Tampilkan postingan dengan label lembar hidup. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label lembar hidup. Tampilkan semua postingan

Kamis, 21 Februari 2013

Mau Nikah? Packing Yuk...

5komentar

Persiapan pernikahan. Apa yang langsung terbayang dalam benak anda begitu mendengar kata itu?
Tentunya, di hari yang istimewa dan kejadian yang diharapkan hanya terjadi sekali seumur hidup ini, kita berharap bahwa hari pernikahan akan menjadi hari yang sangat bahagia. Karena itulah, persiapan pernikahan pun kita siapkan, dimulai dari gedungnya, bajunya yang mewah, katering yang enak, panggung dan hiburan yang meriah, dan begitu banyak persiapan yang perlu disiapkan untuk menjadi raja dan ratu pada hari yang begitu bersejarah. Hehe, boleh kan ya? Soalnya kapan lagi bisa merasakan sensasi menjadi raja dan ratu.
Memang tiada yang melarang dan sah-sah saja melakukan persiapan pernikahan yang seperti itu. Hanya saja, sahabatku, kehidupan pernikahan itu seperti naik gunung lho. Masa sih persiapan pernikahan kita kayak mau ke mall? Kira-kira menurut anda, apa yang akan terjadi jika kita mau hiking naik gunung namun persiapannya mau ke mall? Sangat mungkin untuk tumbang di tengah jalan?
Kejadian ‘tumbang saat naik gunung’ ini sudah sangat banyak terjadi di Indonesia. Beberapa di antaranya:
·         Angka perceraian di Indonesia mencapai rekor tertinggi di Asia Pasifik (BKKBN 2012)
·         Dari 2 juta orang yang menikah tiap tahunnya, ada 285.184 kasus perceraian (Dirjen Bimas Islam Kemenag RI 2010)
·         Berapa banyak dari kita melihat pernikahan yang sekedar bertahan, ‘demi anak’lah atau demi apalah, namun sesungguhnya antar pasangan sudah tidak merasakan cinta lagi. Atau bahkan parahnya, sudah ada niatan ingin bercerai…
·         Berapa banyak kehidupan pernikahan yang sudah mengalami ‘perang dingin’?
·         Berapa banyak kehidupan pernikahan yang dimana anggotanya merasa salah pilih pasangan?
·         Mau nambahin lagi? Silakan…

Kok bisa kejadian seperti ini? Boleh jadi karena selama ini kita terlalu sibuk mempersiapkan pesta pernikahan yang hanya satu hari, namun kita lalai untuk mempersiapkan kehidupan pernikahan setelahnya, yang diharapkan hanya terjadi sekali seumur hidup. Masih ingat analogi naik gunung tadi? Ya, boleh jadi yang kita siapkan justru ‘jalan-jalan ke Mall’ daripada ‘naik gunung’. Jadinya salah tempat, mau naik gunung, tapi pake high heels, dandan tebal-tebal, dan perbekalan seadanya.
Tentunya, kita tidak ingin seperti itu kan? Nah, bagi anda yang belum mengucap akad nikah, anda beruntung sudah baca artikel ini. Pada kesempatan ini, kami ingin share hal-hal esensial apa saja yang harusnya kita packing  untuk ‘naik gunung’, untuk menyelamatkan kehidupan pernikahan anda dari marabahaya, serta menjemput kehidupan pernikahan yang Sakinah, Mawaddah, Wa Rahmah. Mau kan?
Nah, perbekalan utama yang harus anda siapkan adalah niat yang lurus karena Allah. Mungkin terdengar sepele, dan mungkin terdengar klise, namun sebuah kenyataan di lapangan yang kami temui, ternyata tidak sedikit mereka yang mau nikah hanya karena bosan hidup sendirian. Ada juga yang nikah karena tidak betah dengan lingkungan rumahnya, menjadikan pernikahan nadalah sebuah pelarian. Bahkan ada juga yang menjadikan pernikahan sebagai ajang balapan. Maksudnya bagaimana? Ya, jadi balapan dengan temannya, siapa yang paling cepat nikah dan dialah pemenangnya. Anda bisa bayangkan kira-kira bagaimana nasib sebuah pernikahan yang niatnya tidak jelas seperti ini, ke depannya akan gimana?
Kalau berniat, luruskanlah niat betul-betul untuk beribadah karena Allah. Niat yang lurus ini pun kalau bisa perlu detil dan spesifik. Kenapa? Ya karena masih banyak yang kami temui alasan pernikahan karena ‘ibadah’, padahal ini sifatnya masih normative. Bila ditanya secara spesifik, ibadah seperti apa yang mengharuskan untuk menikah, karena tentunya jomblo pun bisa ibadah kan? Niat semakin lurus, semakin detil, semakin spesifik, insyaAllah ini sangat bagus sekali.
Bila niat telah lurus, maka apa yang harus dibekali selanjutnya adalah kedewasaan. Bagi kami, menikah itu bukan masalah menikah muda atau menikah tua, namun menikah secara dewasa. Salah satunya bisa dilihat dari sebuah self-asking ‘Kami itu sudah butuh atau masih ingin untuk menikah?’. Loh, nikah memang suatu kebutuhan? Tentu saja. Bagaimana pun, mendapatkan belahan jiwa merupakan kebutuhan kita manusia hamba-Nya.
Sahabatku, menurut anda, ‘ingin’ dan ‘butuh’ itu sama atau beda? Bagaimana membedakannya? Ingin itu ibarat anak kecil yang ingin balon, bila ia tak mendapatkannya mungkin akan ngambek, padahal sebetulnya tanpa balon pun ia masih fine-fine saja. Bagaimana dengan butuh? Yang namanya kebutuhan itu harus DITUNAIKAN. Ibarat (mohon maaf) kebelet buang air besar. Mau gak mau ini HARUS ditunaikan kan? Karena bila tidak ditunaikan, justru membawa masalah pada diri sendiri. Dan kebutuhan masing-masing orang akan menikah itu tentu jelas BERBEDA. Tak bisa disamaratakan usia 25 tahun semua pria merasakan keterbutuhan akan menikah. Karena itu, pernikahan bukan masalah nikah muda atau nikah tua. Menikah segera dan menikah nanti sama hebatnya, bila dengan alasan syar'i dan pada tempatnya. Menikah segera dengan keberanian untuk menyempurnakan setengah agama dan tak mau menunda, itu sangatlah mulia. Namun, menikah nanti dengan pertimbangan kesiapan perbekalan berumah tangga sambil terus menerus melakukan perbaikan diri juga sama hebatnya. Yang salah adalah mereka yg tergesa-gesa dalam prosesny atau berleha-leha dalam persiapannya.
Perbekalan selanjutnya, anda pun harus menyiapkan ilmu dan skill yang mumpuni untuk  menjalani kehidupan pernikahan. Loh, skill pernikahan? Mungkin terdengar aneh bin asing di telinga anda, namun pengetahuan dan skill untuk menjalani kehidupan pernikahan itu mutlak perlu. Tantangan kehidupan pernikahan zaman dulu dan saat ini berbeda luar biasa. Perselingkuhan pun bisa saja terjadi di ujung jempol pasangan bila anda lalai. Hal ini bisa dicegah dengan memiliki ilmu dan skill pernikahan.
Skill apa saja yang harus dimiliki? Yang paling fundamental adalah skill komunikasi. Kenapa hal ini penting? Karena banyak permasalahan pernikahan dimulai dari mampetnya komunikasi. Bila komunikasi tidak terjalin, maka ini layaknya menunggu bom waktu untuk meledak. Jangan salah, bom waktu ini bisa terjadi semenjak malam pertama bila anda tidak memiliki ilmu dan skill komunikasi yang mumpuni. Kami beri satu contoh kasus ya.
Kehidupan pernikahan kami pada awal pernikahan ternyata begitu banyak potensi konflik. Seperti contoh kecil, sarapan. Canun, sang suami semenjak kecil terbiasa untuk sarapan jam setengah 6 pagi. Fu, sang istri semenjak kecil terbiasa sarapan jam 8 pagi. Maka, bagi Canun, Fu melakukan kesalahan karena beliau mulai memasak jam 7. Sedang bagi Fu, yang beliau lakukan jelas bukan kesalahan karena memang pola hidupnya berbeda. Nah, bila Canun marah-marah, apakah menyelesaikan masalah? Atau bila Canun diam saja, itu juga menyelesaikan masalah? Atau bila Canun memberi tahu ‘Masaknya setengah 6 dong’, itu cukup hanya dengan sekali menyampaikan, Fu akan berubah secara otomatis? BELUM TENTU. Karena mengubah kebiasaan yang sudah dilakukan bertahun-tahun itu sulitnya bukan main. Bayangkan, di sini saja anda butuh kemampuan komunikasi yang mumpuni + skill manage ego anda.
Belum lagi finansial. Mungkin banyak orang yang senang menikah dengan orang yang memiliki materi yang banyak. Namun bagaimana bila anda nikah dengan orang kaya yang berpenghasilan 10 miliar/bulan, kemudian dua minggu setelah pernikahan, bisnisnya bangkrut dan ia merugi 12 miliar? Mudah bagi Allah mengkayakan atau memiskinkan seseorang. Kami mendapatkan hikmah bahwa yang terpenting bukan masalah banyak rezeki atau tidak, namun terkait skill menjemput rezeki, yang tentunya dengan cara halal. Sudahkah anda bekali diri anda dengan ilmu dan skill di bidang ini?
Belum lagi bila terpaksa harus LDM (Long Distance Marriage) harus ada skill tersendiri untuk memastikan pasangan tetap ‘baik-baik saja’. Skill kenali diri sendiri dan pasangan yang sangat penting untuk mengetahui kebutuhan anda dan pasangan, karena anda dan pasangan terbentuk dari pola asuh, budaya, dan lingkungan yang berbeda.
Waaw, kok terkesan ribet yah? Namun, sepengamatan kami di lapangan, hal-hal seperti ini adalah perbekalan anda untuk ‘naik gunung’. Karena bagaimanapun, kebahagiaan pernikahan itu tidak bisa anda tunggu di depan rumah seperti datangnya tukang Bakso. Kebahagiaan pernikahan itu harus diperjuangkan., layaknya naik gunung. Tentu lelah. Namun, bila anda sudah mencapai puncaknya, pemandangannya itu begitu indah luar biasa. Siapkah anda memperjuangkan kehidupan pernikahan anda? Kami siap membantu anda untuk memfasilitasi perbekalan-perbekalan ‘naik gunung’ pada workshop FULL 2 hari ‘Menikah itu Mudah’ tanggal 30 – 31 Maret 2013 dari pukul 08.00 – 17.00 di Hotel Citarum, Bandung, yang kami batasi hanya 10 seat saja. Selama 2 hari ini, yang akan anda dapatkan:
·         Integrated-Life Skill
·         Financing skill + Financial Literacy Skill
·         Personality Skill, mengenal karakter seseorang dalam waktu 5 detik
·         Communication skill
·         Emotional Skill
·         Relationship skill
Dengan bekal yang anda dapatkan di workshop ini yang insyaAllah manfaatnya bisa anda aplikasikan di kehidupan pernikahan anda untuk membangun pernikahan yang harmonis, anda cukup berinvestasi Rp 2.500.000, dengan fasilitas
·         Coffee break 4x
·         Menginap satu malam di hotel (Khusus bagi peserta luar kota)
·         Makan siang 2x
·         Workshop kit
·         Sertifikat
·         Konsultasi marriage life 3bulan setelah pernikahan
·         Software Cashflow Keuangan Keluarga senilai Rp 500.000
·         Asuhan prekonsepsi (persiapan kehamilan) oleh Bidan Fu

