Rabu, 28 Juli 2010

tak hanya sekedar euphoria

3komentar
sebuah sajak menarik yang ditulis oleh Prof. Dr. Priguna Sidharta,,
cukup sebagai penetral dari bermacam media yang menonjolkan sisi euphoria dari pernikahan..

Perkawinan
suatu tantangan yang harus dihadapi,
suatu perjuangan yang harus dimenangkan,
suatu kesusahan yang harus diatasi,
suatu rahasia yang harus digali,
suatu tragedi yang harus dialami,
suatu kegembiraan yang harus disebarkan,
suatu cinta yang harus dinikmati,
suatu tugas yang harus dilaksanakan,
suatu romantika yang harus dirangkul,
suatu risiko yang harus diambil,
suatu lagu yang harus dinyanyikan,
suatu anugerah yang harus dipergunakan,
suatu permainan yang menyenangkan,
suatu impian yang harus diwujudkan,
suatu perjalanan yang harus diselesaikan,
suatu janji yang harus ditepati,
suatu keindahan yang harus dikagumi,
suatu pertanyaan yang harus dijawab,
suatu kesempatan yang harus dipakai,
suatu persoalan yang harus dipecahkan,
suatu kesulitan yang harus dikalahkan,
rahmat yang harus dipelihara dan dicintai.


Hmm, bagi saya sajak ini cukup berimbang dalam melihat sesuatu yang disebut pernikahan. Bukan dalam bentuk memanas-manasi sehingga menimbulkan euphoria semata

Sabtu, 24 Juli 2010

di balik nama...

0komentar

alkisah 20 tahun lalu di sebuah rumah sakit di Bandung sedang terjadi proses persalinan. Singkat cerita, pada proses persalinan itu terjadilah dystocia alias sang bayi sulit keluar karena ukuran sang bayi cukup besar dibanding ukuran panggul sang ibu. Kondisi seperti ini membuat rasa sakit yang lebih pada sang calon ibu, padahal ini adalah pengalaman pertamanya. ya, sang calon ibu ini sedang berjuang untuk anak pertamanya.

Kondisi sang ibu pun agak lemah, entah sakit seperti apa yang menderanya. Ditambah adanya kondisi dystocia. Maka, sang dokter memutuskan untuk mengambil sang anak menggunakan penjepit (forcep). Namun apa daya karena ukuran sang bayi yang cukup besar, usaha forcep pun masih belum berhasil.

Langkah selanjutnya yang terpikirkan oleh tim dokter di sana adalah dengan cara divakum.

Dengan kesadaran yang hampir hilang namun tekad pengorbanan nyawa dari sang ibu, sang ibu menyetujuinya. Vakum pertama,belum berhasil. Kedua, masih gagal. Usaha ketiga, bilamana gagal maka tim dokter akan memutuskan untuk melakukan operasi cesar. Alhamdulillah,vakum ketiga berhasil mengeluarkan bayi yang cukup sehat.

Perjuangan sang ibu akhirnya mendapat hasil yang cukup membahagiakan banyak pihak. Lemas, sakit, perih, perasaan yang tidak menyenangkan itu masih terasa, namun terkalahkan aas rasa syukur yang sangat luar biasa atas kelahiran anak pertamanya. Tidak lama kemudian, sang manusia mungil itu mendapatkan sebuah gelar yang luar biasa sebagai bentuk syukur dari perjuangan besar sang ibu. Sang ayah dan sang ibu pun memberikan gelar....

Ikhsanun Kamil Pratama

Kejadian ini terjadi tanggal 1 Mei 20 tahun lalu.

Sebuah gelar yang memiliki makna yang sangat luar biasa. Sebuah gelar dengan harapan yang besar untuk menjadi kenyataan. Gelar yang bermakna kebaikan yang sempurna. Gelar yang bermakna sangat mendalam. Gelar yang dirasa kurang pantas untuk diberikan kepada manusia yang belum bisa menjadi seperti pengharapan.

Sempurna, hanya Allah yang sempurna. Berat diri ini untuk melakukan kebaikan yang sempurna. Kebaikan yang bahkan berskala atomik (atau lebih kecil lagi) hingga berskala superkluster (atau lebih besar dari itu) dengan jumlah kebaikan yang tidak mungkin terhitung yang Allah berikan secara mengglobal. Sungguh suatu ketidakpantasan untuk menggenggam gelar seperti ini.

Barangkali untuk ukuran manusia, gelar tersebut hanya pantas diberikan kepada Baginda Rasulullah SAW. kurang pantas bila gelar semulia ini diberikan padaku. Sebuah pandangan yang cukup pesimis memang.

