Selasa, 04 Januari 2011

Surat Cinta untuk Kortisol

0komentar

Ah, kortisol, maafkan aku. Ternyata diriku selama ini terlalu memojokkanmu. Terlalu meng-antagoniskan dirimu dalam tubuhku. Sehingga, aku selalu luput untuk melihat kebaikan-kebaikan yang kau tebar dalam tubuhku.

Dan endorphin, tolong maafkan aku. Aku terlalu mengidolakanmu. Aku terlalu mengagung-agungkan dirimu. Aku terlalu mendewakan dirimu. Aku terlalu mengangkat tinggi-tinggi peranmu pada tubuhku, sehingga tanpa sadar aku pun luput melihat sisi gelap dari dirimu. Tolong, maafkan saya.

Wahai kortisol, kepadamu aku memohon maaf. Selama ini, aku selalu menuduhmu bahwa kehadiran dirimu melemahkan para tentara imun dalam tubuhku, sehingga dapat menyebabkan mudahnya aku terserang infeksi dan mudahnya pemberontakan-pemberontakan yang bernama tumor itu muncul. Atau, gelar ‘hormon stress’ juga merupakan tuduhan terberatku padamu. Aku kalap. Aku lupa akan satu hal, bahwa hal-hal buruk itu terjadi bilamana jumlahmu sangat banyak di tubuhku. Takkan terjadi bila jumlahmu pun sesuai dengan yang tubuhku butuhkan.

Saking kalapnya, aku lupa bahwa keberadaanmu merupakan cinta. Karena engkaulah, tentara imun tidak berontak di mana-mana. Aku pun lupa bahwa karena engkaulah gulda dalam darahku akan tetap stabil selama aku menjalani puasa. Ooh, ternyata tanpa jasamu, aku takkan mampu untuk beribadah kepada-Nya.

Parahnya, aku pun melupakan peranmu sebagai ‘dokter kulit’ bagiku. Karena engkaulah, kulitku tidak menjadi setebal kulit badak, karena engkau memiliki peran untuk mengendalikan pertumbuhan kulit. Ya, kelak anak istriku takkan malu-malu amat untuk berjalan denganku. hehe

Engkau pun menerangi jendela duniaku. Sungguh, aku betul-betul tidak merasakan cintamu. Karena cintamulah, aku bisa melihat dengan jelas sampai sekarang. Karena tanpamu, sedari kecil aku mungkin telah mengalami katarak. Takkan mampu melihat indahnya dunia dan wajah-wajah orang yang kusayang.

Mungkin, engkau cemburu pada sahabatmu, yang selalu kuagung-agungkan keberadaanya. Seolah, dialah pusat dari segala kehidupan. Ya, aku termabukkan olehnya. Aku mabuk oleh keberadaanya. Aku mabuk oleh keberadaan endorphin.

Memang betul, dan tak bisa dipungkiri, bahwa dialah yang mampu menghilangkan rasa sakit. Bahkan, para pejuang dulu pun berani tidak mati karena rasa takut akan sakit itu telah ditekan olehnya. Namun, aku pun melupakan satu hal, bahwa keberadaannya yang sangat banyak di tubuhku pun akan mampu menimbulkan masalah.

Seperti yang kau tahu, aku memang terbius oleh keberadaan endorphin. Sehingga aku pun kalap bahwa endorphin adalah narkotik yang diproduksi oleh tubuh kita sendiri. Dampaknya secara berlebihan, ya kita bisa fly, betul-betul terbius oleh keberadaannya. Dan seolah berada di surga.

Padahal, akan sangat berbahaya bila jumlahnya sangat banyak di tubuh kita. Dia akan menjadi pelacur jalanan. Dia akan akan menggoda pembuluh darah kita, sehingga fungsi dia untuk mendeteksi gas darah pun akan berkurang.Padahal, fungsi deteksi ini sangat penting untuk kelangsungan hidup kita, yaitu bernapas. Maka apa yang terjadi bila pembuluh darahku terayu oleh sang pelacur? Darah itu akan penuh dengan CO2, dan sangat dekatlah kita akan kemataian. Layaknya orang yang meninggal saat mengonsumsi narkotik secara berlebih, melayanglah nyawanya karena gas darahnya penuh CO2.

Maka, kortisol, sungguh aku baru mengerti akan ayat ini

QS Al-Anbiyaa (21) : 90

$uZö6yftGó$$sù ¼çms9 $uZö6ydurur ¼çms9 4Ózóstƒ $oYósn=ô¹r&ur ¼çms9 ÿ¼çmy_÷ry 4 öNßg¯RÎ) (#qçR$Ÿ2 šcqãã̍»|¡ç Îû ÏNºuŽöyø9$# $oYtRqããôtƒur $Y6xîu $Y6yduur ( (#qçR%Ÿ2ur $uZs9 šúüÏèϱ»yz ÇÒÉÈ

90. Maka Kami memperkenankan doanya, dan Kami anugerahkan kepada nya Yahya dan Kami jadikan isterinya dapat mengandung. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. dan mereka adalah orang-orang yang khusyu' kepada kami.