InsyaAllah, banyak manfaat yang bisa didapatkan. Berikut apa kata alumni workshop kami sebelumnya…

Doakan kami ya, bulan depan kami memutuskan untuk MENIKAH. InsyaAllah keputusan itu ada setelah kami membaca buku ‘Menikah itu Mudah’ serta sekarang ikut acaranya. Alhamdulillah”
Fanny Qurrata Ayuni (24) – Perawat Gigi
Menikah pada 17 Juni 2012

Pendaftaran bisa anda kontak Shella 081802030035. Serta bagi anda yang serius, hanya sampai tanggal 24 Maret, anda cukup berinvestasi Rp 1.750.000 (single) atau Rp 3.000.000 (double). 

Kami tunggu kehadiran anda. Semoga perbekalan pada workshop ini adalah fasilitas yang tepat untuk menjemput pernikahan anda yang harmonis. Selamat berjumpa dengan kami di event ini. Wassalamu’alaikum Wr Wb.

Jumat, 12 Oktober 2012

Berbisnis dari Hati

0komentar
Betulkah tak ada ruang kemanusiaan sama sekali dalam berbisnis?

Hal yang begitu banyak terpikirkan dalam benak kebanyakan orang, termasuk saya beberapa tahun sebelumnya bahwa bisnis itu jahat, bisnis itu PASTI diperbudak sama uang, alias money-oriented selalu, bahkan saking jahatnya, saya pernah men-cap sangat rendah bahwa bisnis itu gak manusiawi, karena seolah semua buta oleh uang.

Hanya saja, betulkah yang namanya pelaku bisnis hanya kejar uang?

Perjalananku beberapa tahun terakhir ini membuka mata saya bahwa bisnis bisa jadi sumber kebaikan, bisa jadi sumber kejahatan, tergantung PELAKU BISNISnya. Bila si pebisnis ini hanya mengincar profit, boleh jadi bisnisnya bisa bawa kehancuran bagi sekelilingnya. Namun, bila sang pebisnis berbisnis untuk BERIBADAH bantu orang lain, insyaAllah hal ini membawa kebaikan yang luar biasa. Semua memang kembali pada NIAT.

Loh, berbisnis bantu orang lain memang seperti apa?

Untuk meminum air kelapa segar, tentu akan lebih mudah bila air kelapa sudah tersedia pada penjualnya, daripada kita harus manjat sendiri, petik sendiri, ambil sendiri, 'kupas' sendiri. Pedagang kelapa, disadari atau tidak, sebetulnya telah membantu kita dalam proses mempersiapkan air kelapa yang begitu menyegarkan untuk dihirup. Maka, sebagai bentuk apresiasi kita kepada pedagang kelapa tersebut, kita berikan upahnya...

Begitu pun sama halnya ketika kita membeli beras di supermarket, kita sangat terbantu oleh bermacam pihak, seperti petani, jasa angkutan, dan bermacam hal lainnya. Maka dalam hal itu, wajar bila kita memberi apresiasi berupa upah harga yang harus dibayar. Justru, betapa kurang ajarnya bila kita memiliki mental GRATISAN, seenak udel minta gratis namun sama sekali tanpa memikirkan jasa begitu banyak orang yang telah berjuang membantunya. BUANG mental gratisan pada tempatnya, hanya terima gratis jika penyedia barang/jasa dengan ikhlas betul2 mau digratiskan...

Maka, dalam pandangan saya, berbisnis itu sama saja dengan tebar manfaat. Bila begitu banyak mereka yang berjualan baso tikus + borax, tentunya bila kamu buka bisnis baso yang betul-betul sehat tanpa borax, baso tikus, dan bermacam zat berbahaya lainnya, itu saja sudah membantu banyak orang untuk mendapatkan baso yang sehat, kan?

Maka, apakah yang namanya bisnis PASTI money-oriented?

Ooh tidak selalu, itu semua tergantung kembali pada orangnya. Memang sih, ada pebisnis yang betul-betul mengincar profit semata. Jualan obat secara buta ke banyak pasien demi rumah, jualan susu formula ke banyak ibu2 menyusui demi mendapat mobil, 'memaksa' operasi caesar kepada ibu melahirkan yang sebetulnya tidak membutuhkan. Hal seperti ini sudah banyak yang melakukan. PASTIKAN yang melakukannya bukan kamu...

Justru, berbisnislah dengan hati. Berbisnis dengan niat untuk bantu orang lain. Entah kamu mau jadi makelar, atau apapun, pastikan selalu barang/jasa yang kamu jual membawa kebaikan bagi sekitar. Tentunya, me-marketing-kan barang/jasa tersebut berarti sama dengan me-marketing-kan kebaikan. Penulis buku yang me-marketing-kan bukunya, bila ia yakin bahwa bukunya banyak kebaikan di dalamnya, maka marketing-kan bukunya sendiri, agar kebaikan itu banyak meresap ke banyak orang. Seorang pedagang makanan, bila ia yakin bahwa makanannya begitu bergizi tinggi untuk menyehatkan banyak orang, maka JUAL kebaikan itu.

Bersiaplah jadi orang kaya, yang berbisnis dari hati. Serta bersiap untuk jadi orang yang berani kaya dan berani bertaqwa...

Jumat, 14 September 2012

uang, kaya, dan dokter

0komentar
Kayaknya, begitu banyak orang yang alergi akan uang dan kekayaan. Setiap ngintip blogwalking pada adik2 kelas yang 'idealis', seolah mereka memisahkan bahwa pengabdian 'haram' didekati dengan duit, meski ia memiliki mimpi untuk menyelenggarakan pengobatan gratis, rumah bersalin gratis, jasa dokter gratis, dan yaah intinya semua yang serba gratis. Yaah, entah mungkin banyak yang sudah muak dengan yang namanya uang, seolah uang adalah akar dari segala kejahatan.

Memang tak bisa disalahkan, boleh jadi karena input informasi yang kita terima, segala sesuatu yang berhubungan dengan uang pastilah sesuatu hal yang bersifgat negatif, sebutlah korupsi, suap, dan lain semacamnya, yang membuat kita secara sadar ataupun tak sadar menanamkan dalam pikiran bawah sadar bahwa uang adalah akar dari segala kejahatan. betulkah?

Ketika kita menanamkan mindset ini, siapa sih yang mau jadi jahat? Otomatis sama yang namanya bisnislah, sama yang namanya jualanlah, sama yang namanya duitlah, udah suudzon duluan. bakal dideketin? ya gak bakal kan? Walhasil apa? Sebagai mahasiswa, hanya mampu mencaci uang, kekayaan, dan bisnis padahal hidup sudah masuk ranah kemiskinan. Ya, gak salah baca. Mahasiswa, yang cuma belajar, belajar, dan belajar tanpa adanya kemandirian finansial alias minta duit dari ortu terus sebeulnya adalah mahasiswa yang miskin. Begitu pula dengan mahasiswa yang cuma main, main, main dan main tanpa usaha cari kemandirian finansial sama memalukan. Lebih memalukan, pacaran terus ngabisin duit, eh duitnya yang diabisin duit ortu lagi, super memalukan!