Namun, gelar ini merupakan suatu harapan dari sang pemberi gelar. Harapan agar selalu berlari ke sana. Gelar ini adalah sebuah doa yang luar biasa, sekaligus harapan yang sangat mendalam.

Gelar ini,,

kan kucari apa makna sejatinya...

kan kukejar makna sejatinya...

kan kugenggam makna sejatinya...

QS Al-Fatihaah : 6-7

Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat

QS Al-Qashash (28) : 24

Maka Musa memberi minum ternak itu untuk (menolong) keduanya, ke- mudian dia kembali ke tempat yang teduh lalu berdoa: "Ya Tuhanku sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku."

Pencari Makna Kebaikan Yang Sempurna

mengabdi dengan pena

0komentar
Pengabdian, merupakan esensi kehidupan. Di mana pun, kapan pun selama kita hidup, sejatinya kita sedang mengabdi. Karena memang, pengabdian itu sendiri merupakan fitrah dari manusia yang memiliki peran sebagai hamba Allah.

QS Adz-Dzariyaat (51) : 56

dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.


Maka, segala kegiatan dalam hidup kita hendaknya menjad bentuk pengabdian kita kepada-Nya. Tentu saja, kita bisa mengabdi dengan pena kita.

Ya, menulislah yang saya maksud. Menulis dimana ini merupakan kegiatan menuangkan isi pikiran dan hati ke media tertulis ini memiliki kekuatan yang sangat luar biasa yang mungkin terkadang tidak kita sadari kekuatan ini.

Menjadi seorang penulis tidak berbeda jauh dengan menjadi seorang pemimpin. Karena seorang pemimpin bagi saya adalah seorang inspirator. Mirip bukan?? Di mana seorang penulis menginspirasi banyak orang tidak hanya yang dikenal bahkan sampai orang yang tak dikenal pun terinspirasi. Bahkan mungkin bisa menjadi satu visi dengan penulis. Terasa luar biasa bukan kekuatan dari kegiatan menulis??

Bayangkan, sebagaimana besar tanggung jawab dari seorang penulis. Ia terkadang harus menerima berbagai macam serangan, kritikan, dan cemoohan. Ia menjadi ‘sasaran’ tembak bagi sekelilingnya. Pekerjaan seperti inilah yang dihindari kebanyakan orang. Karena sekali lagi, tanggung jawabnya memang sangat besar. Namun tenang kawan, izinkan saya mengutip untaian kata yang indah berikut ini

QS Al-Insyiraah (94) : 5-6


karena Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.


“Tiga jenis manusia yang akan mendapatkan pertolongan Allah; (1) orang yang memperjuangkan agama Allah, (2) penulis yang senantiasa memberikan penawar, (3) orang yang menyegerakan menikah demi menjaga kehormatannya.” (HR Thabrani)


Sungguh luar biasa bukan seorang penulis itu?? Maka perjuangkanlah agama Allah, jadilah penulis, kemudian menikah (lohh??). Di balik tanggung jawab yang besar, percayalah di baliknya terdapat manfaat yang sangat besar.

Kekuatan menulis tidak hanya itu. Bayangkan kawan, kekuatan menulis bahkan sampai bisa membuat sebuah NEGARA. Bagaimana bisa?? Tahu negara Israel?? Negara yang selalu gencar-gencarnya menghajar Palestina ini berdiri karena inspirasi yang tersimpan dalam BUKU. Buku yang menginspirasinya adalah Der Judenstaat (The Jewish Sate) dan Altneuland (Old New Land) karangan Theodore Herzl (memiliki nama lain Benyamin Se’eb). Buku inilah yang menginspirasi berdirinya negara Israel dengan mengambil hak Palestina. Barangkali tanpa buku ini, mungkin Israel belum terbentuk sampai sekarang. (Kalau yang pengen baca, bisa googling ‘Der Judenstaat’ untuk ebook gratisnya. Cuma sayang, bahasa Jerman euy)

Mungkinkah hanya dengan tulisan kita mampu menyelamatkan Palestina?? Mungkin saja. Karena bila melihat contoh barusan, kegiatan menulis ini layaknya seperti bola salju. Bola salju yang semula kecil yang menggelinding ke bawah lama-kelamaan akan menjadi besar. Sesuatu yang sangat simple kita kerjakan, dampaknya bisa menjadi besar di kemudian hari. Bila maksud untuk menulis kita untuk beribadah, untuk mengabdi, percayalah bahwa dampaknya kelak insya Allah akan sangat besar. Insya Allah memberikan rahmat bagi semesta alam. Setting kaum rahmataan lil ‘aalamiin akan sangat terasa ‘hanya’ karena kegiatan menulis ini.

