Jumat, 30 Maret 2012

Burung beo pak Ustadz

0komentar

Sebutlah ada seorang ustadz yang memelihara burung beo. Ustadz ini memiliki kesenangan tersendiri saat memelihara burung beo. Begitu telatennya ia memelihara burung beo seolah anaknya sendiri, dan bahkan ia pun mengajarkan lafal syahadat kepada burung beo, ‘asyhadu an-laa ilaaha illallaah’.

Satu hari berlalu, belum mampu sama sekali sang beo untuk mengucapkan lafal syahadat tersebut. Tak terasa, seminggu pun berlalu, sudah bisa sedikit meskipun belum lancar. Dan butuh waktu kurang lebih 2 minggu untuk si beo tersebut mampu dengan lancar mengucapkan lafal syahadat. Sang ustadz pun bangga karena rasanya burung beo mana yang mampu berucap syahadat selain burung beo miliknya.

Entah mengapa, pada suatu hari, sang burung beo pun lepas dari kadang dan ia terbang bebas dari penjaranya. Paniklah sang ustadz, dan dicarinya burung kesayangannya itu kemana-mana. Walhasil, ia melihat burung beonya sedang bertengger di tanah. Sayangnya, di sana ada seekor anjing yang siap untuk menerkam sang burung.

HAAPPP…..

Diterkamlah burung itu oleh sang anjing. Sang burung hanya mengeluarkan ringkihannya bahkan saat ia menjelang kematiannya, bukan syahadat yang telah ia pelajari selama dua minggu.


Maka, adakah perbedaan spesifik antara dirimu dan burung beo tersebut? Kira-kira, bagaimana kelak akhir hidup kita? Apa ya yang kan terucap?

Minggu, 18 Maret 2012

Argo Taksi

1 komentar
24 Februari 2012

Hari itu betul-betul menguras tenagaku. Bayangkan saja, sejak sebulan sebelumnya, aku telah berencana untuk mengisi workshop hipnoterapi medik yang berada di tanah borneo sana, yaitu Samarinda. Namun, jadwal judicium yang begitu mendadak dari fakultas, membuatku dan para panitia di sana melakukan reschedule dengan cukup kilat. Walhasil, workshop pun diundur menjadi hari sabtu. Namun tetap saja, pesawat pada bandara soekarno hatta takkan berkompromi untuk menunggu kehadiranku di hadapannya. Ia menungguku pada jam 4 sore.

Maka, pada pagi di hari itu, aku pun dengan langkah seribu bergegas menuju Jatinangor, menuju kampusku untuk secara formalitas mengambil hasil nilaiku selama 3.5 tahun berkuliah di sana, kemudian bergegas menuju Primajasa di daerah Buah Batu. Judicium baru berakhir pada jam 9 pagi, sementara Primjas pun kan berangkat jam 11 menuju bandara. Pikirku, bagaimana mungkin bisa sampai 2 jam dari Jatinangor menuju primjas? Bandung kan sekarang kota yang cukup macet.

Beruntungnya, aku terhindar dari keterlambatan karena secara kebetulan, ada taksi yang baru saja mengantar seorang dosen ke Unpad. Win-win solution nih, buatku dan pak supir taksi!! Maka, berangkatlah diriku dengan taksi si burung ini.

Luar biasa, supir taksi si burung biru ini begitu ramaah luar biasa. Bahkan, bagiku yang seorang introvert sekalipun, ia gemar berkisah begitu indah, sehingga diriku pun hanyut terbawa kisahnya. Kita berkisah akan banyak hal, mulai dari pekerjaan, keluarga, pendidikan, bahkan candaan-candaan ringan.

Entah mengapa, tiba-tiba saja timbul rasa penasaran akibat rasa kaget yang amat sangat. Kuperhatikan sebuah argo taksi, yang entah mengapa kok berubahnya cepet banget waktu di jalan tol? Waswas tentunya diriku takut kalau ongkosnya kurang!!

Namun juga, unik, di daerah Buah Batu yang begitu macet, seolah argo berhenti. Hal ini yang bikin diriku penasaran, dan bertanyalah aku tentang bagaimana kerja argo taksi ini.