Lucunya, aslinya memang miskin, tapi ngaku-ngakunya hidup sederhana. Padahal kalo dibilang usaha? Belum tentu juga. Malah males, malah cacimaki mereka yang berjualan. Udah males untuk hidup mandiri, ngaku-ngakunya zuhud dan qana'ah pula! haduuh memalukan. Udah tahu kuliah mahal, tapi sama sekali gak bantu ringanin ortu dengan usaha sendiri cari duit. Memalukan!

Bila memang selama ini kita selalu melihat orang kaya yang sombong + tukang korup. Adakah orang kaya yang hidupnya sederhana? Adakah orang kaya yang memanfaatkan kekayaanny untuk banyak orang? Ooh banyaak banget.

Kalo orang miskin hanya mampu teriak-teriak menyerukan semangatnya untuk penolakan rencana pengeboman Mesjid Aqsa, namun mesjid deket rumahnya mau ambruk tak bisa diselamatkan karena kekurangan dana. Maka orang kaya mampu beribadah untuk memberikan sokongan dana pada mesjid deket rumahnya dan bahkan pada Mesjid Aqsa, kan?

Dokter miskin, begitu didekati oleh perusahaan farmasi dengan iming-iming bonus umroh, rumah, mobil ya jelas bakal tergiur! Dokter kaya? Ya jelas gak bakal tergiur dengan hal-hal seperti itu.

Dokter miskin bisa bantu sumbangkan tenaganya untuk pengobatan gratis. Dokter kaya? Bisa bantu sumbang tenaga dan dana dong!

Dokter miskin, gak dibayar jasanya langsung panas dingin. Dokter kaya? Lebih ikhlas kalo gak dibayar sama sekali jasanya, bahkan bisa bayarin obatnya bagi pasien tak mampu.

Dokter miskin kerjanya pasti berharap banyak orang yang sakit untuk penuhi kehidupannya. Apa beda dengan tukang tambal ban yang naro paku di jalanan agar ada 'klien'?

Dokter kaya kan selalu berharap sangat sedikit orang yang sakit, dan lebih senang untuk membuka 'rumah sehat' daripada 'rumah sakit' toh? Kalaulah rumah sakit pun dibutuhkan, dokter kaya memiliki kemungkinan lebih tuk beramal membangun rumah sakit di daerah terpencil daripada dokter miskin.

maka, kata siapa menjadi pengusaha itu buruk? Kata siapa uang adalah akar dari segala kejahatan? yang jadi akar kejahatan justru adalah ORANGNYA. Pastikan bila kekayaan ada padamu, kekayaan menjadi manfaat, bukan mudharat.Pengusaha pun salah satu bentuk ibadah yang luar biasa bila diletakkan pada tempatnya.

Jadilah kaya, pertanggungjawabkan aliran kekayaan itu, darimana asalnya yang halal, dan digunakan untuk apa. kalo kamu belum menemukan orang kaya yang sederhana, jadilah orang kaya sederhana, rendah hati, dan dermawan yang pertama kali yang kau temukan. Gampang toh?

Sekarang apa yang mesti kamu lakukan? Yah, daripada tersinggung mending usaha toh? Tersinggung gak bikin kaya. Usaha insyaAllah mengkayakan. Karena bagi saya, usaha itu tebar manfaat. Bayangkan saat diharuskan untuk masuk kuliah/kerja jam 7 pagi, dan ada sobat kita yang jualan nasi kuning, oooh orang itu sungguh berpahala luar biasa karena telah membantu menyediakan penganan untuk sarapan pada hari itu.

Maka sekali lagi, usaha itu sejatinya adalah proses tebar manfaat. Dari proses tebar manfaat tersebut kamu dapat hak berupa uang salah satunya, dan kemudian kemana uang itu beredar (entah kebaikan atau kejahatan) itu semua kembali terserah padamu. Ayo usaha, ringankan beban finansial ortu, jadi kaya dan tebar manfaat seluas-luasnya, mulai dari SEKARANG

'Andaikan kemiskinan berwujud manusia, maka aku kan membunuhnya!' -Khalifah Ali bin Abi Thalib

Minggu, 18 Maret 2012

Argo Taksi

1 komentar
24 Februari 2012

Hari itu betul-betul menguras tenagaku. Bayangkan saja, sejak sebulan sebelumnya, aku telah berencana untuk mengisi workshop hipnoterapi medik yang berada di tanah borneo sana, yaitu Samarinda. Namun, jadwal judicium yang begitu mendadak dari fakultas, membuatku dan para panitia di sana melakukan reschedule dengan cukup kilat. Walhasil, workshop pun diundur menjadi hari sabtu. Namun tetap saja, pesawat pada bandara soekarno hatta takkan berkompromi untuk menunggu kehadiranku di hadapannya. Ia menungguku pada jam 4 sore.

Maka, pada pagi di hari itu, aku pun dengan langkah seribu bergegas menuju Jatinangor, menuju kampusku untuk secara formalitas mengambil hasil nilaiku selama 3.5 tahun berkuliah di sana, kemudian bergegas menuju Primajasa di daerah Buah Batu. Judicium baru berakhir pada jam 9 pagi, sementara Primjas pun kan berangkat jam 11 menuju bandara. Pikirku, bagaimana mungkin bisa sampai 2 jam dari Jatinangor menuju primjas? Bandung kan sekarang kota yang cukup macet.

Beruntungnya, aku terhindar dari keterlambatan karena secara kebetulan, ada taksi yang baru saja mengantar seorang dosen ke Unpad. Win-win solution nih, buatku dan pak supir taksi!! Maka, berangkatlah diriku dengan taksi si burung ini.

Luar biasa, supir taksi si burung biru ini begitu ramaah luar biasa. Bahkan, bagiku yang seorang introvert sekalipun, ia gemar berkisah begitu indah, sehingga diriku pun hanyut terbawa kisahnya. Kita berkisah akan banyak hal, mulai dari pekerjaan, keluarga, pendidikan, bahkan candaan-candaan ringan.

Entah mengapa, tiba-tiba saja timbul rasa penasaran akibat rasa kaget yang amat sangat. Kuperhatikan sebuah argo taksi, yang entah mengapa kok berubahnya cepet banget waktu di jalan tol? Waswas tentunya diriku takut kalau ongkosnya kurang!!

Namun juga, unik, di daerah Buah Batu yang begitu macet, seolah argo berhenti. Hal ini yang bikin diriku penasaran, dan bertanyalah aku tentang bagaimana kerja argo taksi ini.



Ternyata ooh ternyata, argo ini memiliki dua mode utama:
1. perhitungan melalui waktu, yang hanya akan bergerak apabila taksi berhenti seperti di lampu merah, atau nungguin penumpangnya lagi ambil uang di atm, misalkan. Untuk mode berhenti ini, kalau taksi berhenti selama satu jam, bisa mencapai nilai Rp 30rb.
2. Perhitungan melalui jarak, yang akan bergerak melalui jarak tempuh.

Meskipun terkesan simpel, namun hal ini begitu menarik bagiku. Bayangkan, bila hidup kita di-argo, sepertinya sesuatu yang dinamakan 'waktu' akan sangat berharga bagi kita. Selama ini, boleh jadi kita tak menganggap 'waktu' sebagai sesuatu yang berharga karena waktu merupakan barang GRATIS. Tentunya, akan sangat berbeda orang yang menganggap waktu sebagai barang yang gratis dan mereka yang menganggap waktu sebagai alat untuk menjadikan dirinya menjadi JAUH LEBIH BAIK lagi.

Banyak sekali, orang-orang di sekitar yang berleha-leha terhadap waktu yang ia miliki. Dengan dalih 'Ah, masih muda ini', begitu banyak orang yang tidak melakukan apa-apa. Seperti diriku beberapa tahun lalu, yang begitu senangnya menghabiskan waktu hanya untuk melakukan rutinitas harian tanpa adanya perubahan ke arah yang lebih baik.

Dengan merasa waktu sebagai barang yang gratis, boleh jadi diri ini pun sering sekali melakukan sebuah penundaan. Padahal, penundaan hanyalah menanti kehancuran dalam hidup. 'Ah, nyari duit mah nanti aja kalo udah lulus', 'ah, nyari duit mah nanti aja klo udah jadi dokter', 'ah, nikah mah nanti aja klo udah jadi'. Bagaimana kalau tiada nanti? Ah, pantaslah kalau dalam Al-Quran pun Allah berfirman 'Demi waktu, sesungguhnya manusia berada dalam kerugian.'

Bila hidup di-argo dalam mode 2, mode jarak. Ternyata, jarak tempuh itu begitu dihargai. Tentunya, 'jarak tempuh' masing-masing orang berbeda-beda. Jarak tempuh kehidupan seseorang, yang biasa kita sebut sebagai sejarah kehidupan, ternyata begitu berharga.

