
Kamis, 10 Februari 2011
love my cardiac

mengisi kekosongan
Selasa, 04 Januari 2011
Surat Cinta untuk Kortisol
Ah, kortisol, maafkan aku. Ternyata diriku selama ini terlalu memojokkanmu. Terlalu meng-antagoniskan dirimu dalam tubuhku. Sehingga, aku selalu luput untuk melihat kebaikan-kebaikan yang kau tebar dalam tubuhku.
Dan endorphin, tolong maafkan aku. Aku terlalu mengidolakanmu. Aku terlalu mengagung-agungkan dirimu. Aku terlalu mendewakan dirimu. Aku terlalu mengangkat tinggi-tinggi peranmu pada tubuhku, sehingga tanpa sadar aku pun luput melihat sisi gelap dari dirimu. Tolong, maafkan saya.
Wahai kortisol, kepadamu aku memohon maaf. Selama ini, aku selalu menuduhmu bahwa kehadiran dirimu melemahkan para tentara imun dalam tubuhku, sehingga dapat menyebabkan mudahnya aku terserang infeksi dan mudahnya pemberontakan-pemberontakan yang bernama tumor itu muncul. Atau, gelar ‘hormon stress’ juga merupakan tuduhan terberatku padamu. Aku kalap. Aku lupa akan satu hal, bahwa hal-hal buruk itu terjadi bilamana jumlahmu sangat banyak di tubuhku. Takkan terjadi bila jumlahmu pun sesuai dengan yang tubuhku butuhkan.
Saking kalapnya, aku lupa bahwa keberadaanmu merupakan cinta. Karena engkaulah, tentara imun tidak berontak di mana-mana. Aku pun lupa bahwa karena engkaulah gulda dalam darahku akan tetap stabil selama aku menjalani puasa. Ooh, ternyata tanpa jasamu, aku takkan mampu untuk beribadah kepada-Nya.
Parahnya, aku pun melupakan peranmu sebagai ‘dokter kulit’ bagiku. Karena engkaulah, kulitku tidak menjadi setebal kulit badak, karena engkau memiliki peran untuk mengendalikan pertumbuhan kulit. Ya, kelak anak istriku takkan malu-malu amat untuk berjalan denganku. hehe
Engkau pun menerangi jendela duniaku. Sungguh, aku betul-betul tidak merasakan cintamu. Karena cintamulah, aku bisa melihat dengan jelas sampai sekarang. Karena tanpamu, sedari kecil aku mungkin telah mengalami katarak. Takkan mampu melihat indahnya dunia dan wajah-wajah orang yang kusayang.
Mungkin, engkau cemburu pada sahabatmu, yang selalu kuagung-agungkan keberadaanya. Seolah, dialah pusat dari segala kehidupan. Ya, aku termabukkan olehnya. Aku mabuk oleh keberadaanya. Aku mabuk oleh keberadaan endorphin.
Memang betul, dan tak bisa dipungkiri, bahwa dialah yang mampu menghilangkan rasa sakit. Bahkan, para pejuang dulu pun berani tidak mati karena rasa takut akan sakit itu telah ditekan olehnya. Namun, aku pun melupakan satu hal, bahwa keberadaannya yang sangat banyak di tubuhku pun akan mampu menimbulkan masalah.
Seperti yang kau tahu, aku memang terbius oleh keberadaan endorphin. Sehingga aku pun kalap bahwa endorphin adalah narkotik yang diproduksi oleh tubuh kita sendiri. Dampaknya secara berlebihan, ya kita bisa fly, betul-betul terbius oleh keberadaannya. Dan seolah berada di surga.
Padahal, akan sangat berbahaya bila jumlahnya sangat banyak di tubuh kita. Dia akan menjadi pelacur jalanan. Dia akan akan menggoda pembuluh darah kita, sehingga fungsi dia untuk mendeteksi gas darah pun akan berkurang.Padahal, fungsi deteksi ini sangat penting untuk kelangsungan hidup kita, yaitu bernapas. Maka apa yang terjadi bila pembuluh darahku terayu oleh sang pelacur? Darah itu akan penuh dengan CO2, dan sangat dekatlah kita akan kemataian. Layaknya orang yang meninggal saat mengonsumsi narkotik secara berlebih, melayanglah nyawanya karena gas darahnya penuh CO2.
