di sana, saya langsung ‘disuguhkan’ games dan ‘video klip cinta’ persembahan pasangan MC acara, Acim n Otay!! -_-. Lelah yang ‘kuderita’ karena mengambil langkah seribu dari FK pun bertambah karena ngakak melihat tingkah mereka. Serasi beud kalian boy! Cemburu aku melihatnya. Hha
Kegiatan ‘video klip’ pun beralih ke acara yang lebih ‘sendu’. Suatu renungan dari Ribonk, sang Ketua Sema periode ini, yang menurut saya cukup tajam, namun sebetulnya simpel. ‘Sisa kepengurusan kita hanyalah 4 bulan lagi. Selama 8 bulan ini, apa yang telah teman-teman dapatkan di Senat?’.
Terdiam diriku mendengar pertanyaan lontaran Ribonk. Apa saja yang telah saya dapatkan di senat selama kepengurusan ini?? Selama 8 bulan saya diamanahkan sebagai kasie PKM, apa yang saya dapatkan??
Ternyata, saya hanya mendapat satu hal saja, yaitu BEBAN.
Beban karena saya harus melayani 1200 mahasiswa FK Unpad..
Beban karena saya diamanahi 23 staf yang harus saya kembangkan..
Beban karena saya harus menjawab permasalahan-permasalahan di FK Unpad dalam bentuk proker..
Beban karena menjadi kasie menyebabkan saya ‘melek’ akan permasalahan di FK Unpad yang sebelumnya tak terlihat..
Beban karena saya harus berpikir lebih banyak dari yang lain..
Beban karena saya senantiasa ‘ditodong’ dengan evaluasi dan LPJ..
Beban karena merasa 8 bulan ini saya cenderung stasis
Beban pula mengingat sisa kepengurusan 4 bulan, harus Hurry Go Round.
Beban… (ah sudah ah beban terus..)
Bebanlah yang mewarnai kehidupan saya. Bebanlah yang telah saya dapatkan di senat.
Namun tahukah kawan?? Beban ini justru merupakan anugerah terindah bagi saya..
Dengan beban ini,saya semakin sadar bahwa saya tidak bisa apa-apa, sehingga insya Allah saya lebih dekat dengan-Nya
Dengan beban ini, bertambah pengertian saya tentang ‘aku makhluk sosial’
Dengan beban ini, kesombongan masa lalu saya sedikit demi sedikit menghilang
Dengan beban ini, melatih saya untuk mengasah kemampuan diri
Dengan beban ini, saya bisa menutup lubang permasalahan yang ada
Dengan beban ini, membuat saya melakukan tindakan bagi yang lain sebagai ibadah pada-Nya
Tidak selamanya beban itu suatu hal yang buruk. Masih ingatkah saat kita masih menjadi beban bagi ibu kita dulu?? Saat kita masih berada di rahim, bukankah ibu kita dengan ikhlas dan senang hati menopang ‘beban’nya dulu??
Sungguh, senat memberikan sebuah beban yang ternyata merupakan nikmat yang tak terkira buat saya. Seenat memberikan beban yang tak ternilai harganya. Dan sungguh, saya sangat bersyukur akan beban yang saya topang selama ini.
-Karena hidup adalah beban, namun beban itulah yang mendekatkan kita pada-Nya-
-Dengan bebanlah kita mengabdi, mempersembahkan sesuatu dari hati yang tak mati-
Jatinangor, 23 September 2010
Sabtu, 24 Juli 2010
di balik nama...
alkisah 20 tahun lalu di sebuah rumah sakit di Bandung sedang terjadi proses persalinan. Singkat cerita, pada proses persalinan itu terjadilah dystocia alias sang bayi sulit keluar karena ukuran sang bayi cukup besar dibanding ukuran panggul sang ibu. Kondisi seperti ini membuat rasa sakit yang lebih pada sang calon ibu, padahal ini adalah pengalaman pertamanya. ya, sang calon ibu ini sedang berjuang untuk anak pertamanya.
Kondisi sang ibu pun agak lemah, entah sakit seperti apa yang menderanya. Ditambah adanya kondisi dystocia. Maka, sang dokter memutuskan untuk mengambil sang anak menggunakan penjepit (forcep). Namun apa daya karena ukuran sang bayi yang cukup besar, usaha forcep pun masih belum berhasil.
Langkah selanjutnya yang terpikirkan oleh tim dokter di sana adalah dengan cara divakum.
Dengan kesadaran yang hampir hilang namun tekad pengorbanan nyawa dari sang ibu, sang ibu menyetujuinya. Vakum pertama,belum berhasil. Kedua, masih gagal. Usaha ketiga, bilamana gagal maka tim dokter akan memutuskan untuk melakukan operasi cesar. Alhamdulillah,vakum ketiga berhasil mengeluarkan bayi yang cukup sehat.
Perjuangan sang ibu akhirnya mendapat hasil yang cukup membahagiakan banyak pihak. Lemas, sakit, perih, perasaan yang tidak menyenangkan itu masih terasa, namun terkalahkan aas rasa syukur yang sangat luar biasa atas kelahiran anak pertamanya. Tidak lama kemudian, sang manusia mungil itu mendapatkan sebuah gelar yang luar biasa sebagai bentuk syukur dari perjuangan besar sang ibu. Sang ayah dan sang ibu pun memberikan gelar....
Ikhsanun Kamil Pratama
Kejadian ini terjadi tanggal 1 Mei 20 tahun lalu.
Sebuah gelar yang memiliki makna yang sangat luar biasa. Sebuah gelar dengan harapan yang besar untuk menjadi kenyataan. Gelar yang bermakna kebaikan yang sempurna. Gelar yang bermakna sangat mendalam. Gelar yang dirasa kurang pantas untuk diberikan kepada manusia yang belum bisa menjadi seperti pengharapan.
Sempurna, hanya Allah yang sempurna. Berat diri ini untuk melakukan kebaikan yang sempurna. Kebaikan yang bahkan berskala atomik (atau lebih kecil lagi) hingga berskala superkluster (atau lebih besar dari itu) dengan jumlah kebaikan yang tidak mungkin terhitung yang Allah berikan secara mengglobal. Sungguh suatu ketidakpantasan untuk menggenggam gelar seperti ini.
Barangkali untuk ukuran manusia, gelar tersebut hanya pantas diberikan kepada Baginda Rasulullah SAW. kurang pantas bila gelar semulia ini diberikan padaku. Sebuah pandangan yang cukup pesimis memang.
Namun, gelar ini merupakan suatu harapan dari sang pemberi gelar. Harapan agar selalu berlari ke sana. Gelar ini adalah sebuah doa yang luar biasa, sekaligus harapan yang sangat mendalam.
Gelar ini,,
kan kucari apa makna sejatinya...
kan kukejar makna sejatinya...
kan kugenggam makna sejatinya...
QS Al-Fatihaah : 6-7
Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat
QS Al-Qashash (28) : 24
Maka Musa memberi minum ternak itu untuk (menolong) keduanya, ke- mudian dia kembali ke tempat yang teduh lalu berdoa: "Ya Tuhanku sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku."
Pencari Makna Kebaikan Yang Sempurna