Betapa bodohnya diriku ketika ditanya 'kehidupanmu sejauh ini gimana?', dan kujawab 'nothing special'. Wow, ternyata selama ini diriku tidak begitu menghargai 'jarak tempuh' yang telah kulakukan selama 21 tahun ini.

Kalau melihat kisah 'Negeri 5 menara' karangan Ahmad Fuadi, kok bisa sih novel ini begitu booming bahkan sampai difilmkan? Karena dalam pandanganku, beliau adalah salah satu orang yang begitu menghargai 'jarak tempuh'nya. Silakan lihat dan cari, ada berapa buku sih yang mengisahkan tentang 'jarak tempuh' seseorang? Bila nih, bila seluruh orang di dunia menghargai dan menuliskan 'jarak tempuh'nya, belum tentu 'Negeri 5 Menara' bisa menjadi booming seperti ini. Boleh jadi, kisah hidupmu yang jadi booming loh.

Namun nyatanya? Ya, karena sang penulis Negeri 5 Menara begitu menghargai 'jarak tempuhnya' yang mampu membuat karyanay booming. Ternyata, menjadi booming itu mudah ya, karena pesaingnya begitu sedikit. hehe.

jadi memang terasa banget ya bahwa memang bangsa yang besar itu adalah bangsa yang menghargai sejarahnya, menghargai 'jarak tempuh'nya. Maka, aku penasaran bagaimana hebatnya seseorang yang begitu menghargai waktu sebagai media tumbuhkembang serta sekaligus menghargai kisah hidupnya sendiri, akan menjadi orang besar seperti apa ya? Apakah engkau salah satunya?

Rabu, 14 Desember 2011

dari warteg menuju salon kecantikan

0komentar

Semua bermula pagi ini, saat saya mencari sarapan. Yah, biasalah namanya juga mahasiswa, jadi makan secukupnya, sekenyangnya, dan semurahnya, dan yang penting enak. Kebetulan, uang di dompet sangat pas-pasan, maka sarapan pagi ini saya makan di warteg, lumayan minuman pun gratis. Hhehe

Menu sarapan yang saya pilih pagi ini adalah nasi, kerang, telor dadar, dan perkedel kentang. Hehe jangan ditiru ya, ini contoh menu yang cukup buruk, sama sekali saya gak pilih sayur. Biasanya juga langsung dijewer ibu di rumah :p

Namun memang, yang namanya inspirasi pasti Allah sisipkan dimana-mana, asalkan kita mencarinya. Kebetulan, saya ke warteg lupa membawa buku bacaan saya, sehingga saya makan sambil bengong, sambil merenung, sambil bertafakkur.

Kembali teringat bahwa apa yang saya makan adalah hewan, yang dimana tubuhnya tersusun dari protein, sebagian besarnya. Hampir semua hewan penyusun tubuhnya adalah protein, sehingga saat saya memakan hewani, itu pun akan menyumbang untuk proses pembentukan tubuh kita.

Tak bisa dipungkiri bahwa secara material, manusia dan hewan tersusun dari zat yang sama, yaitu protein. Wajah kita, tangan kita, kaki kita, semuanya tersusun sebagian besar dari protein. Organ-organ daleman kita pun semua tersusun dari protein, sehingga kualitas kesehatan kita memang sangat dipengaruhi dari apa yang kita makan.

Oh iya, saya mau sedikit koreksi pernyataan saya di atas barusan. Sebetulnya, tubuh makhluk hidup sebagian besar bukan tersusun dari protein, namun air. Hal ini jugalah yang membuat saya merenungi tentang air minum yang saya minum pagi tadi. Kualitas air minum mempengaruhi kualitas tubuh manusia. Begitu juga dengan makhluk hidup lainnya yang sangat memerlukan air untuk hidup.

Intinya, secara material, manusia dan hewan itu sama. Karena itu secara taksonomi, manusia dimasukkan ke kerajaan binatang, alias kingdom mamalia.

Apa artinya? Artinya, yang membedakan manusia dan makhluk lainnya adalah kualitas kejiwaannya. Semakin baik kualitas kejiwaannya maka semakin tinggi pula derajat manusia di mataNya.

Mungkin boleh dibilang bahwa, dalam konteks mencari dan menjemput pasangan hidup, memang akan jauh lebih baik apabila yang dipantau adalah kecantikan jiwanya. Bagaimana mengukurnya? Entahlah, saya bukan yang ahli dalam bidang ini.

Apalah arti dari kecantikan dan kegantengan luar? Memang penting, namun bilamana ini menjadi suatu faktor utama, yah kita bisa tarik kesimpulan bersama. Tak bisa dipungkiri bahwa penilaian kita akan sesuatu terbatas dari panca indera kita. Hanya dari mata yang seluas kurang lebih 5 cm, seolah kita telah mampu melihat seisi dunia. Hanya dari telinga yang ukurannya tidak sampai sejengkal, kita merasa telah mampu mendengar bermacam kenyataan. Yah, panca indera memang merupakan keterbatasan.

Kembali ke konteks protein, bahwa perempuan secantik apapun atau pria terganteng sedunia pun pada dasarnya ‘hanyalah’ onggokan protein dan air. There’s nothing special in it. Secara fisik, tiada beda antara manusia dan hewan. Dalam pandanganku, penilaian manusia yang hanya berdasar dari luar saja memang kurang menghargai manusia sebenar-benarnya. Karena yang membedakan manusia dan hewan adalah kualitas jiwanya.

Terutama dalam konteks mencari pasangan, karena memang kualitas jiwa seseorang memiliki batasan serta kekurangan tersendiri, rasanya akan jauh lebih baik ‘menseleksi’ sesuai dengan kualitas jiwanya. Kualitas jiwa pasanganku yang kelak melengkapi kualitas jiwaku, serta kualitas jiwaku yang melengkapi kualitas jiwa pasanganku kelak, dan rumahku kan menjadi salon kecantikan jiwa bagi para penghuni di dalamnya...

Jumat, 28 Oktober 2011

Si Unik

4komentar

Sudah merupakan hal yang lumrah bahwa mahasiswa FK tentunya ingin menjadi dokter, yang konon sebuah profesi yang masa depannya sudah terjamin, meskipun perlu dibayar mahal dengan biaya operasional pendidikan yang cukup tinggi serta waktu pendidikan yang tergolong lama. Atau bahkan memang semenjak kecil telah menjadi cita-cita mulianya. Hmm, betapa luar biasa ya profesi dokter ini, namun sayang, secara pribadi saya tidak berminat menjadi dokter meskipun sekarang saya adalah mahasiswa FK.

Loh, terus kamu mau jadi apa?

Kira-kira, itulah pertanyaan yang terlontar dari rekan bicaraku saat saya bilang apabila saya tidak mau menjadi dokter. Sebetulnya ada banyak alasan yang membuatku tak berminat untuk menjadi dokter, meskipun alasan utamanya adalah satu: bukan canun banget!

Dalam pandangan pribadiku, pendidikan memang merupakan salah satu bentuk standarisasi kemampuan seseorang. Dalam kasus pendidikan kedokteran, ini adalah standarisasi seseorang untuk menjadi dokter. Namun, saya agak menyayangkan apabila pendidikan membuat semua menjadi dokter ‘tok’. Justru kebalikannya, saya berpikir bahwa pendidikan seharusnya menjadi fasilitas yang memperkuat karakter seseorang. Sehingga, saya tidak mau menjadi seorang dokter, saya adalah seorang Ikhsanun Kamil Pratama, seorang Canun, sang Pencari Makna Kebaikan yang Sempurna. Ilmu-ilmu kedokteran yang telah saya pelajari selama ini justru semakin memperkuat karakter saya sebagai ‘Pencari Makna Kebaikan Yang Sempurna’. Hasil karya saya, yang bisa teman-teman nikmati dalam bentuk tulisan, buku (insya Allah), dan dalam training-training saya, sangat kental dengan nuansa hikmah dan inspirasi yang bias kita ambil dari peristiwa-peristiwa normal yang berada dalam tubuh kita. Bila anda melihat-lihat konten dari blog ini, tentulah anda bias merasakan bahwa saya memang ‘anomali’ seperti ini. Bisa dibilang, yang canun banget adalah ‘share and care’.

Alasan selanjutnya memang karena kerja dokter itu bukan canun banget. Dalam arti seperti ini. Memang, tugas kerja dokter secara teoritis ada 4, yaitu preventif alias pencegahan, promotif kesehatan alias peningkatan kesehatan, kuratif alias penyembuhan dari yang sakit, serta rehabilitative. Namun, dalam pandangan saya, kerja dokter hanya berkutat pada kuratif dan rehabilitatif. Dengan kata lain, banyak sekali kerja dokter yang saya lihat di lapangan hanya menunggu orang sakit.

Jujur secara pribadi, saya tidak mau ayah/ibu atau orang yang saya sayangi di sekitar saya sakit. Saya ingin bahwa orang sekitar saya senantiasa sehat. Maka, salah satu mimpi saya adalah membangun rumah sehat, dengan asumsi bahwa apabila rumah sakit itu banyak yang sakit kemudian ingin sembuh, maka rumah sehat adalah dimana orang-orang sehat yang tak ingin sakit. Ingin sekali saya mendirikan ini, sehingga fokus kerjaku adalah promotif dan preventif.

