Minggu, 26 Juni 2011

Rahman

0komentar

Wahai kekasih,,

Tak salah Tuhan titipkan ‘rasa’ ini dalam hatiku padamu,,

Engkau curahkan sifat rahman-mu padaku,,

Mencairkan kebencian dalam hati,,

Dan menyentuh kalbuku dengan lembutnya,,

Membuatku tersadar,,

Betapa Maha Rahman Allah, yang telah menitipkan sebagian kecil sifat rahman-Nya padamu

Sehingga ku tak sanggup membayangkan, seberapa Rahman Allah…

Ya Allah Ya Rahman

Sungguh, aku cinta kamu karena Allah

Karena kau telah mendekatkanku pada-Nya

Ya Allah, muliakanlah ia kelak di sisi-Mu selalu



(sepotong cinta dari rumah Allah)

26 Juni 2011

Rabu, 22 Juni 2011

Perfeksionis is Bullshit

0komentar

Seringkali kita menunggu kesempurnaan untuk melakukan sesuatu….

Padahal kesempurnaan kan didapat apabila kita MELAKUKAN terlebih dahulu....

Sungguh, kejadian ini yang kualami dulu, tepatnya pada awal tahun 2010. Saat saya dan teman-teman saya memutuskan untuk membentuk sebuah lembaga training.

Apa yang kami lakukan saat itu? Bingung mencari-cari konsep tentang kemana lembaga ini harus dibawa, bagaimana dengan pergi ke notaris, bagaimana dengan SWOT dari masing-masing kita, dan seterusnya. Saat itu, saya begitu dipusingkan dengan yang namanya 'kesempurnaan lembaga'.

Apa dampaknya dari kejadian itu? Ya, saya menganggur selama 1 tahun. Bayangkan kawan, 1 TAHUN!! 1 tahun saya hanya duduk termenung tidak melakukan apa-apa.

Sampai pada awal tahun 2011, pada acara Youth Empowerment Congress yang digelar oleh tim kang Harri n d'geng, saya banyak bertanya-tanya kepada kang Harri, bertemu dengan kang Surya. Dan ternyata, menjadi trainer sangat mudah. Guess what?

Ya, keberanian untuk TERJUN terlebih dahulu. Ternyata caranya sangat mudah. Pada awal tahun 2011, saya bersama teman-teman saya langsung saja beraksi untuk membuka sebuah public training.Padahal, hal-hal yang semula kupertanyakan pada awal tahun 2010 BELUM ADA SAMA SEKALI. Saya pribadi baru mengajak teman-teman saya dan berkata 'eh, tanggal X event pertama kita ya'. Belum terbentuk visi misi lembaga, belum melakukan analisa SWOT SDM. Yang pasti apa yang saya lakukan adalah TERJUN terlebih dahulu.

Layaknya saya yang dulu belajar untuk berenang. Apa yang terjadi kalau saya harus menunggu asupan teori tentang cara belajar yang renang seperti apa, tentang bagaimana cara perenang tingkat dunia berenang, lalu menunggu saya harus bisa berenang dulu baru berenang? Ternyata memang, saya harus NYEMPLUNG terlebih dahulu. Memang pada awalnya saya pasti tenggelam, namun justru bukankah dengan tenggelam kita menjadi belajar dan menjadi pribadi yang lebih baik lagi? Ya, saat belajar berenang ini, saya menjadi seorang yang PROGRESIONIS, yang senantiasa memperbaiki diri dan menjadi lebih baik lagi.

Karena itulah, menurut saya PERFEKSIONIS merupakan kualitas TERENDAH dalam kehidupan, karena ia harus menunggu semua sempurna, seperti diri saya pada awal tahun 2010. Lantas apa yang didapat? KOSONG. Dengan menjadi seorang PROGRESIONIS, saya belajar nyata dari apa yang saya alami. Saya mendapatkan hasil walaupun bernilai 1, yang dimana pada kemudian hari saya tingkatkan menjadi 2, karena sebuah evaluasi tentunya. Sebuah evaluasi secara terus-menerus yang insya Allah kan didapat nilai 100, walau saya yakin bahwa kesempurnaan hanya milik Allah SWT semata.


Jadi perfeksionis?? No Way!!

Progresionis?? It's my Way!!



'Lebih baik membersihkan toilet umum daripada berwacana setinggi langit'

-Ikhsanun Kamil Pratama, CH, CHt, CI-

Brain Booster of Primordia

Trainer special berbasis medis

specialized in human empowerment, health, and education

National Certified Hypnotist, Hypnotherapist, and Instructor

Selasa, 21 Juni 2011

Tukang Parkir

0komentar

Hei, engkau tahu? Ternyata saya sangat mengagumi sebuah profesi yang tidak asing lagi kita. Sebuah profesi yang sering kita lihat sering berada di pinggir jalan. Ya, profesi itu adalah sang tukang parkir.

Tentu pekerjaannya setiap hari adalah menjaga mobil yang menumpang di daerah ‘jajahannya’. Tergantung seberapa luas jajahannya, tentu saja mobil yang dititipkannya pun akan semakin banyak. Dan mobil yang dititipkan pun bervariasi. Ada yang biasa saja bahkan mungkin bisa sampai yang berharga milyaran, mobil yang sangat mewah.