Mengabdi dengan pena(keyboard)?? Mulailah dari SEKARANG!!

“TINTA ULAMA ITU SAMA DENGAN DARAH SYUHADA”
(AHLI HIKMAH)

Senin, 19 Juli 2010

Hikmah dari Sang Pembuat Kemacetan

1 komentar
Suasana kota yang sedari dulu saya tinggali sekarang berubah sudah. Kota yang dari dulu sampai sekarang menjuluki dirinya sebagai Berhiber alias Bersih Hijau Berbunga itu kurang terasa sekarang julukannya. Polusi dimana-mana, kepadatan terjadi hampir di seluruh jalannya, dan tentu saja… PANAS!!! Sialnya, pada hari sabtu kemarin saya mendapatkan semua kondisi itu.

Terhanyut dalam kepadatan kendaraan di jalan Kircon bikin saya sok kumur-kumur sendiri gak jelas untuk menghilangkan kantuk yang datang sementara si ‘D 1668 YW’ku hanya maju kira-kira 5 cm/menit (tapi kayaknya lebay juga sih). Ya Allah, dalam kondisi seperti ini ingin sekali saya langsung sampai rumah dan tertidur pulas!!

Kemacetan ini betul-betul terasa ‘lebih’ dari yang biasa (apa gara2 kebiasa di nangor yang jarang macet kali ya??). Bahkan tak jarang melodi klakson berbunyi dengan sangat BERISIK. Semakin menguji kesabaranku di hari itu.

Mobil-mobil depanku mulai berpindah jalur ke sebelah kiri. Dan akhirnya saya berada di belakang mobil sejenis Jeep berwarna biru.Ternyata, mobil inilah pelaku kemacetan di jalan ini. Saya pun sedikit geram dan ingin memindahkan jalur mobilku ke sebelah kiri. Namun saya melihat pemandangan yang tidak biasa dari sang sopir jeep itu. Selalu terlihat tangan yang member kepada pengemis di pinggiran jalan. Bukan uang seribu dua ribu. Tapi nasi bungkus!!!

Mungkin memang sebetulnya biasa saja. Namun bagi saya sang pengemudi itu sungguh luar biasa. Teringat dalam benak saya QS An-Nisa (4) : 5

dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya, harta (mereka yang ada dalam kekuasaanmu) yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan. berilah mereka belanja dan pakaian (dari hasil harta itu) dan ucapkanlah kepada mereka kata-kata yang baik.

Ya, kejadian itu cukup ‘menyentil’ hatiku. Bayangkan saja, konsep ‘tidak memberi uang namun barang jadi’ telah terpikirkan sejak 4 tahun lalu. Namun, pelaksanaannya sampai detik ini?? NOL BESAR!!! Malu merambat sampai ke ubun-ubun. Apakah pelaksanaan teknis seperti itu harus menunggu 4 tahun??
Kenapa sih konsep ‘pemberian barang jadi’ layaknya bisul yang tersimpan di kepala saya?? Ada beberapa alasan :
1. QS An-Nisa : 5
2. Memang nyata terjadi, bahwa para pengemis di area-area tertentu ada bos-nya. Uang yang kita berikan tentulah tidak tepat sasaran.
3. Budaya kemalasan dan ketidakmandirian bisa terjadi hanya karena ini
4. Ditakutkan, pengemis (terutama anak-anak) akan semakin merajalela karena dipekerjakan oleh sang ‘bos’
5. Seringkali penggunaan uang seribu-dua ribu yang kita beri TIDAK digunakan untuk kebutuhan primer. Pernah lihat pengemis membeli rokok better than makanan atau minuman?? Bila saya lihat An-Nisa : 5, golongan ini termasuk golongan yang ‘belum sempurna akalnya’ karena penggunaan kulit otaknya (cortex cerebri) dikalahkan oleh amigdala.
6. Pernah lihat pengemis menenteng HP?? Ya, ada orang mampu berperan menjadi pengemis.

Metode pemberian barang jadi menurut saya lebih bermanfaat bagi mereka. Mungkin perihal memberi seribu-dua ribu merupakan hal yang kecil. Namun saya percaya, hal yang kecil (baik itu berdampak baik atau buruk) akan memiliki efek bola salju, semula kecil namun dampaknya akan besar ke depannya.