Apakah hal ini mungkin dilakukan? Saya melihat sebuah sosok yang luar biasa, sosok yang bahkan semasa hidupnya pun tak pernah sakit, beliau terserang sakit hanya saat mautnya telah mendekat. Selain itu, Ia senantiasa sehat wal’afiat. Tahukah engkau siapa sosok itu? Beliau adalah Muhammad SAW.

Luar biasa kan beliau mampu melakukan hidup sehat anti-sakit. Berarti hal ini memang mungkin untuk dilakukan, saya pengen banget melakukan perihal seperti ini. Bener-bener canun banget: share and care.

Berarti profesi saya apa ya? Hehe saya sendiri pun tidak tahu term-nya apa. Yang pasti, saya adalah mahasiswa FK unik yang tidak mau jadi dokter. Memang sih ‘melanggar’ mainstream. Namun apa salahnya saya ingin menjalani hidup ini berbeda dari orang kebanyakan? Bukankah, sidik jari masing-masing manusia tercipta berbeda? Bahkan, bukankah DNA anak kembar identik pun ternyata tidak sama susunannya? Masing-masing jiwa tercipta memang hanya ada satu-satunya di dunia. Untuk apa saya distandarisasi ‘tok’ menjadi hanya seorang dokter?

Maka, bila ditanya, kamu ingin menjadi apa?

Saya adalah seorang Ikhsanun Kamil Pratama yang berperan sebagai pencari makna kebaikan yang sempurna. Belajar dan berbagi mengisi peran di dunia sebagai seorang trainer kesehatan dan penulis. Dan saya ingin sekali membuat Rumah Sehat dan mencetak 1.000.000 orang preventor di Indonesia.

Lebih baik jadi diri sendiri toh? Karena, menjadi orang lain jatahnya sudah ada yang ambil J


Bagaimana dengan dirimu? J

Selasa, 11 Oktober 2011

Gelar

3komentar

Apa makna gelar bagimu?

Ikhsanun Kamil Pratama, CH, CHt, CI, C.NLP

Saat ini, inilah namaku lengkap dengan gelar yang diakui secara nasional dan internasional. Dan bahkan mungkin dalam beberapa waktu ke depan, akan bertambah dengan gelar S.Ked, karena lulus dari fakultas kedokteran Unpad. Bahkan, tambahan gelar dr pun mungkin akan kudapatkan bila diri ini lulus dari program ko-ass.

Jujur saja, aku tak ada niatan untuk menjadi seorang dokter. Meskipun memang secara teoritis, dokter bertugas di empat bidang,yaitu promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif. Namun sejauh yang saya lihat selama ini, dokter kerjanya menunggu orang sakit. Hal ini membuatku muak dengan dunia satu ini. Bahkan sempat terlintas dan sangat kuat niatanku untuk tidak mengambil ko-ass. Sehingga no wonder apabila banyak sekali yang bilang padaku untuk mengambil ko-ass dengan asumsi bahwa ‘S.Ked mah gak bisa apa-apa’.

Apa makna gelar bagimu?

Jujur, diri ini sama sekali tak tergoda oleh kemilau gelar ‘dokter’ yang diagung-agungkan kebanyakan masyarakat Indonesia sekalipun, sehingga mengambil ko-ass yang bertujuan hanya untuk mengambil gelar ‘dokter’ tuh ‘gak gue banget’.

Apa ya makna sebuah gelar?

Jujur saja, saya juga sempat takjub dan gemilau dengan gelar CH, CHt, CI yang saya dapatkan. Namun setelah mendapatkannya, seorang ‘Canun’ seolah menjadi ‘tenggelam’ karena gelar. Banyak orang yang lebih mengenaliku karena gelar yang kusandang, bukan karena namaku sendiri. Bukan karena ini adalah seorang ‘Canun’. Bilamana selama ini diri ini dikenal sebagai ‘calon dokter, hipnoterapis, penulis, trainer yang bernama Canun’, ingin sekali diri ini jauh lebih dikenal sebagai ‘Canun yang berperan sebagai hipnoterapis, penulis, trainer, dan dokter’. Intinya, diri ini tak ingin tenggelam dalam kolam gelar. Namun gelar hanyalah salahsatu fasilitas bagiku.

Namun, di sisi lain, diri ini merasa sangat bahagia dan senang saat melihat kakak kelas di kedokteran yangbegitu bahagia mendapatkan gelar S.Ked dengan lulus cum laude, berarti nilainya begitu memuaskan, sehingga membuatku berpikir dan bertekad bahwa

Saya, Ikhsanun Kamil Pratama, ingin sekali mendapatkan gelar ‘alm’ dengan lulus cum laude dalam fakultas kehidupan ini’

Ya, kelak saya pun akan mendapatkan sebuah gelar ‘alm’. Saya pun ingin bahagia seperti, atau bahkan lebih, kakak kelas saya. Bagaimana caranya saya mampu mendapatkan gelar ‘alm’ dan lulus cum laude dalam kehidupan ini? Dengan mencari makna sejati kebaikan yang sempurna, mengisi hidup ini dengan kebaikan tersebut, dan menyebarkannya seluas-luasnya selama jantungku masih berdetak.

Bagaimana denganmu?

Ikhsanun Kamil Pratama

Sang Pencari Makna Kebaikan Yang Sempurna

Minggu, 26 Juni 2011

Rahman

0komentar

Wahai kekasih,,

Tak salah Tuhan titipkan ‘rasa’ ini dalam hatiku padamu,,

Engkau curahkan sifat rahman-mu padaku,,

Mencairkan kebencian dalam hati,,

Dan menyentuh kalbuku dengan lembutnya,,

Membuatku tersadar,,

Betapa Maha Rahman Allah, yang telah menitipkan sebagian kecil sifat rahman-Nya padamu

Sehingga ku tak sanggup membayangkan, seberapa Rahman Allah…

Ya Allah Ya Rahman

Sungguh, aku cinta kamu karena Allah

Karena kau telah mendekatkanku pada-Nya

Ya Allah, muliakanlah ia kelak di sisi-Mu selalu



(sepotong cinta dari rumah Allah)

26 Juni 2011

Rabu, 22 Juni 2011

Perfeksionis is Bullshit

0komentar

Seringkali kita menunggu kesempurnaan untuk melakukan sesuatu….

Padahal kesempurnaan kan didapat apabila kita MELAKUKAN terlebih dahulu....

Sungguh, kejadian ini yang kualami dulu, tepatnya pada awal tahun 2010. Saat saya dan teman-teman saya memutuskan untuk membentuk sebuah lembaga training.

Apa yang kami lakukan saat itu? Bingung mencari-cari konsep tentang kemana lembaga ini harus dibawa, bagaimana dengan pergi ke notaris, bagaimana dengan SWOT dari masing-masing kita, dan seterusnya. Saat itu, saya begitu dipusingkan dengan yang namanya 'kesempurnaan lembaga'.

Apa dampaknya dari kejadian itu? Ya, saya menganggur selama 1 tahun. Bayangkan kawan, 1 TAHUN!! 1 tahun saya hanya duduk termenung tidak melakukan apa-apa.

Sampai pada awal tahun 2011, pada acara Youth Empowerment Congress yang digelar oleh tim kang Harri n d'geng, saya banyak bertanya-tanya kepada kang Harri, bertemu dengan kang Surya. Dan ternyata, menjadi trainer sangat mudah. Guess what?

Ya, keberanian untuk TERJUN terlebih dahulu. Ternyata caranya sangat mudah. Pada awal tahun 2011, saya bersama teman-teman saya langsung saja beraksi untuk membuka sebuah public training.Padahal, hal-hal yang semula kupertanyakan pada awal tahun 2010 BELUM ADA SAMA SEKALI. Saya pribadi baru mengajak teman-teman saya dan berkata 'eh, tanggal X event pertama kita ya'. Belum terbentuk visi misi lembaga, belum melakukan analisa SWOT SDM. Yang pasti apa yang saya lakukan adalah TERJUN terlebih dahulu.

Layaknya saya yang dulu belajar untuk berenang. Apa yang terjadi kalau saya harus menunggu asupan teori tentang cara belajar yang renang seperti apa, tentang bagaimana cara perenang tingkat dunia berenang, lalu menunggu saya harus bisa berenang dulu baru berenang? Ternyata memang, saya harus NYEMPLUNG terlebih dahulu. Memang pada awalnya saya pasti tenggelam, namun justru bukankah dengan tenggelam kita menjadi belajar dan menjadi pribadi yang lebih baik lagi? Ya, saat belajar berenang ini, saya menjadi seorang yang PROGRESIONIS, yang senantiasa memperbaiki diri dan menjadi lebih baik lagi.

Karena itulah, menurut saya PERFEKSIONIS merupakan kualitas TERENDAH dalam kehidupan, karena ia harus menunggu semua sempurna, seperti diri saya pada awal tahun 2010. Lantas apa yang didapat? KOSONG. Dengan menjadi seorang PROGRESIONIS, saya belajar nyata dari apa yang saya alami. Saya mendapatkan hasil walaupun bernilai 1, yang dimana pada kemudian hari saya tingkatkan menjadi 2, karena sebuah evaluasi tentunya. Sebuah evaluasi secara terus-menerus yang insya Allah kan didapat nilai 100, walau saya yakin bahwa kesempurnaan hanya milik Allah SWT semata.