Maka, kortisol, sungguh aku baru mengerti akan ayat ini
QS Al-Anbiyaa (21) : 90
$uZö6yftGó$$sù ¼çms9 $uZö6ydurur ¼çms9 4Ózóst $oYósn=ô¹r&ur ¼çms9 ÿ¼çmy_÷ry 4 öNßg¯RÎ) (#qçR$2 cqããÌ»|¡ç Îû ÏNºuöyø9$# $oYtRqããôtur $Y6xîu $Y6yduur ( (#qçR%2ur $uZs9 úüÏèϱ»yz ÇÒÉÈ
90. Maka Kami memperkenankan doanya, dan Kami anugerahkan kepada nya Yahya dan Kami jadikan isterinya dapat mengandung. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. dan mereka adalah orang-orang yang khusyu' kepada kami.
Bilamana engkau akan muncul bila aku merasakan cemas, dan endorphin akan muncul saat aku merasakan harap. Ya, intinya keberadaan yang optimal adalah keberadaan saat kalian akur, saat kalian harmonis, itulah keadaan optimal bagi tubuhku. Ya, agar saat senang aku tak terlampau senang, dan saat sedih pun aku tak terlampau sedih.
Maafkan aku kortisol, dan sungguh terima kasih. Dan semoga engkau bercumbulah selalu dengan endorphin. Jagalah selalu tubuhku dari dalam sana. Sampaikan salam dan cintaku pada tetanggamu yang lain.
Salam cinta,
Ikhsanun Kamil Pratama
replay #3
Tanggal ini merupakan tanggal yang sangat bersejarah bagiku. Sebuah kenangan pahit yang ingin kututup rapat-rapat dalam kotak Pandora. Sebuah kenangan yang ‘dulu’ terjadi antara aku dan ibuku tersayang. Aku betul-betul sangat menyayanginya, sang ratu dalam hatiku.
Entahlah, diriku selalu berubah menjadi seorang yang melankolis begitu mengingatnya, apalagi bertemu dengannya. Walaupun memang, aku adalah orang yang sangat suslit untuk menampilkan perasaan ini. Sungguh tidak sebanding dengannya, yang dimana derap cinta dan kasih selalu diperlihatkannya padaku. Bahkan, saat ayah telah tiada pun, dan memang akulah anak lelaki satu-satunya, aku tak mampu untuk mengekspresikan cintaku padanya. Biarlah, yang penting cinta di hati ini takkan pernah padam akan apapun.
Namun, harus terjadi kembali untuk kedua kalinya bagiku. Betapa perih yang kurasa, pilu yang kuderita. Sesak menerjang dadaku. Buliran tangis pun tak mampu tuk kubendung. Pada hari ini, pukul 01.00 WIB, ibu telah kembali ke pangkuan-Nya, diiringi oleh riuh gemuruh terompet awal tahun baru. Mungkin, suasana tahun baru ini merupakan perayaan kematian ibuku. Sekaligus, perayaan akan keberhasilanku untuk mengucapkan ‘aku sayang dirimu, ibu. Aku sangat sayang dirimu……’
SYUUUT….. JELEGEEER
Suara kembang api itu begitu terdengar di rumah sakit tempat Ibuku wafat, tepat setelah aku mengucap cinta kepadanya. Selamat Dimas, 2011 adalah perayaan ekspresi cinta pada ibumu, pikirku. Entahlah, begitu mudahnya aku mengucap cinta pada Bilqis, istriku di kehidupan pertama, namun sungguh sulit untuk mengungkap cinta pada ibu. Apakah karena sebetulnya aku tak mencintainya? Atau, karena cintaku padanya terlalu besar sehingga sulit untuk kuungkapkan? Aku sangat berharap opsi yang kedua. Namun, aku tak mampu tuk berharap banyak.
Siangnya, Ibu akhirnya dikebumikan.
**
Tak tentu apa perasaanku saat ini. Sungguh, aku lupa bahwa aku telah kembali pada usia 20 tahun. Dan sungguh, karena aku cukup syok akan kondisi ‘kehidupan ketiga’ku, aku banyak melupakan hal yang sangat penting. Atau bisa diterjemahkan, aku betul-betul lupa akan keluargaku. Aku lupa akan kematian ibuku.
Sejak kehidupan ketigaku dimulai, jujur, aku betul-betul hanya menjadi kura-kura yang bersembunyi dalam kamar kosanku. Ketokan tetangga pun tak kuhiraukan. Hanya telepon saja yang tak bisa kuelak. Dan sungguh kaget aku saat Karin, adikku, menghubungiku tentang ibuku yang mendapat serangan jantung pada sorenya. Kontan, aku sangat kaget dan melesat langung menuju rumah sakit.