Yang utama adalah kembali kita perlurus niat apakah sedekah yang kita berikan untuk sekedar membersihkan dompet atau untuk mempersembahkan sesuatu dari hati yang tak mati.

Kemudian, kegeraman saya berubah menjadi sebuah semangat untuk berbuat lebih baik lagi. Pada hari itu, di terik matahari di kota Bandung yang cukup panas, angin inspirasi berhembus menyejukkan jiwaku dari sang pembuat kemacetan tersebut.

Sabtu, 17 Juli 2010

iman, obat anti-kanker paling mantap

0komentar
Assalamu’alaikum kawan,,

Ada cerita yang cukup menarik yang mungkin sudah secara umum tersebar, yaitu cerita tentang pasien yang mengidap kanker. Diceritakan bahwa pasien ini memiliki kanker yang sudah stadium 4, which means sudah sampai metastasis ato sel kankernya berpindah tempat gitu ya. Pasien ini sudah berkali-kali ditangani dengan berbagai macam obat-obatan mutakhir, namun tidak kunjung sembuh. Begitu pun dengan penanganan lainnya, seperti radiasi, atau apapun itu bentuknya. Namun tetap pasien ini tidak kunjung sembuh juga kankernya.

Nah, tidak hanya sampai situ. Bahkan parahnya, sang pasien ini sudah diperkirakan bahwa jatah usianya mungkin tinggal sebentar lagi (sebutlah 3 minggu) dan penanganan medis pun akhirnya sudah tidak dilakukan kembali. Maka, akhirnya stress yang didapat pasien tersebut.

Namun, hebatnya pasien ini memiliki keikhlasan yang luar biasa akan kondisinya. Pasien ini menyerahkan segalanya kepada Allah. Singkat cerita, dia menjadi lebih dekat dengan penyakit yang dideritanya. Apabila sebeum sakit ia sering lalai akan shalat, maka sekarang ia tidak meninggalkan shalat bahkan justru menambah porsinya dengan shalat-shalat sunah. Kadar beribadahnya menjadi jauh meningkat pesat sebelum ia mengidap kanker tersebut.

Menariknya, kanker stadium 4 itu sembuh total karena izin Allah. Karena keintimannya dengan Allah, Allah memberikan kesembuhan kanker tersebut. Spontan saja, dokter yang sudah ‘memvonis’ pasien tersebut terkejut keheranan. ‘Why, kunaon ini bisa terjadi begitu saja??’

Mungkin cerita lengkapnya bisa dilihat di salah satunya http://ervakurniawan.wordpress.com/2010/06/09/pengidap-kanker-sembuh-atas-izin-allah/

Nah, fenomena ini cukup menarik perhatian saya. Sejauh pemahaman saya, Allah pasti selalu menolong hamba-Nya dari mana pun, dari mekanisme apapun yang sesuai dengan Sunatullah yang telah Allah tetapkan sendiri dan tidak akan berubah. Seperti firman Allah dalam QS Al-Fath (48) : 23

sebagai suatu sunnatullah yang telah Berlaku sejak dahulu, kamu sekali-kali tiada akan menemukan peubahan bagi sunnatullah itu.

Alhamdulillah, Allah memberikan ‘bocoran’ mekanisme kejadian di atas saat saya mendapat pelajaran tentang sistem imun dalam tubuh manusia.

Sistem imun tubuh kita secara garis besar ada 2 macam, yaitu innate dan adaptive. Di mana innate merupakan jenis imun yang sudah dari sononye bekerja seperti demikian. Sedangkan adaptive, sesuai namanya, dia bekerja dengan penyesuaian diri terlebih dahulu. Sebutlah contoh penyakit cacar. Disebutkan bahwa manusia hanya bisa sekali mengidap cacar.Kenapa ini terjadi?? Karena pada saat pertama kali, adaptive immune ini belum bekerja. Imun seperti ini sedang mencoba mengenali virus penyebab cacar ini sebagai musuh. Maka apabilla virus penyebab cacar kembali menyerang tubuh, imun adaptif ini akan membloknya. Seperti itulah kerja imun adaptif ini.

Nah, kerja sistem imun ini tentu untuk memerangi bermacam benda asing yang berada di tubuh kita. Baik zat asing yang berasal dari luar tubuh kita, seperti virus atau bakteri, maupun ‘sesuatu’ yang berasal dari dalam tubuh kita, sebutlah sel-sel yang mati, dia perangi. Termasuk, sel-sel penyebab kanker pun ia perangi.