Jadi perfeksionis?? No Way!!

Progresionis?? It's my Way!!



'Lebih baik membersihkan toilet umum daripada berwacana setinggi langit'

-Ikhsanun Kamil Pratama, CH, CHt, CI-

Brain Booster of Primordia

Trainer special berbasis medis

specialized in human empowerment, health, and education

National Certified Hypnotist, Hypnotherapist, and Instructor

Rabu, 01 Juni 2011

Integritas

0komentar
'dokter kok sakit? makannya kok begitu? tidak mencerminkan hidup sehat!!'
said my mom Yatie Holizain waktu sy makannya masih 'amburadul'

'Cara untuk menyentuh hati adalah dengan menyampaikan apa-apa yang SUDAH dilakukan', said my bro Harri Firmansyah R

ditag notes 'Antara Lidah, Perkataan, dan Perbuatan' ama kang Surya Kresnanda


hhe ternyata, integritas adalah never-ending learning buatku :)

bagaimana berintegritas sebagai seorang muslim yang senantiasa bersyahadat
bagaimana berintegritas sebagai seorang pemuda yang memiliki banyak impian
bagaimana berintegritas sebagai seorang trainer yang mengajarkan apa yang telah dilakukan
bagaimana berintegritas sebagai seorang dokter yang senantiasa mengajak untuk hidup sehat


Yang penting adalah berintegritas.

Walk the talk and Talk The Walk

Jalankan apa yang diucapkan dan ucapkan apa yang telah dijalankan :)
Bukankah ini adalah tantangan untuk mendapatkan ridha-Nya? :)

Minggu, 17 April 2011

visi hidupku

0komentar
Entah harus sedih atau senang, kedua perasaan ini bercampur aduk menjadi satu bentuk. Semua ini karena satu hal, yaitu karena akhirnya kutemukan visi hidupku.

Sedih, tentu saja. Karena seolah 20 tahun kehidupanku sebelumnya serasa bagaikan mayat hidup, berjalan tanpa arah. Walau bukan berarti hidupku hanya berjalan mengikuti arus sungai. Namun, grand design kehidupanku yang belum tersusun selama 20 tahun. Ah, andaikan bisa kembali ke masa lalu.

Senang, karena alhamdulillah. Akhirnya, kudapatkan pula visi hidupku, sebuah blue print kehidupan yang akan menjadi arahan kemana kaki kan melangkah. 20 tahun ini bukan waktu yang sia-sia, namun saya percaya bahwa ternyata grand design yang kususun memerlukan waktu 20 tahun, berarti grand design yang kubuat ini merupakan grand design yang terbaik untukku.

Semula, diriku cukup 'tenang' dengan konsep visi 'menjadi hamba Allah'. Namun entah kenapa, dalam perjalanan, hal ini sangat umum. Dalam perjalanannya, sering ku ragu dan bimbang, what must i do next. Pertanyaan itu selalu terngiang dalam benak sehingga tak jarang segala macam kegiatan pun kulakukan, dengan melupakan bermacam hal yang seharusnya menjadi prioritas. Satu masalah utamanya adalah --> Tidak spesifik

Bisa dianalogikan dengan sebuah organisasi, terutama saat pemilihan ketua senat/bem. Dengan gencarnya, para calon pemimpin mendeskripsikan visi misinya setahun ke depan. kalau organisasi yang hanya setahun ke depan saja, para calon pemimpin merancang visi yang melangit, kenapa tidak dengan hidup kita, yang sejauh ini sudah kita rasakan lebih dari satu tahun.

Alhamdulillah, sujud terakhirku di shalat Ashar hari ini membuahkan hasil yang luar biasa, yaitu sebuah visi hidup, yang insya Allah pada 'sidang akhir hidup' harus saya pertanggungjawabkan.

Dengan mengucapkan Basmallah,
saya, Ikhsanun Kamil Pratama, me-launching visi hidup saya :

Menjadi pribadi yang berkonsentrasi tertinggi dalam hidup serta senantiasa berdifusi, dari lingkungan terkecil sampai lingkungan terbesar


Selasa, 12 April 2011

Menjemputmu Dengan Takut dan Harap

0komentar

Bismillah

Assalamu’alaikum wr wb.

Wahai calon istriku, entah mengapa aku berubah menjadi melankolis. Kuingin engkau tahu bahwa sejuta daya ledak motivasi mengalir dalam darahku untuk menjemputmu. Sejuta buai cinta mengalir dalam syarafku. Sejuta cita dan asa untuk datang ke depanmu. Sejuta, ah sudahlah, memang aku tak pandai beretorika.

Namun, sejuta tak lagi menjadi sejuta. Cita pun bernoda lara. Gembira terkosongi sebagian hampa. Karena satu rasa dalam dada, yaitu takut.

Ah, tolong jangan memalingkan muka terlebih dahulu. Dengarkanlah dulu diriku, simaklah surat ini meski pilu mewarnai hati. Satu harapku :bacalah ini sampai akhir. Bukankah, takut merupakan hal yang manusiawi?

Kuakui, sejuta motivasiku untuk menjemputmu tak beriring dengan pikir jernih. Aku cukup tertampar dengan cerita Baginda Rasulullah SAW. Engkau pernah mendengar nama Hafsah? Ya, beliau adalah salah satu istri Rasul dulu, sekaligus anak dari Umar bin Khattab, sahabat dekat Rasul. Dari sekian jumlah istri Rasul, Hafsah adalah satu-satunya istri Rasul yang pernah diceraikan karena terjadi sedikit kesalahpahaman dengan Mariyah al-Qibthiyah, salah satu istri Rasul. Bila engkau berada di posisi Hafsah, bagaimana perasaanmu diceraikan suamimu?

Memang, meskipun pada akhirnya Hafsah dirujuk kembali, namun perceraian terjadi di rumah tangga Rasulullah. Ah, siapalah aku? Tiada banding diriku dengan Rasulullah. Kemungkinan cerai pun akan jauh lebih besar. Ini adalah problema yang perlu kita hindari bersama. Bukan hanya sekedar ‘engkau jodohku, milikku selamanya, dan kita kan mengabadi’. Ini adalah perjuangan yang harus kita jalani bersama. Inilah ketakutan pertamaku.

Hei, apa engkau tahu? Otak pria sangat tajam dalam masalah visuospasial. Tubuh wanita merupakan makanan yang nikmat bagi mata pria, mataku. Mungkin engkau bertanya-tanya tentang hal ini, bahwa perihal seks pun menjadi halal.

Ah tolong maafkan aku. Aku cukup terhentak dengan berita-berita koran dan infotainment. Banyak sekali berita tentang kawin kontrak. Banyak sekali para tokoh layar kaca yang berucap ‘kalo mo ‘gigituan’ kan halal, wong udah nikah’ begitu entengnya. Engkau menangkap ketakutan keduaku?

‘Zina dalam pernikahan’. Ya, zina bertopeng nikah. Mungkin term inilah yang paling cocok menggambarkan hal ini. Bahkan, bukankah dalam Al-Quran pun memberikan himbauan untuk tidak melakukan ini, bukan? Lantas, siapa diriku? Aku hanyalah seorang pria. Sungguh, ketakutan yang amat sangat bagiku bila kelak memandangmu hanya ‘seonggok tubuh’ saja. Tak memandang dirimu secara keseluruhan. Hanya mencintai tubuhmu, bukan dirimu. Meskipun hanya sesaat. Sungguh, aku takut.

Hei, aku pun tertegun dengan sebuah cerita. Ini pun berkisah tentang sang manusia agung, Rasulullah. Betapa dia memiliki sifat entrepreneurship yang luar biasa dahsyat, kekayaannya sebetulnya sangat melimpah ruah. Namun, kekayaannya itu ia tutupi oleh baju kesederhanaan. Kekayaannya pun berdifusi, senantiasa mengalir kepada sekitarnya yang membutuhkan.

Ah, lihatlah diriku. Yang telah berumur kepala dua tetap belum mandiri. Yang baru saja menyadari pentingnya entrepreneurship. Saat ini aku hanyalah sosok yang sok kaya, namun sebetulnya miskin. Sungguh bagaikan sisi uang logam aku dengan Rasul. Kalaulah Rasul menutupi kekayaan dengan kesederhanaan, sehelai baju terindah sepanjang masa. Maka, aku menutupi kemiskinanku dengan selendang kesombongan, selendang kekayaan. Parahnya, selendang ini pun bukanlah hasil tetes keringatku, namun orangtuaku.

Dan hal yang menjadi tantangan utama adalah saat aku berusaha untuk mengikuti apa yang diperbuat oleh sang suri tauladan kita, Rasulullah, dengan istri tercintanya, Khadijah. Engkau boleh tidak setuju, namun menurutku, kisah cinta mereka merupakan kisah teromantis sepanjang masa. Bagaimana tidak, bahkan cinta mereka pun mampu kita rasakan sampai sekarang.