Namun, kedatanganku tak berarti apa jua. Lagi-lagi, untuk kedua kalinya aku kehilangan orang yang kusayang, Manusia yang sangat berharga untukku telah tiada, dan bayangkanlah, hal ini terjadi dua kali kepadaku.
**
2 Januari 2011
Entahlah, rasa apa yang menderapku hari ini. Sungguh, aku tak mampu menjelaskannya. Apakah mungkin karena syok? Padahal, aku merupakan dokter spesialis jantung. Apakah, di kehidupan keempatku kelak aku mampu untuk menyelamatkannya?
Apakah, hari ini juga perlu bagiku untuk kembali menjalani kehidupan keempat? Pikiran ini mengalir sebagai arus listrik otakku.
Atau, apa mungkin aku iri kepada ibuku. Betapa ‘nyamannya’ dia beristirahat dengan tenang. Betapa rindunya aku akan kematian. Betapa tak ingin kujalani hidup berulang kali.
Pada keheningan malam, kembali aku bermesraan dengan-Nya. Berharap eagar ibuku selalu tenang berada di sisi-Nya. Tak lupa, aku pun berdoa, untuk terlepas dari kutukan kehidupan berulang ini. Ya, aku pun mendoakan kematian untukku.
Apa yang akan kau lakukan bila kau mampu hidup berulang kali?
Sabtu, 18 Desember 2010
Replay #2
Api yang membara menghasilkan abu yang lemah dan dingin
Itulah keberadaan seorang manusia. Meskipun bersemangat tinggi, meskipun berkekuatan bagai Hercules, wujud aslinya hanyalah sesuatu yang lemah dan dingin. Karena itulah, keberadaan orang sekitar sangat dibutuhkan seorang manusia agar api semangat tak terpadamkan. Meskipun ada saja orang yang senang menyendiri, namun ia pasti takluk melawan kesendirian.
Begitu pula denganku. Kehilangan sang matahari, Bilqis, bagiku merupakan pukulan sangat telak bagiku. Meskipun secara teoritis, karena aku seorang muslim, aku sangat sadar bahwa Allah selalu meliputi diriku, bahwa Allah sangat dekat denganku, dan tak ada yang perlu ditakutkan apabila ‘backingan’ku adalah Allah. Bara apiku pasti tertahan dan takkan menciptakan abu karena ada-Nya. Namun sulit bagiku untuk mengaplikasikannya. Ah, ternyata selama ini aku hanya berteori!! Apa yang kukisahkan kepada orang-orang sekitarku tentang ‘merasakan Allah’ hanya bualan semata.Tidak seperti junjunganku, Rasulullah SAW, yang mengisahkan kebaikan melalui perbuatannya. Ini adalah buktinya. Aku merasa sangat jauh dengan-Nya, bahkan tidak merasakan keberadaan-Nya.
‘Kenapa aku terlahir kembali?? Ya Allah, aku sangat berharap bahwa ini hanyalah MIMPI’
Sungguh aneh memang. Di saat banyak orang yang takut akan kematian, justru aku sangat mengharapkan kematian. Kehidupan ini laksana neraka bagiku.
Terngiang ucapan terakhir Bilqis padaku tempo hari, ‘AKU BENCI KAMU, DIMAS!!’. Membuatku menjadi abu yang lebih dingin dari semula. Sangat kacau pikiranku malam ini. Entah kenapa kejadian tempo hari semakin membuatku rindu akan sesuatu yang bernama kematian. Rindu ini telah menjalar ke seluruh tubuhku, telah mengalir dalam pembuluh darahku, telah mengalir dalam seluruh pembuluh syarafku, sehingga seluruh tubuhku pun serasa telah kompak hanya ingin merasakan satu, yaitu KEMATIAN.
Tanpa pikir panjang, kucari gunting dalam rak bukuku. Dan tangan kananku telah menggenggam gunting, dan kutusukkan gunting itu kepada bagian dadaku, tepat menikam jantungku, dan kutahan teriakku.
Aku bisa merasakan jantungku yang denyutnya semakin pelan saja. Segarnya oksigen pun tak kurasakan lagi. Sakit yang amat sangat terasa di seluruh tubuhku. Tak ingin lagi aku mengalami rasa ini untuk ketiga kalinya. Mungkin aku telah mati. Namun, apa batas ‘hidup’ dan ‘mati’? Sampai akhir hidup pun tak kutahu apa definisinya, meskipun aku telah bertahun-tahun mendalami ilmu kedokteran. ‘Aah sudahlah, aku sudah mati’, pikirku.