Bilamana engkau akan muncul bila aku merasakan cemas, dan endorphin akan muncul saat aku merasakan harap. Ya, intinya keberadaan yang optimal adalah keberadaan saat kalian akur, saat kalian harmonis, itulah keadaan optimal bagi tubuhku. Ya, agar saat senang aku tak terlampau senang, dan saat sedih pun aku tak terlampau sedih.

Maafkan aku kortisol, dan sungguh terima kasih. Dan semoga engkau bercumbulah selalu dengan endorphin. Jagalah selalu tubuhku dari dalam sana. Sampaikan salam dan cintaku pada tetanggamu yang lain.

Salam cinta,

Ikhsanun Kamil Pratama

replay #3

0komentar
1 Januari 2011

Tanggal ini merupakan tanggal yang sangat bersejarah bagiku. Sebuah kenangan pahit yang ingin kututup rapat-rapat dalam kotak Pandora. Sebuah kenangan yang ‘dulu’ terjadi antara aku dan ibuku tersayang. Aku betul-betul sangat menyayanginya, sang ratu dalam hatiku.

Entahlah, diriku selalu berubah menjadi seorang yang melankolis begitu mengingatnya, apalagi bertemu dengannya. Walaupun memang, aku adalah orang yang sangat suslit untuk menampilkan perasaan ini. Sungguh tidak sebanding dengannya, yang dimana derap cinta dan kasih selalu diperlihatkannya padaku. Bahkan, saat ayah telah tiada pun, dan memang akulah anak lelaki satu-satunya, aku tak mampu untuk mengekspresikan cintaku padanya. Biarlah, yang penting cinta di hati ini takkan pernah padam akan apapun.

Namun, harus terjadi kembali untuk kedua kalinya bagiku. Betapa perih yang kurasa, pilu yang kuderita. Sesak menerjang dadaku. Buliran tangis pun tak mampu tuk kubendung. Pada hari ini, pukul 01.00 WIB, ibu telah kembali ke pangkuan-Nya, diiringi oleh riuh gemuruh terompet awal tahun baru. Mungkin, suasana tahun baru ini merupakan perayaan kematian ibuku. Sekaligus, perayaan akan keberhasilanku untuk mengucapkan ‘aku sayang dirimu, ibu. Aku sangat sayang dirimu……’

SYUUUT….. JELEGEEER

Suara kembang api itu begitu terdengar di rumah sakit tempat Ibuku wafat, tepat setelah aku mengucap cinta kepadanya. Selamat Dimas, 2011 adalah perayaan ekspresi cinta pada ibumu, pikirku. Entahlah, begitu mudahnya aku mengucap cinta pada Bilqis, istriku di kehidupan pertama, namun sungguh sulit untuk mengungkap cinta pada ibu. Apakah karena sebetulnya aku tak mencintainya? Atau, karena cintaku padanya terlalu besar sehingga sulit untuk kuungkapkan? Aku sangat berharap opsi yang kedua. Namun, aku tak mampu tuk berharap banyak.

Siangnya, Ibu akhirnya dikebumikan.


**

Tak tentu apa perasaanku saat ini. Sungguh, aku lupa bahwa aku telah kembali pada usia 20 tahun. Dan sungguh, karena aku cukup syok akan kondisi ‘kehidupan ketiga’ku, aku banyak melupakan hal yang sangat penting. Atau bisa diterjemahkan, aku betul-betul lupa akan keluargaku. Aku lupa akan kematian ibuku.

Sejak kehidupan ketigaku dimulai, jujur, aku betul-betul hanya menjadi kura-kura yang bersembunyi dalam kamar kosanku. Ketokan tetangga pun tak kuhiraukan. Hanya telepon saja yang tak bisa kuelak. Dan sungguh kaget aku saat Karin, adikku, menghubungiku tentang ibuku yang mendapat serangan jantung pada sorenya. Kontan, aku sangat kaget dan melesat langung menuju rumah sakit.

Namun, kedatanganku tak berarti apa jua. Lagi-lagi, untuk kedua kalinya aku kehilangan orang yang kusayang, Manusia yang sangat berharga untukku telah tiada, dan bayangkanlah, hal ini terjadi dua kali kepadaku.

**

2 Januari 2011

Entahlah, rasa apa yang menderapku hari ini. Sungguh, aku tak mampu menjelaskannya. Apakah mungkin karena syok? Padahal, aku merupakan dokter spesialis jantung. Apakah, di kehidupan keempatku kelak aku mampu untuk menyelamatkannya?

Apakah, hari ini juga perlu bagiku untuk kembali menjalani kehidupan keempat? Pikiran ini mengalir sebagai arus listrik otakku.

Atau, apa mungkin aku iri kepada ibuku. Betapa ‘nyamannya’ dia beristirahat dengan tenang. Betapa rindunya aku akan kematian. Betapa tak ingin kujalani hidup berulang kali.

Pada keheningan malam, kembali aku bermesraan dengan-Nya. Berharap eagar ibuku selalu tenang berada di sisi-Nya. Tak lupa, aku pun berdoa, untuk terlepas dari kutukan kehidupan berulang ini. Ya, aku pun mendoakan kematian untukku.

Apa yang akan kau lakukan bila kau mampu hidup berulang kali?
Ada kesalahan di dalam gadget ini
 

Ikhsanun Kamil Pratama © 2010

Blogger Templates by Splashy Templates