Apa itu kanker?? Bisa dibilang, ini merupakan penyakit dimana sel-sel akan tumbuh secara tidak terkendali. Sel-sel ini merupakan sel-sel yang ‘serakah’ karena ia mengambil nutrisi yang seharusnya milik tetangganya, namun ia ‘rampok’ hanya untuk kepentingan dia sendiri. Dan dampaknya, pasien yang mengidap kanker stadium akhir biasanya menjadi kurus karena kurang nutrisi. Inilah dampaknya bila kita berlebih-lebihan akan sesuatu hal.

QS Al-A’raaf (7) : 31

Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di Setiap (memasuki) mesjid, Makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.

Maka kesimpulan pertama yang bisa kita ambil di sini adalah bahwa sel imun bertugas ‘memberantas’ (salah satunya) sel kanker.

Bagian yang menariknya adalah bahwa sel imun ini pun dipengaruhi oleh hormon. Sel imun ini ditekan fungsinya oleh (salah satunya) hormone kortisol. Hormon kortisol ini sebetulnya memiliki efek yang sangat beragam di masing-masing jenis sel. Namun saat ini, kita fokuskan saja di sel imun.

Hormon kortisol secara alamiah berada pada konsentrasi yang tinggi saat pagi hari. Namun, kortisol ini pun akan diproduksi tubuh apabila kita mengalami STRESS. Jangan heran, apabila orang yang suka negative thinking sangat mudah terserang penyakit. Kenapa?? Karena saat negative thinking, tubuh akan mengeluarkan kortisol di atas rata-rata dan berefek kepada ‘mandulnya’ sel imun kita. Mengingat fungsi sel imun tadi juga sebagai ‘pengawas’ dari sel kanker, maka mungkin saja orang yang memiliki banyak musuh mengidap kanker saking stressnya. Orang-orang kafir terserang penyakit dengan mudah, termasuk kanker. Maka, kita bisa melihat bahwa Allah sama sekali tidak menganiaya kita, melainkan kita sendiri yang menganiaya diri sendiri.

QS An-Nisa (4) : 40


Sesungguhnya Allah tidak Menganiaya seseorang walaupun sebesar zarrah, dan jika ada kebajikan sebesar zarrah, niscaya Allah akan melipat gandakannya dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar.

Maka, kesimpulan kedua yang kita dapat adalah bahwa stress dapat menurunkan kerja sel imun kita.

Nah, sekarang ke pertanyaan utama. Lantas, apa hubungan ibadah dengan penyembuhan kanker?? Mari kita simak ayat ini

QS Ar-Raad (13) : 28


(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.

Ibadah bermakna mengingat Allah. Dengan mengingat Allah, hati menjadi tenang. Ketenangan yang sangat luar biasa, jauh lebih luar biasa daripada terapi yoga, tidur, atau yang lainnya. Inilah ketenangan yang bersumber dari Yang Maha Besar, tentulah berefek sangat dahsyat.

Melalui ketenangan, dengan mekanisme neuroimmunologis, fungsi sel imun betul-betul dalam keadaan sangat optimum. Mungkin ini bisa menjelaskan kenapa Rasulullah tidak pernah sakit kecuali saat ajal menjelang. Maka, saat pasien itu sangat ‘intim’ dengan Allah, sel imun sangat mantap untuk menghabisi sel-sel kanker yang berada pada tubuhnya. Dengan ini, kemungkinan untuk sembuh dari kanker pun semakin besar. Sungguh, pertolongan Allah selalu tidak terduga-duga.

QS Al-Baqarah (2) : 214

Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, Padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: "Bilakah datangnya pertolongan Allah?" Ingatlah, Sesungguhnya pertolongan Allah itu Amat dekat.

Namun, bukan harapan saya untuk kita ‘bertobat saat ajal dekat’, karena saya teringat ayat Yunus (10) : 90-91

dan Kami memungkinkan Bani Israil melintasi laut, lalu mereka diikuti oleh Fir'aun dan bala tentaranya, karena hendak Menganiaya dan menindas (mereka); hingga bila Fir'aun itu telah hampir tenggelam berkatalah dia: "Saya percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan saya Termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)". Apakah sekarang (baru kamu percaya), Padahal Sesungguhnya kamu telah durhaka sejak dahulu, dan kamu Termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan.

Ayat ini menceritakan tidak diterimanya taubat Fir’aun saat ajal telah datang mendekat. Maka marilah kita buang jauh-jauh pemikiran ‘muda maksiat tua bertobat’. Sungguh seram bila di pandangan-Nya, kita adalah cloning dari Fir’aun.

Wallahu’alam bishshawwab
 

Ikhsanun Kamil Pratama © 2010

Blogger Templates by Splashy Templates