Mengapa?? Mengapa pada kematianku aku masih bisa secara sadar memikirkan definisi ‘hidup’ dan ‘mati’??
Kembali, aku terbangun di tempat yang gelap. Secara spontan, aku menyalakan lampu tempat gelap ini. Betapa kagetnya aku. Ternyata aku kembali pada kehidupanku tepat kemarin. Kondisi kamar kosku sangat mirip dengan kemarin, saat aku menjalani hidup yang kedua. Aku semakin terpuruk dalam ketakutanku…
Seperti kejadian ‘kemarin’, Dino pun mengetuk kamarku untuk membangunkanku untuk shalat subuh berjamaah. Namun, saking takutnya, aku tidak merespon panggilannya. Mungkin, aku telah mengalami sakit jiwa. Ah apa itu jiwa? Hal ini pun tak terdefinisikan dengan jelas pada disipilin ilmu yang kudalami. Yang jelas, sepertinya aku sakit. Sakit yang tak terdefinisikan.
**
Teman-teman sekosanku dan teman-teman kampusku mungkin sangat heran melihat Dimas yang seperti ini. Dimas yang mereka kenal adalah seorang muslim yang, di pandangan mereka, tangguh. Penebar keceriaan, penular semangat, dan pemimpin yang luar biasa. Itulah aku, Dimas. Tapi, itu adalah Dimas 20 tahun lalu.
Aneh mungkin memang, entah kekuatan apa dan darimana yang dapat membuatku bergerak menuju kampus. Walaupun, di kampus aku bagaikan zombie. Dengan tertunduk lesu, aku pun menuju ruang tutor. Kejadian ‘kemarin’ pun terulang hari ini. Sosok bintangku, muncul kembali di hadapanku. Namun kali ini, saking lemasnya, aku tak mendekapnya seperti yang kulakukan padanya kemarin.
‘Mas, kamu gak enak badan? Ke klinik dulu atuh.’
Suara merdu itu memanggilku. Suara yang penuh kecemasan itu menyappaku. Ya, itu suara Bilqis. Kulihat air mukanya pun ternyata memancar kekhawatiran yang luar biasa. Itu sedikit menjadi obat bagiku.
‘Gak apa-apa kok’, balasku sembari tersenyum padanya.
Aku tahu, dari kesaksian Bilqis sendiri padaku saat 20 tahun lalu ia masih menjadi istriku, bahwa ia ‘saat ini’ memendam rasa cinta padaku, begitu pula denganku. Namun kami memendam rasa ini seperti Ali dan Fatimah.
Namun, aku memutuskan tak ingin miliki rasa bahagia yang setinggi langit bersamanya, karena aku tak siap untuk jatuh kedua kalinya dari tempat setinggi itu.
Aku cukup senang pada hari ini karena Allah sedikit menitipkan obat penyakitku melalui Bilqis. Mentalku sedikit demi sedikit kembali terbangun, api semangatku kembali membara, siap untuk menggerakkan lokomotif baja sekalipun barang ini lebih berat dari api sekali pun. Walau cukup sedih bagiku bahwa aku melepas kesempatanku untuk bersama Bilqis.
Pada kehidupan ini, aku hanya ingin menyibukkan diriku pada berbagai macam kegiatan sosial. Sebuah suntikan semangat untuk selalu bermanfaat bagi sekitar.
Bilqis, inilah jalanku!!
**
Malam hari, aku betul-betul tak bisa tidur. Menyadari kebodohanku sebodoh-bodohnya, mengapa aku bunuh diri ‘kemarin’?? Parah!! Aku telah menjadi makhluk yang lebih rendah daripada hewan!! Setahuku, tidak ada di dunia ini yang bunuh diri, kecuali hewan, atau bahkan lebih rendah daripada itu, yang bernama Dimas!!
Ya, aku sungguh-sungguh bertaubat. Taubatan Nasuha. Takkan kuulangi lagi kejadian ‘kemarin’. Bilamana yang menimpaku ini adalah ujian, maka aku akan menjalani ujian ini semampuku. Kehidupan ini merupakan ajangku untuk bersyukur
Simaklah jalan hidupku…!!
Bagaimana engkau memaknai hidupmu??
To be continue…
Terinspirasi novel 'Replay'
karangan Ken Grimwood