Ternyata ooh ternyata, argo ini memiliki dua mode utama:
1. perhitungan melalui waktu, yang hanya akan bergerak apabila taksi berhenti seperti di lampu merah, atau nungguin penumpangnya lagi ambil uang di atm, misalkan. Untuk mode berhenti ini, kalau taksi berhenti selama satu jam, bisa mencapai nilai Rp 30rb.
2. Perhitungan melalui jarak, yang akan bergerak melalui jarak tempuh.

Meskipun terkesan simpel, namun hal ini begitu menarik bagiku. Bayangkan, bila hidup kita di-argo, sepertinya sesuatu yang dinamakan 'waktu' akan sangat berharga bagi kita. Selama ini, boleh jadi kita tak menganggap 'waktu' sebagai sesuatu yang berharga karena waktu merupakan barang GRATIS. Tentunya, akan sangat berbeda orang yang menganggap waktu sebagai barang yang gratis dan mereka yang menganggap waktu sebagai alat untuk menjadikan dirinya menjadi JAUH LEBIH BAIK lagi.

Banyak sekali, orang-orang di sekitar yang berleha-leha terhadap waktu yang ia miliki. Dengan dalih 'Ah, masih muda ini', begitu banyak orang yang tidak melakukan apa-apa. Seperti diriku beberapa tahun lalu, yang begitu senangnya menghabiskan waktu hanya untuk melakukan rutinitas harian tanpa adanya perubahan ke arah yang lebih baik.

Dengan merasa waktu sebagai barang yang gratis, boleh jadi diri ini pun sering sekali melakukan sebuah penundaan. Padahal, penundaan hanyalah menanti kehancuran dalam hidup. 'Ah, nyari duit mah nanti aja kalo udah lulus', 'ah, nyari duit mah nanti aja klo udah jadi dokter', 'ah, nikah mah nanti aja klo udah jadi'. Bagaimana kalau tiada nanti? Ah, pantaslah kalau dalam Al-Quran pun Allah berfirman 'Demi waktu, sesungguhnya manusia berada dalam kerugian.'

Bila hidup di-argo dalam mode 2, mode jarak. Ternyata, jarak tempuh itu begitu dihargai. Tentunya, 'jarak tempuh' masing-masing orang berbeda-beda. Jarak tempuh kehidupan seseorang, yang biasa kita sebut sebagai sejarah kehidupan, ternyata begitu berharga.

Betapa bodohnya diriku ketika ditanya 'kehidupanmu sejauh ini gimana?', dan kujawab 'nothing special'. Wow, ternyata selama ini diriku tidak begitu menghargai 'jarak tempuh' yang telah kulakukan selama 21 tahun ini.

Kalau melihat kisah 'Negeri 5 menara' karangan Ahmad Fuadi, kok bisa sih novel ini begitu booming bahkan sampai difilmkan? Karena dalam pandanganku, beliau adalah salah satu orang yang begitu menghargai 'jarak tempuh'nya. Silakan lihat dan cari, ada berapa buku sih yang mengisahkan tentang 'jarak tempuh' seseorang? Bila nih, bila seluruh orang di dunia menghargai dan menuliskan 'jarak tempuh'nya, belum tentu 'Negeri 5 Menara' bisa menjadi booming seperti ini. Boleh jadi, kisah hidupmu yang jadi booming loh.

Namun nyatanya? Ya, karena sang penulis Negeri 5 Menara begitu menghargai 'jarak tempuhnya' yang mampu membuat karyanay booming. Ternyata, menjadi booming itu mudah ya, karena pesaingnya begitu sedikit. hehe.

jadi memang terasa banget ya bahwa memang bangsa yang besar itu adalah bangsa yang menghargai sejarahnya, menghargai 'jarak tempuh'nya. Maka, aku penasaran bagaimana hebatnya seseorang yang begitu menghargai waktu sebagai media tumbuhkembang serta sekaligus menghargai kisah hidupnya sendiri, akan menjadi orang besar seperti apa ya? Apakah engkau salah satunya?
Ada kesalahan di dalam gadget ini
 

Ikhsanun Kamil Pratama © 2010

Blogger Templates by Splashy Templates