Apa buktinya? Tidak perlu jauh-jauh, apa yang kita rasakan tiap hari, apa yang selalu kita syukuri, itu adalah buah dari bibit cinta mereka. Itu adalah Islam. Islam yang selalu kita nikmati sampai detik ini, ternyata terlahir dari kamar sepasang kekasih.

Bayangkanlah, apa kiranya yang terjadi pada saat itu, saat dimana Rasulullah mendapatkan wahyu pertamanya, kemudian tiada Khadijah di sampingnya? Mungkin, Islam takkan tersebarkan seperti ini. Mengingat, kondisi Rasul saat penerimaan wahyu pertamanya pun betul-betul mengguncang kondisi mentalnya. Karena ada sosok istri tercinta yang senantiasa mengirimkan cinta tulus padanyalah, Rasul mampu bangkit dari kondisi yang mengguncangkan jiwa ini, saking besarnya amanah baru yang ditanggungnya. Tak semudah pengakuan orang-orang sekarang bahwa dirinya adalah nabi.

Lihatlah kejadian ini. Ternyata, cinta sang teladan kita pun bukan hanya ‘cinta aku kamu’. Bukanlah cinta yang hanya menonjolkan diriku dan dirimu, dan meniadakan makhluk lain, yang menjadikan dunia hanya milik berdua. Namun lihatlah, bahwa cintanya merupakan sebuah cinta yang rahmatan lil ‘aalaamiin, cinta yang cintanya menyebar ke seantero jagat raya.

Engkau boleh tak setuju, namun jujur, perihal inilah yang perlu kurenungkan. Bahwa, apa yang akan kita tempuh bukan semudah air yang mengalir dari hulu ke hilir. Dan kesimpulan yang mengguncang hatiku adalah bahwa seseorang tak pantas disebut kekasih apabila tidak mendekatkan diri kita sendiri kepada Allah. Ketakutan pun menjelmaku, bahwa aku belum tentu layak disebut kekasih. Namun, aku takkan berpangku tangan saja. Aku pun kan senantiasa menjelma menjadi seorang kekasih. Meskipun bagiku, cinta itu sendiri tak terjamah definisi.

Nah, siapkah engkau menjadi seorang kekasih? Karena aku pun akan senantiasa menjemputmu dengan takut dan harapku

Minggu, 21 November 2010

sahabat

0komentar
Saat pertama bertemu, kawan-kawan aku punya firasat
Bahwa pertemuan kita bukan sekedar isyarat
Dan itu terbukti, kawan-kawan, setelah perjuangan yang sarat
Pertemuan kita, bagiku, adalah berkat

Kita telah berjalan bersama, kawan-kawan, dalam ringan dan berat
Saling bertanggungan ketika lengah maupun taat
Mendukung dan mengingatkan, layaknya teman sejawat
Ada kalanya dalam langkah kita, aku merasa jenuh dan penat
Tapi melihat senyummu, kawan-kawan, aku kembali teringat
Bahwa aku tidak boleh menyia-nyiakan rahmat
Dari Tuha, yang membuatku mampu berikan manfaat
Kepada mereka yang membutuhkan dan mendapat
Bersama kalian, kawan-kawan, bersama hati-hati yang melihat
Dalam Pengabdian Kepada Masyarakat

Walau bagiku, pertemuan kita terlalu singkat
Aku berharap, kawan-kawan, untuk sekarang dan setiap saat
Kita kan selamanya menjadi sahabat

The Bocah Boy
PKM-11

Selasa, 05 Oktober 2010

Sebuah Nama Untukmu

3komentar

Bismillahirrahmaanirrahiim

Anakku sayang,

Saat ini memang engkau belum pentas di muka bumi ini. Dan entah berapa tahun kemudian engkau hadir di dunia ini. Bila Tuhan mengijinkan, kuingin engkau berada dalam peluk timangku sambil terbata-bata mengucapkan ‘Ayah’ atau ‘Papa’. Tak lupa pula engkau kembangkan senyum manismu kepada ayahmu. Senyum manis yang dapat menghilangkan beban pikir dalam benakku.

Anakku sayang,

Ngomong-ngomong, ayah belum memiliki rancangan gelar yang akan kau sandang. sebuah gelar yang tersimpan doa dan harapan di dalamnya. Sebuah gelar yang akan menjadi semangat hidupmu. Sebuah gelar yang akan mewarnai esensi kehidupanmu ke depannya. Ya, ayah belum memiliki sebuah nama untuk diwariskan kepadamu, nak. Sungguh, ayah malu.

Apa engkau tidak penasaran dengan nama ayah, nak?? Makna nama ayah cukup berat, nak. Yaitu ‘Kebaikan Yang Sempurna’. Bagaimana mungkin seorang manusia memiliki sebuah kebaikan yang sempurna?? Sungguh mustahil bukan nak??

Berbeda jauh dengan makna gelarku, ayah malah tidak memiliki semangat ‘kebaikan’ itu. Seringkali, ayah menyusahkan ibuku, nenekmu. Bahkan semenjak ayah masih berada dalam kandungan nenek.

Bayangkan saja nak, ayahmu berada 9 bulan dalam kandungan nenekmu. Cukup merepotkan bukan?? Terutama saat-saat menjelang kelahiran ayah.

Pada tanggal 30 April 1990 pagi, nenekmu masuk rumah sakit karena sudah bukaan 3. Masa-masa di mana ayah akan ‘terjun’ ke dunia ini. Dokter kandungan telah memperkirakan bahwa kelahiran akan terjadi sore harinya. Namun kenyataan berkata lain. Nenekmu tetap dalam kondisi bukaan 3 sampai tanggal 1 Mei 1990 paginya.

Mulailah sang dokter kandungan memberikan induksi Oxytocin untuk memperkuat kontraksi rahim. Namun entah mengapa, kondisi nenekmu saat itu tetap bukaan 3!! Karena kondisi yang terlampau lama, terjadilah pendarahan yang cukup banyak, sehingga kondisi jantung nenekmu melemah. Saat itu, ayah membahayakan nyawa nenekmu, nak.

Selidik-selidik, ternyata saat itu badan ayahmu cukup besar nak, sehingga menyebabkan kondisi dystocia, yaitu kondisi di mana ayah sulit untuk dilahirkan. Maka, nenekmu dengan segera dibawa menuju ruang bedah. Bayangkan nak. Ruang bedah!! Bukan ruang persalinan. Pasukan medis pun terdiri dari dokter kandungan, dokter penyakit dalam, dokter anak, dan dua bidan.

Dengan dipantaunya jantung nenekmu oleh dokter penyakit dalam, para bidan kemudian mendorong perut nenek, sedangkan kepala ayah saat itu di-vakum. Namun sayang, usaha vakum gagal. Ayah masih nyangkut di dalam rahim. Usaha kedua pun dilakukan dengan cara yang sama. Namun lagi-lagi tidak membuahkan hasil. Para pasukan medis pun mungkin sedikit putus asa di sana. Namun yang lebih menyedihkan, nenekmu semakin lemas di ranjang bedah.

Usaha ketiga pun akhirnya dilakukan. Dengan vakum bertenaga maksimum serta dorongan maksimum dari para bidan, akhirnya ayah terlahir ke dunia ini dengan selamat. Bayangkan nak, betapa ayah sungguh merepotkan nenekmu dulu, 20 tahun silam.

Tidak sampai situ, karena kondisi ayah yang kurang baik saat itu,setelah lahir ayah langsung diinkubasi selama 3 hari. Saat itu nenekmu belum sempat sekalipun melihat muka ayah karena kehabisan darah. 4 hari setelah melahirkan, barulah nenekmu berkesempatan untuk melihat dan menggendong ayah yang masih mungil ini.

Perjuangan yang sangat berat, perjuangan yang tiap detiknya mempertaruhkan nyawa, hanya demi melahirkan seseorang seperti ayah. Siapa ayah saat itu?? Bukanlah siapa pun. Hanya seseorang yang hanya bisa menangis merengek untuk kebutuhan hidupnya. Hanya ‘demi’ makhluk lemah seperti itu, nenekmu bertaruh nyawa. Mungkin seumur hidupnya, ayahmulah orang pertama yang membuatnya sekarat.

Nama bermakna ‘Kebaikan yang Sempurna’ pun disandangkan kepadaku sebagai wujud syukur kepada Allah SWT karena telah melewati perjuangan yang luar biasa. Nama yang sangat berat bagi ayah, karena tidaklah mungkin seorang manusia mencapai kesempurnaan. Namun, di balik beban itu, tersimpan sebuah harapan dan doa. Ayah diharapkan untuk senantiasa menebar manfaat kepada sekitar, senantiasa menerapkan konsep Rahmatan lil ‘aalaamin dalam setiap alunan waktu ayah. Dan semangat untuk senantiasa kucari, kukejar, dan kugenggam makna sejati dari ‘Kebaikan yang Sempurna’.

Karena itulah nak, ayah sangat malu malam ini, saat ayah menulis surat ini. Malu karena ayah belum memiliki semangat untuk dialirkan kepadamu. Malu karena ayah merasa belum siap untuk menjadi ayah yang terbaik bagimu. Belum siap diri ini untuk mencetak manusia yang jauh lebih baik daripada ayah. Tapi ayah tetap menginginkan kehadiranmu. Mari kita sama-sama kuat dengan menguatkan, tumbuh dengan menumbuhkan, dan maju dengan memajukan, nak.