Kemudian, setelah itu tentulah sang pengemudi akan kembali mengaqmbil mobil miliknya, dan sebagai apresiasi kepada sang tukang parkir, diberikanlah upah dari usahanya menjaga mobil.

Mungkin sekilas kita melihat bahwa kerja sang tukang parkir hanya ‘begitu’ saja. There’s nothing special. Namun ternyata, dibalik kesederhanaan kerjanya, saya menemukan sebuah kebijaksanaan yang rumit, sebuah kebaikan yang luar biasa halusnya. Profesi tukang parkir membuat saya menjadikan profesi ini sebagai cita-cita. Ya, saya ingin menjadi tukang parkir, tukang parkir kehidupan!!

Lihatlah bagaimana indahnya tukang parkir bekerja. Segala yang datang hanyalah titipan. Mobil-mobil berharga 30 juta-an sampai yang paling mewah sekali pun, ternyata itu hanyalah tumpangan bagi sang tukang parkir, yang tentu saja bisa kapan saja diambil kembali oleh sang pengemudi. Pada kasus ini, sang tukang parkir pun tak pernah mengaku-aku bahwa mobil yang menumpang di jajahannya adalah miliknya. Namun, ia sadar sepenuhnya bahwa semua mobil yang menumpang hanyalah titipan.

Saking sadarnya akan titipan, ia pun betul-betul menjaga mobil yang berada di jajahannya. Takkan ia biarkan dileceti orang lain atau dirinya sendiri. Takkan ia biarkan si mobil terdzalimi oleh pihak manapun, termasuk dirinya sendiri.

Begitu pun dengan hidup kita. Ternyata kita pun adalah seorang tukang parkir. Begitu banyak ‘mobil’ yang parkir di daerah kita. Mulai dari organ tubuh kita sampai menuju sel-selnya, orang-orang yang kita cintai, dari apa yang kita konsumsi, apa yang kita gunakan, apa yang kita beli, ternyata semuanya hanyalah ‘mobil’ yang parkir dalam kehidupan kita. Yang dimana, tentunya Sang Pengemudi bisa mengambilnya kapan pun.

Entahlah, kita takkan tahu kapan Sang Pengemudi mengambil ‘mobil’ yang ‘parkir’ di kehidupan kita. Sampai kapan kita masih mampu merasakan tangan kita bergerak, kaki kita, ginjal kita, bahkan mungkin jantung kita, kita takkan tahu sampai kapan.

Orang-orang yang berada di sekitar kita, kita pun takkan tahu kapan Sang Pengemudi akan kembali mengambilnya. Begitu pula dengan harta, makanan, dan apapun yang semua hanya parkir dalam hidup kita. Kita takkan tahu.

Lantas bagaimana dengan kita?

Apakah iya, tubuhmu adalah milikmu? Sehingga engkau dengan santai merusak dan merusak tubuhmu sendiri dengan gaya hidup yang kurang menyehatkan?

Apakah iya, orang yang kau cinta adalah milikmu? Sehingga engkau layak menjadi orang yang demikian posesif?

Apakah iya, harta yang kau dapatkan adalah milikmu? Sehingga engkau mampu menggunakannya sesukamu, memanjakan nafsumu?

Karena hal inilah, saya sangat ingin menjadi seorang tukang parkir kehidupan. Apa-apa yang dititipkan, ingin kujaga sebaiknya. Dan memang saya harus siap kapan mobil-mobil kehidupanku diambil kembali oleh Sang Pengemudi. Biarlah kelak Sang Pengemudi memberikan upah yang sepantasnya kelak, saat mobil-mobil kehidupanku mulai pergi dari area jajahanku J



Rabu, 01 Juni 2011

Integritas

0komentar
'dokter kok sakit? makannya kok begitu? tidak mencerminkan hidup sehat!!'
said my mom Yatie Holizain waktu sy makannya masih 'amburadul'

'Cara untuk menyentuh hati adalah dengan menyampaikan apa-apa yang SUDAH dilakukan', said my bro Harri Firmansyah R

ditag notes 'Antara Lidah, Perkataan, dan Perbuatan' ama kang Surya Kresnanda


hhe ternyata, integritas adalah never-ending learning buatku :)

bagaimana berintegritas sebagai seorang muslim yang senantiasa bersyahadat
bagaimana berintegritas sebagai seorang pemuda yang memiliki banyak impian
bagaimana berintegritas sebagai seorang trainer yang mengajarkan apa yang telah dilakukan
bagaimana berintegritas sebagai seorang dokter yang senantiasa mengajak untuk hidup sehat


Yang penting adalah berintegritas.

Walk the talk and Talk The Walk

Jalankan apa yang diucapkan dan ucapkan apa yang telah dijalankan :)
Bukankah ini adalah tantangan untuk mendapatkan ridha-Nya? :)
Ada kesalahan di dalam gadget ini
 

Ikhsanun Kamil Pratama © 2010

Blogger Templates by Splashy Templates