Tunggulah saatnya. Saat engkau hadir di dunia ini dengan senyum indahmu, kupastikan engkau mendapat nama terindah yang maknanya akan mengisi setiap hirup napasmu. Kan kuberikan engkau sebuah nama terindah kristalisasi hati dan jiwa ayah. Sebuah nama terindah dari hati yang tak mati.

Jatinangor, 5 Oktober 2010

Ayahmu,

Ikhsanun Kamil Pratama


http://azkamadihah.wordpress.com/2010/lomba-surat

Kamis, 23 September 2010

beban

1 komentar

Setting : Jatinangor, 21 September 2010

Sore hari ini, pukul 16.00, telah tercatat dalam agendaku tentang acara ‘Halal bi Halal’ Senat FKUP, dan seharusnya saya berada di sana tepat waktu.Entahlah, agenda ini merupakan salah satu agenda yang sangat ingin saya hadiri dengan tidak telat sedetik pun. Mungkinkah karena ingin bersilaturahim dengan sesama?? Atau mungkin sudah tidak lama berada dalam keramaian?? Entahlah, yang jelas saya ingin ke sana dan tidak ingin tersia-siakan satu detik pun.

Waktu pada jam tanganku menunjukkan pukul 13.30. Tiba-tiba saya kembali teringat akan agenda ‘dadakan’ yang mau tidak mau harus saya penuhi, yaitu ngumpul calon delegasi acara ‘antibiotic’ yang akan dilaksanakan di Padang. ‘Aaaahh, napa harus jam 4 juga????’, gumamku dalam hati. Dengan kaki , yang agak berat menuju ke sana dan berharap pertemuannya cepet beres.

Singkat cerita, pertemuan itu akhirnya beres jam 5 kurang 15. Karena gak bawa kendaraan, bersegeralah diriku ke bale 4 untuk berpartisipasi di Halal bi Halal. Dan memang sedikit kaget juga waktu sampai di sana, saya langsung ‘disuguhkan’ games dan ‘video klip cinta’ persembahan pasangan MC acara, Acim n Otay!! -_-. Lelah yang ‘kuderita’ karena mengambil langkah seribu dari FK pun bertambah karena ngakak melihat tingkah mereka. Serasi beud kalian boy! Cemburu aku melihatnya. Hha

Kegiatan ‘video klip’ pun beralih ke acara yang lebih ‘sendu’. Suatu renungan dari Ribonk, sang Ketua Sema periode ini, yang menurut saya cukup tajam, namun sebetulnya simpel. ‘Sisa kepengurusan kita hanyalah 4 bulan lagi. Selama 8 bulan ini, apa yang telah teman-teman dapatkan di Senat?’.

Terdiam diriku mendengar pertanyaan lontaran Ribonk. Apa saja yang telah saya dapatkan di senat selama kepengurusan ini?? Selama 8 bulan saya diamanahkan sebagai kasie PKM, apa yang saya dapatkan??

Ternyata, saya hanya mendapat satu hal saja, yaitu BEBAN.

Beban karena saya harus melayani 1200 mahasiswa FK Unpad..

Beban karena saya diamanahi 23 staf yang harus saya kembangkan..

Beban karena saya harus menjawab permasalahan-permasalahan di FK Unpad dalam bentuk proker..

Beban karena menjadi kasie menyebabkan saya ‘melek’ akan permasalahan di FK Unpad yang sebelumnya tak terlihat..

Beban karena saya harus berpikir lebih banyak dari yang lain..

Beban karena saya senantiasa ‘ditodong’ dengan evaluasi dan LPJ..

Beban karena merasa 8 bulan ini saya cenderung stasis

Beban pula mengingat sisa kepengurusan 4 bulan, harus Hurry Go Round.

Beban… (ah sudah ah beban terus..)

Bebanlah yang mewarnai kehidupan saya. Bebanlah yang telah saya dapatkan di senat.

Namun tahukah kawan?? Beban ini justru merupakan anugerah terindah bagi saya..

Dengan beban ini,saya semakin sadar bahwa saya tidak bisa apa-apa, sehingga insya Allah saya lebih dekat dengan-Nya

Dengan beban ini, bertambah pengertian saya tentang ‘aku makhluk sosial’

Dengan beban ini, kesombongan masa lalu saya sedikit demi sedikit menghilang

Dengan beban ini, melatih saya untuk mengasah kemampuan diri

Dengan beban ini, saya bisa menutup lubang permasalahan yang ada

Dengan beban ini, membuat saya melakukan tindakan bagi yang lain sebagai ibadah pada-Nya

Tidak selamanya beban itu suatu hal yang buruk. Masih ingatkah saat kita masih menjadi beban bagi ibu kita dulu?? Saat kita masih berada di rahim, bukankah ibu kita dengan ikhlas dan senang hati menopang ‘beban’nya dulu??

Sungguh, senat memberikan sebuah beban yang ternyata merupakan nikmat yang tak terkira buat saya. Seenat memberikan beban yang tak ternilai harganya. Dan sungguh, saya sangat bersyukur akan beban yang saya topang selama ini.

-Karena hidup adalah beban, namun beban itulah yang mendekatkan kita pada-Nya-

-Dengan bebanlah kita mengabdi, mempersembahkan sesuatu dari hati yang tak mati-

Jatinangor, 23 September 2010

17.10 waktu leptop saya

Sabtu, 24 Juli 2010

di balik nama...

0komentar

alkisah 20 tahun lalu di sebuah rumah sakit di Bandung sedang terjadi proses persalinan. Singkat cerita, pada proses persalinan itu terjadilah dystocia alias sang bayi sulit keluar karena ukuran sang bayi cukup besar dibanding ukuran panggul sang ibu. Kondisi seperti ini membuat rasa sakit yang lebih pada sang calon ibu, padahal ini adalah pengalaman pertamanya. ya, sang calon ibu ini sedang berjuang untuk anak pertamanya.

Kondisi sang ibu pun agak lemah, entah sakit seperti apa yang menderanya. Ditambah adanya kondisi dystocia. Maka, sang dokter memutuskan untuk mengambil sang anak menggunakan penjepit (forcep). Namun apa daya karena ukuran sang bayi yang cukup besar, usaha forcep pun masih belum berhasil.

Langkah selanjutnya yang terpikirkan oleh tim dokter di sana adalah dengan cara divakum.

Dengan kesadaran yang hampir hilang namun tekad pengorbanan nyawa dari sang ibu, sang ibu menyetujuinya. Vakum pertama,belum berhasil. Kedua, masih gagal. Usaha ketiga, bilamana gagal maka tim dokter akan memutuskan untuk melakukan operasi cesar. Alhamdulillah,vakum ketiga berhasil mengeluarkan bayi yang cukup sehat.

Perjuangan sang ibu akhirnya mendapat hasil yang cukup membahagiakan banyak pihak. Lemas, sakit, perih, perasaan yang tidak menyenangkan itu masih terasa, namun terkalahkan aas rasa syukur yang sangat luar biasa atas kelahiran anak pertamanya. Tidak lama kemudian, sang manusia mungil itu mendapatkan sebuah gelar yang luar biasa sebagai bentuk syukur dari perjuangan besar sang ibu. Sang ayah dan sang ibu pun memberikan gelar....

Ikhsanun Kamil Pratama

Kejadian ini terjadi tanggal 1 Mei 20 tahun lalu.

Sebuah gelar yang memiliki makna yang sangat luar biasa. Sebuah gelar dengan harapan yang besar untuk menjadi kenyataan. Gelar yang bermakna kebaikan yang sempurna. Gelar yang bermakna sangat mendalam. Gelar yang dirasa kurang pantas untuk diberikan kepada manusia yang belum bisa menjadi seperti pengharapan.

Sempurna, hanya Allah yang sempurna. Berat diri ini untuk melakukan kebaikan yang sempurna. Kebaikan yang bahkan berskala atomik (atau lebih kecil lagi) hingga berskala superkluster (atau lebih besar dari itu) dengan jumlah kebaikan yang tidak mungkin terhitung yang Allah berikan secara mengglobal. Sungguh suatu ketidakpantasan untuk menggenggam gelar seperti ini.

Barangkali untuk ukuran manusia, gelar tersebut hanya pantas diberikan kepada Baginda Rasulullah SAW. kurang pantas bila gelar semulia ini diberikan padaku. Sebuah pandangan yang cukup pesimis memang.

Namun, gelar ini merupakan suatu harapan dari sang pemberi gelar. Harapan agar selalu berlari ke sana. Gelar ini adalah sebuah doa yang luar biasa, sekaligus harapan yang sangat mendalam.

Gelar ini,,

kan kucari apa makna sejatinya...

kan kukejar makna sejatinya...

kan kugenggam makna sejatinya...

QS Al-Fatihaah : 6-7

Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat

QS Al-Qashash (28) : 24

Maka Musa memberi minum ternak itu untuk (menolong) keduanya, ke- mudian dia kembali ke tempat yang teduh lalu berdoa: "Ya Tuhanku sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku."

Pencari Makna Kebaikan Yang Sempurna

 

Ikhsanun Kamil Pratama © 2010

Blogger Templates by Splashy Templates